Karena Terkadang, Pahit Justru yang Paling Menyembuhkan

Santy Diliana
Chapter #3

Sif Kedua dan Rahasia Anak Bungsu

"Di kota ini, jarak antara kemewahan dan keputusasaan hanya sejauh jembatan penyeberangan. Kau bisa berada di lobi marmer pada satu menit, dan terjebak di antara polusi serta rintik hujan pada menit berikutnya."

***

Pukul 17.15 WIB.

Bagi sebagian besar orang yang bekerja di menara-menara kaca SCBD, ini adalah jam untuk melepas penat, menutup laptop dengan sisa tenaga, atau sekadar mengeluh soal kemacetan di dalam taksi daring. Tapi bagiku, ini adalah bunyi peluit dimulainya "sif kedua". Tubuhku mungkin sudah lelah, tapi sistem sarafku baru saja beralih ke mode survival yang lebih tinggi.

Alih-alih melangkah ke arah stasiun, aku berbelok menyeberang ke mal melalui JPO yang penuh sesak oleh arus manusia. Di pundakku, ransel berisi laptop dan kotak bekal kosong masih terasa berat, ditambah beban tote bag berisi tas pesanan pelanggan Makassar yang sejak pagi tadi kusembunyikan di bawah meja kerja. Benda itu telah membuatku waswas sepanjang jam kantor, dan kini saatnya melepaskannya.

Tujuan pertamaku: gerai ekspedisi di lantai dasar mal.

Setelah melalui proses pengecekan, tas bernilai jutaan itu akhirnya resmi berpindah tangan ke kurir. Aku segera melunasi biaya asuransi dan mengirimkan foto nomor resi kepada pelangganku di Makassar. Satu beban fisik dan tanggung jawab besar baru saja terangkat dari pundakku, namun daftar misiku sore ini masih sangat panjang.

Di dalam saldo rekeningku sekarang ada sekitar tujuh setengah juta rupiah uang panas yang sedang "numpang lewat". Lima juta milik pelanggan Surabaya yang sudah tidak sabar menunggu tas pesanannya dan dua setengah juta dari Clara untuk menebus sepatu lari incarannya. Angka-angka itu terus berputar di kepalaku, menuntut untuk segera ditukarkan menjadi barang fisik sebelum toko tutup. Membawa saldo jutaan di saat perutku sendiri hanya diganjal croissant mungil nan mahal dan nasi uduk bekal dari Ibu, adalah ironi yang harus kutelan setiap hari.

Aku lantas bergerak cepat, menembus arus orang-orang yang mulai memadati koridor mal, menuju gerai barang branded lainnya.

"Mbak Nika! Wah, tepat waktu," sambut petugas toko yang sudah hafal jadwal kedatanganku.

Proses transaksi itu berlangsung cepat tapi tegang. Aku harus memastikan tidak ada cacat sekecil debu pun pada kulit tasnya. Setelah menggesek kartu, aku memeluk kotak tas itu. Kini, tas pesanan pelanggan Surabaya sudah di tangan. Tapi perjalananku belum usai. Aku masih punya janji pada Clara dan puluhan pengikut di grup jastipku.

Aku melangkah menuju area sportswear. Ponselku sudah tertancap di powerbank yang suhunya mulai menghangat di saku tas. Di depan gerai sepatu olahraga merek ternama, aku berhenti sejenak untuk menarik napas dan memperbaiki ikat rambutku yang mulai longgar.

Pemandangan di dalam toko ini telah banyak berubah dalam beberapa tahun terakhir. Dulu, pramuniaga di sini akan menatap sinis siapa pun yang masuk hanya untuk memotret label harga atau melakukan siaran langsung. Tapi sekarang, ekonomi sedang tidak baik-baik saja. Penjualan barang mewah lesu, dan merek-merek high-end ini akhirnya dipaksa "turun gunung". Mereka butuh angka penjualan, dan para jastiper adalah napas buatan bagi target bulanan mereka.

Sekarang, pemandangan seorang wanita yang berdiri di depan rak sambil memegang ponsel di depan wajah adalah hal lumrah. Bahkan, di gerai kosmetik mewah sebelah, aku sempat melihat seorang SPG yang melakukan siaran langsung TikTok secara resmi dari balik etalase lipstik mereka. Era eksklusivitas sudah mati. Sekarang adalah era siapa yang paling cepat menciptakan transaksi di keranjang kuning atau grup WhatsApp.

"Mas Aris, sepatu pesanan yang soft pink tadi udah dipisahin, kan?" tanyaku pada salah satu pramuniaga yang sudah sangat mengenalku karena intensitas kunjunganku yang hampir tiap minggu.

"Aman, Mbak Nika. Sudah saya simpan di gudang belakang, ukuran 38 kan? Mbak mau live sekarang?" jawab Aris ramah. Ia bahkan membawakanku sebuah standing mirror agar sudut pandang kameraku lebih oke.

Aku mengangguk cepat dan menekan tombol Go Live. Dalam sekejap, wajah lelahku tertutup oleh filter TikTok yang membuatku tampak segar kembali. Selama empat puluh menit berikutnya, aku berubah menjadi orang lain. Aku bukan lagi Nika si staf finance yang kaku. Aku adalah Nika si personal shopper yang ceria, yang tahu detail setiap jenis bantalan sol sepatu hingga teknologi kain penyerap keringat.

"Halo Kakak-kakak semua, selamat sore! Kita lagi ada di store ya, ini lagi banyak sale sampai lima puluh persen. Yuk, yang mau titip langsung komen aja!"

Aku mengarahkan kamera ke deretan rak yang penuh warna. Sesuai dugaanku, bukan hanya sepatu yang jadi incaran. Di toko seperti ini, barang-barang pelengkap adalah "recehan" yang paling cepat closing.

"Ayo Kak, ini kaus kaki isi tiga pasang, lagi super diskon, harganya cuma seratus ribu! Bahannya tebel, enak buat lari. Ada warna hitam, putih, sama abu-abu. Siapa cepat dia dapat!" seruku ke arah kamera. "Oh, ini ada tas serut juga ya, sisa dua warna navy. Cocok banget buat bawa baju ganti, handuk olahraga, sama tumbler."

Hasilnya lumayan. Tujuh paket kaus kaki bundle, dua tas serut, tiga handuk olahraga, dan satu buah topi, terjual hanya dalam hitungan menit. Untuk barang-barang pelengkap seperti ini, aku memang tidak mengambil fee besar, paling hanya berkisar 20 sampai 50 ribu rupiah saja per barang, tergantung harga aslinya. Prinsipku satu: harga jualku plus fee jastip tidak boleh melampaui harga normal barang tersebut saat tidak sedang diskon.

Meski receh, kalau dikalikan beberapa barang, aku sudah mengantongi tambahan yang lumayan di luar pesanan utama. Di dunia jastip, mengabaikan barang-barang kecil adalah kesalahan besar. Tumpukan recehan inilah yang sering kali menjadi penyelamat di saat kritis, seperti saat token listrik di rumah tiba-tiba berteriak di tengah malam, atau saat Ibu panik karena gas melon habis, tepat ketika ia sedang memasak dagangan untuk besok pagi.

Dengan uang jastipan kecil-kecil ini, aku bisa menutup lubang-lubang kebutuhan domestik yang sifatnya mendadak tanpa perlu mengusik gaji utamaku yang sudah "terplot" ketat untuk cicilan dan biaya kuliah Elsan.

Aku segera meminta Aris membungkus semuanya. Kini, aku benar-benar menyerupai pohon natal berjalan. Di satu bahu ada tas Surabaya, di tangan lainnya ada sepatu Clara, dan di dalam tas belanjaku kini bertambah tumpukan kaus kaki, tas serut, handuk, dan topi hasil live tadi. Berat, tapi tiap gram beban di pundakku ini punya nilai nominal yang menenangkan.

Saat itulah, ketika aku sedang mengatur napas dan memeriksa nota belanja, aku melihat bayangan pria di ujung rak sepatu pria. Aksa.

Lihat selengkapnya