Karena Terkadang, Pahit Justru yang Paling Menyembuhkan

Santy Diliana
Chapter #1

Aku Nika, Si Kalkulator Berjalan

"Di Jakarta, kita minum kopi tidak untuk menikmati rasanya. Kita meminumnya agar detak jantung tetap lebih cepat daripada deadline yang mengejar di belakang, dan agar kewarasan kita tidak tertinggal di peron stasiun yang penuh sesak oleh lautan manusia."

***

Pukul 03.45 WIB.

Alarm di ponselku berhenti berteriak setelah entah berapa kali aku memencet tombol snooze. Aku mengerang pelan, kelopak mataku terasa seberat batu yang digunakan ibu untuk mengganjal pintu depan. Aku mengerjap, menatap langit-langit kamarku yang dihiasi noda bekas bocoran air hujan yang telah mengering, membentuk pola pulau-pulau antah-berantah yang sering kupandangi saat melamun. Namun, pulau-pulau itu kini tak lagi sekadar noda kuning kecokelatan. Di bagian tengahnya, warna itu telah berubah menjadi hitam pekat yang bertekstur, menyebar seperti akar yang busuk.

Black mold. Aku pernah membaca di salah satu artikel kesehatan yang lewat di beranda ponselku, bahwa spora jamur hitam itu berbahaya bagi paru-paru. Seharusnya plafon itu diganti, atau setidaknya dikerok dan dicat ulang dengan cairan anti-jamur. Tapi bagiku, selama atap itu belum akan rubuh menimpa kepalaku, memperbaiki plafon adalah kemewahan yang harus mengalah pada biaya kuliah Elsan, adik laki-lakiku semata wayang.

Untuk kesekian kali, aku menghirup udara kamar yang terasa sedikit lembap itu dengan pasrah, membiarkan racun itu masuk perlahan ke dada, sama seperti aku membiarkan tekanan hidup menggerogoti kewarasanku. Aku lantas menoleh ke sudut kamarku yang berukuran hanya dua kali tiga meter. Sebuah lemari plastik yang pintunya sudah tidak bisa menutup rapat karena engselnya patah berdiri di pojok, berdesakan dengan meja lipat kayu yang penuh dengan tumpukan berkas kantor dan beberapa paket barang jastipan yang sudah rapi terbungkus bubble wrap, siap dikirim sore nanti.

Aku beranjak bangun, duduk di pinggir kasur tipisku yang sudah mulai terasa pegasnya di punggung. Kontrakan petak ini hanya memiliki dua kamar yang dipisahkan oleh sekat tembok tipis yang bahkan tidak sanggup meredam suara batuk. Kamarku terletak tepat di sebelah kamar Ibu. Di balik dinding itu, aku bisa mendengar suara kasur kayu yang berderit atau gumaman doa Ibu yang sedang memulai ritual paginya. Sementara itu, jauh di Bandung, Elsan sedang mengisi kamar kos sempit untuk mengejar gelar sarjana teknik yang biayanya membuat tabunganku selalu menyentuh angka nol.

Aku melangkah keluar menuju kamar mandi di area dapur, membasuh wajahku dengan air bak yang sedingin es, kemudian berwudhu. Lalu di atas sajadah usang di sudut kamar, aku bersujud. Pagi ini aku tidak meminta hal muluk, aku hanya meminta agar kakiku kuat berdiri di KRL hari ini dan kepalaku tidak meledak oleh angka-angka spreadsheet.

Selesai melipat mukena, aku bergerak cepat. Tidak ada waktu untuk sekadar merenggangkan otot yang kaku. Aku segera mandi, guyuran air dingin dari bak mandi plastik yang terasa menusuk tulang justru membantu mengusir sisa kantuk yang membandel.

Sepuluh menit kemudian, aku sudah berdiri di depan cermin kecil yang buram di kamarku. Hari ini aku mengenakan kemeja bahan polyester warna biru langit yang sudah tipis di bagian siku, dipadukan dengan celana bahan hitam yang warnanya mulai memudar menjadi abu-abu tua. Aku menyapukan bedak tabur tipis-tipis di wajahku, sekadar agar tidak terlihat seperti orang yang baru saja bangun dari mimpi buruk.

Aroma gurih santan, serai, dan daun salam mulai menusuk indra penciumanku saat aku melangkah ke dapur. Di luar, langit Bojonggede masih biru pekat, namun dapur kontrakanku sudah mengepulkan uap hangat yang lembap. Itu adalah aroma kerja keras Ibuku yang sudah terjaga sejak pukul dua pagi untuk menyiapkan dagangan nasi uduk.

Aku berdiri di depan kompor gas, menatap air yang mulai berbuih di dalam panci kecil. Aku sudah siap berangkat, tas ranselku sudah bertengger di salah satu bahu, dan sepatu flatshoes-ku sudah terparkir di dekat pintu. Di tengah kepulan uap dapur, aku menyobek satu sachet kopi instan yang kubeli seharga dua ribu perak, menuangkannya ke dalam botol minum plastik yang permukaannya sudah penuh goresan.

"Nik, uang kontrakan jangan lupa, ya? Kemarin Pak Haji nagih lagi." Suara Ibu terdengar dari balik kepulan asap nasi uduk, serak dan penuh beban.

"Iya, Bu. Nika usahain, ya."

"Sama itu..." Ibu terdiam ragu sejenak.

Oh Tuhan... apalagi? Aku tahu, setelah ini pasti akan ada permintaan susulan.

"Elsan bilang butuh uang buat praktikum. Katanya 300 ribu. Ada, Nak? Kalau nggak ada, Ibu coba pinjam ke Tante Euis."

Aku memejamkan mata sejenak. Kepalaku mulai berdenyut bahkan sebelum matahari benar-benar terbit. Kata "pinjam" dari Ibuku adalah kode halus untuk "utang baru atas namaku".

"Ada, Bu kalau 300. Nggak usah pinjem ke Tante Euis. Nggak enak."

"Alhamdulillah... nanti langsung transfer aja ke Elsan ya. Kasihan dia kalau nggak bisa ikut praktikum."

Lihat selengkapnya