Karena Terkadang, Pahit Justru yang Paling Menyembuhkan

Santy Diliana
Chapter #2

Tangga Fana dan Angka-Angka

"Kita baru benar-benar menjadi dewasa saat menyadari bahwa kalimat 'tidak ada uang' dari orang tua kita dulu, bukanlah sebuah penolakan penuh kesengajaan, melainkan sebuah luka yang mereka sembunyikan rapat-rapat."

***

Perjalanan dari stasiun menuju gedung kantorku adalah maraton kecil lainnya. Aku berjalan cepat di trotoar yang mulai dipenuhi asap knalpot dan deru mesin kendaraan yang tak sabar. Sinar matahari pagi mulai terasa menyengat di kulit, tapi aku tidak peduli. Mataku terus melirik jam di pergelangan tangan. Di kantor ini, setiap lima menit keterlambatan adalah potongan gaji yang nyata, dan aku tidak sanggup kehilangan seribu rupiah pun hanya karena langkah yang terlalu santai.

Aku berjalan setengah berlari di antara barisan gedung kaca yang angkuh. Bangunan-bangunan yang permukaannya begitu mengkilat hingga aku bisa melihat betapa kusamnya kemeja yang kupakai. Aku mendekap tas ransel di dada dan mencengkeram tote bag jastipanku erat-erat, seolah-olah jika aku lengah sedikit saja, kota ini akan merampas semua yang kupunya.

Di sini, aku hanyalah satu dari ribuan semut pekerja yang sedang bertaruh nasib, mendaki tangga karier yang fana sambil berharap anak tangga yang kupijak tidak mendadak patah. Tapi sialnya, di Jakarta ini, gedung-gedung tumbuh jauh lebih cepat daripada angka di tabunganku, dan ekspektasi keluarga di rumah tumbuh jauh lebih tinggi daripada jenjang karierku yang seolah jalan di tempat.

Begitu aku menapakkan kaki di lobi gedung yang lantainya mengkilap seperti cermin, aku segera mengatur napas. Udara dingin dari AC sentral menyergap, mengeringkan sisa keringat di leherku dalam sekejap. Aku baru saja hendak melangkah menuju barisan lift ketika sebuah suara ceria menghentikan langkahku.

"Nika! Ya ampun, barengan!"

Aku menoleh. Clara berdiri di sana, tampak segar dengan blus sutra berwarna pastel yang jatuh sempurna di tubuhnya. Ia hanya menenteng sebuah tas mungil dari rumah mode ternama. Tas yang ukurannya bahkan tidak cukup untuk menampung kotak bekalku, apalagi beban hidup yang sedang kupanggul.

"Eh, Ra," sapaku sambil memaksakan senyum.

Clara melirik tote bag kain yang kupeluk erat. "Berat banget kayaknya. Jastipan, ya?"

"Iya, nih," jawabku singkat sambil menempelkan kartu pegawai di gerbang sensor.

Kami masuk ke dalam lift yang penuh sesak oleh orang-orang wangi. Di dalam kotak besi yang bergerak naik itu, aku merasa sangat kecil di samping Clara. Dia sedang bercerita tentang drama kencannya semalam di sebuah lounge mewah di Senopati, sementara fokusku terbagi menjadi tiga: menjaga agar tas branded di tanganku tidak terhimpit, mendengarkan ocehan Clara, dan membalas rentetan pesan di grup jastip.

"Gila ya, masa dia pesen wine yang harganya dua juta per botol cuma buat pamer doang? Padahal gue lebih pengen pasta-nya," oceh Clara sambil memperbaiki riasan di kaca lift.

Aku hanya mengangguk-angguk, mencoba terlihat menyimak meski jemariku bergerak lincah di layar ponsel. Dua juta per botol. Otak kalkulatorku langsung bekerja: dua juta itu bisa membayar biaya praktikum Elsan dan menyicil tunggakan uang kontrakan hingga lunas. Tapi bagi Clara, itu hanyalah sebuah anekdot makan malam yang membosankan.

Sambil terus mendengarkan, aku sempat memotret ujung tas branded yang sedang kubawa. Hanya detail kecil untuk meyakinkan pelanggan baru di grup WhatsApp bahwa barang mereka aman. Lalu, aku mengetik balasan cepat kepada tiga orang berbeda yang menanyakan jadwal live shopping sore nanti. Di tengah goyangan lift dan hiruk-pikuk obrolan orang kantor, aku tampak seperti operator darurat yang tidak boleh melewatkan satu detik pun tanpa menatap layar.

Clara memperhatikanku. Ia melihat betapa sibuknya jemariku dan betapa waspadanya aku menjaga tas titipan itu. Begitu pintu lift terbuka di lantai 15, ia menepuk bahuku pelan.

"Eh, tapi gue bingung deh, lo tuh dapet energi dari mana sih?" Clara menatapku dengan tulus, ada sedikit rasa kagum di matanya. "Kerja oke, jastipan jalan terus. Gue aja yang nggak ada sambilan sering ngerasa pengen resign tiap Senin."

Aku tersenyum tipis, menyimpan ponsel ke dalam saku kemeja. Energi itu nggak datang dari motivasi, Ra. Energi itu datang dari ketakutan liat saldo ATM dan tekanan kebutuhan hidup, batinku.

Kami berjalan menuju kubikel masing-masing. Begitu sampai di mejaku, aku segera menyelinapkan tote bag itu ke bawah meja, jauh dari jangkauan kaki. Sebagai Junior Finance Officer, mejaku selalu dipenuhi tumpukan kuitansi reimbursement dan layar monitor yang menampilkan barisan sel Excel yang tak berujung dan menuntut konsentrasi.

Tiga jam kemudian, fokusku terasa mulai goyah saat angka-angka di layar laptop kantor tampak kabur, efek kurang tidur dan kafein sachet yang mulai habis masa berlakunya. Saat itulah ponselku bergetar lagi. Elsan mengirim pesan lagi.

"Mbak, belum ya? Aku udah nego, jam 3 sore terakhir bayar. Temen-temen yang lain udah pada lunas."

Aku menatap layar ponsel yang kini gelap, tapi isi chat Elsan seolah masih berpijar di sana, membakar sisa kesabaranku. Tiga ratus ribu. Jam tiga sore. Aku menyandarkan punggung ke kursi, memejamkan mata, dan entah kenapa, memori belasan tahun lalu mendadak menyeruak dari sudut ingatan yang paling gelap.

***

Aku melihat diriku yang berusia enam belas tahun, berdiri di depan pintu kamar Bapak dan Ibu dengan wajah cemberut dan mata sembap. Aku baru saja pulang sekolah setelah namaku dipanggil lewat pengeras suara karena belum melunasi SPP selama tiga bulan. Rasanya telinga ini panas, harga diriku seperti dipreteli di depan teman-teman sekelas.

"Kenapa sih, Bu? Aku kan nggak pernah minta tas baru kayak teman-teman. Aku juga nggak pernah minta ikut nongkrong di mal. Aku cuma mau bayar sekolah! Kenapa buat sekolah aja susah banget?" teriakku saat itu. Suaraku melengking, penuh dengan ego remaja yang merasa paling menderita.

Saat itu, aku merasa duniaku sangat tidak adil. Aku merasa sudah menjadi anak yang paling pengertian sedunia karena sudah menurunkan standar pergaulanku serendah mungkin. Aku memakai sepatu yang solnya sudah dilem berkali-kali, aku membawa botol minum saat teman lain memesan es teh manis. Namun kenapa urusan dasar seperti biaya sekolah pun aku harus menanggung malu?

Bapak hanya terdiam. Beliau duduk di tepi kasur sambil menunduk dalam, tangannya yang kasar dan penuh kapalan meremas pinggiran sprei yang sudah pudar warnanya. Ibu sibuk mengaduk nasi di dapur, tapi punggungnya yang bergetar memberitahuku bahwa dia sedang menangis tanpa suara di balik uap masakan. Tidak ada jawaban dari mereka, hanya kesunyian yang mencekik.

Ternyata, tidak ada yang lebih menyakitkan bagi seorang tulang punggung selain harus mengakui ketidakberdayaannya di depan orang-orang tersayang yang menyandarkan hidup padanya. Rasa bersalah itu kini menghantamku balik, telak dan menyakitkan. Aku sekarang adalah Bapak. Aku sekarang adalah Ibu. Dan Elsan adalah aku yang dulu, yang menuntut haknya dengan suara lantang, yang merasa dunia harus berputar sesuai kebutuhannya, tanpa pernah mau tahu bahwa tangki kakaknya sudah kering kerontang hingga ke dasar.

Lihat selengkapnya