"Hidupku adalah tentang menambal lubang yang satu dengan tanah dari lubang yang lain. Aku tidak pernah benar-benar memiliki apa pun. Aku hanya memindahkan beban dari pundak kiri ke pundak kanan. Di tengah kesibukan yang sering kali tidak masuk akal ini, jatuh cinta terasa seperti sebuah kesalahan kalkulasi yang tidak akan pernah sanggup kuperbaiki."
***
Hari gajian bagi sebagian (besar) warga Jakarta adalah perayaan semu yang sering kali berlangsung kurang dari dua puluh empat jam. Di pagi hari, notifikasi masuk dari aplikasi bank terasa seperti embusan napas segar yang menyusup ke paru-paru, memberikan ilusi bahwa hidup baik-baik saja. Namun, di sore hari, angka-angka itu sudah menguap, terbagi-bagi ke berbagai pos yang sudah menganga: cicilan-cicilan, tagihan listrik, uang kuliah Elsan, hingga "dana darurat" yang sebenarnya tidak pernah benar-benar darurat karena selalu habis terpakai untuk menambal lubang harian.
Bagiku, istilah 'darurat' telah kehilangan kesakralannya. Ia tak lagi merujuk pada kejadian luar biasa, melainkan menjadi nama lain dari hari-hariku yang biasa. Di rumahku, setiap hari adalah keadaan darurat yang menuntut tumbal dari dompetku. Di dalam buku catatan keuanganku, pada kolom 'kebutuhan pribadi', aku selalu menulis angka nol. Bukan karena aku tidak memiliki keinginan atau kebutuhan sebagai manusia, tapi karena aku tahu, setiap rupiah yang kuhabiskan untuk diriku adalah satu langkah lebih dekat bagi keluargaku menuju jurang.
Dan, sialnya, gajian kali ini terasa jauh lebih menyesakkan. Alih-alih merasakan sisa angka yang bisa kutitipkan di tabungan, saldo gajianku justru langsung kuserahkan kembali pada kerasnya roda usaha. Begitu notifikasi masuk, angka itu hanya singgah sebentar karena sebagian besar langsung kutransfer ke kasir toko dan beberapa SPG langgananku untuk menebus pesanan jastip konsumen yang sudah masuk.
Aku terpaksa mendahulukan modal dari kantong pribadi karena beberapa pelanggan baru lebih memilih bertransaksi lewat marketplace demi keamanan. Artinya, uang gajian yang seharusnya menjadi napasku, kini harus "disekap" dulu oleh sistem pihak ketiga sampai barang-barang itu sampai di tangan pelanggan dan mereka menekan tombol 'Pesanan Diterima'. Aku sedang berjudi dengan waktu, berharap nantinya mereka tidak lupa menekan tombol itu, atau setidaknya tidak ada komplain yang membuat pencairan uangku tertunda lebih lama lagi.
Di tengah rasa pening memikirkan arus kas yang macet dan deretan angka di layar monitor, aku sering kali mendapati diriku berhenti sejenak hanya untuk mengistirahatkan mata. Dan entah sejak kapan, titik istirahat bagi mataku itu selalu berujung pada satu titik yang biasanya luput dari radarku: kubikel IT Support di ujung lorong.
Sejak kejadian wedang ronde dan jaket parasut di tengah badai itu, aku mulai melakukan apa yang Aksa lakukan padaku: memperhatikan pola. Aku baru sadar bahwa Aksa selalu datang tepat pukul 07.45 WIB. Ia tidak pernah mampir ke kedai kopi mahal di lobi. Ia membawa tumbler satu liter yang selalu ia isi ulang di dispenser dekat pantri setiap jam sepuluh pagi. Caranya berhemat begitu presisi, begitu terukur, sehingga aku bisa melihat bayangan diriku sendiri dalam setiap langkah kecilnya untuk bertahan hidup.
Dari meja divisiku, aku juga jadi sering kali mencuri pandang saat ia sedang bekerja. Aku memperhatikan bagaimana jemarinya bergerak lincah di atas keyboard saat ada keluhan sistem, seolah ia sedang menari dengan barisan kode. Dan setiap kali ia berhasil menyelesaikan masalah yang rumit, ia akan menghela napas panjang, melepas kacamata berbingkai hitamnya, lalu memijat pangkal hidung dengan gerakan lambat yang entah kenapa terlihat sangat melelahkan sekaligus... menenangkan.
Penyakit memperhatikan pola ini lantas membawaku pada sebuah kesadaran baru: ternyata tempat yang paling sering mempertemukan kami, selain di ruang kerja dan pantry, adalah musholla kecil di lantai empat. Aku baru menyadari bahwa selama ini kami mungkin sudah puluhan kali berpapasan di sana, hanya saja dulu aku tidak pernah benar-benar "melihatnya". Aku terlalu sibuk dengan urusanku sendiri, terlalu terburu-buru mengejar deadline sampai menganggap orang-orang di sekitarku hanyalah latar belakang yang kabur.
Pernah suatu kali, seusai shalat, aku melihat Aksa sedang berdiri di depan pintu musholla. Ia tidak langsung pergi, melainkan sibuk merapikan barisan sandal yang berantakan dengan ujung sepatunya, sebuah kebiasaan kecil yang menurutku menunjukkan sifat aslinya yang rapi dan peduli pada hal-hal yang biasanya luput dari perhatian orang lain. Saat ia mendongak dan menyadari kehadiranku, ia hanya tersenyum tipis. Lalu kami kemudian berjalan bersisian menuju lift dan naik bersama-sama
Perlahan, frekuensi interaksi kami meningkat secara alami. Kami menjadi semakin dekat tanpa perlu banyak usaha yang dipaksakan. Kadang, kami terlibat obrolan santai saat papasan di pantry, sekadar membicarakan betapa padatnya lautan manusia di kereta pagi tadi, atau mengomentari semakin tidak masuk akalnya harga makanan di kantin gedung ini. Di waktu lain, saat divisiku dan divisinya harus bekerja bersama untuk sinkronisasi data akhir bulan, Aksa sering kali menjadi orang yang paling sabar menghadapi keluhanku soal sistem yang lambat. Kedekatan itu terbangun di antara sela-sela kesibukan, sebuah kenyamanan yang tumbuh dari rasa senasib sebagai sesama pejuang ekonomi keluarga.
Gestur-gestur kecil itu mulai masuk ke radarku secara tidak sehat. Aku yang biasanya sangat benci interaksi di luar urusan pekerjaan, kini mulai mencari-cari alasan. Kadang, saat aku butuh menarik data ledger tahunan yang berat dan sistem mulai melambat, aku tidak lagi mengumpat pada layar. Sebaliknya, aku meraih gagang telepon dan menekan nomor ekstensi IT dengan jantung yang berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya.
"Sistemnya agak lag, Sa," ucapku suatu siang, mencoba menjaga intonasi suaraku agar tetap sedingin es, khas orang Finance.
"Tunggu dua menit, Nik. Gue refresh jalurnya dari sini. Jangan dipaksa klik dulu, nanti malah hang," jawabnya.
Suaranya di telepon terdengar lebih berat dan tenang, memberikan rasa aman yang ganjil. Aku memperhatikan punggungnya dari kejauhan. Ia tidak menoleh, tapi aku bisa melihat bahunya bergerak sedikit saat ia mengetikkan perintah di terminal perintahnya.
"Udah, coba refresh sekarang," lanjutnya.
Aku menekan tombol F5. Data ribuan baris itu muncul dalam sekejap. "Oke, udah masuk. Thanks, Sa."
"Sama-sama. Jangan lupa minum, Nik. Gue liat botol minum lo masih penuh dari tadi pagi."
Klik. Telepon ditutup.
Aku terpaku, menatap gagang telepon di tanganku. Bagaimana dia bisa tahu? Aku melirik ke ujung lorong dan mendapati Aksa sedang sibuk kembali dengan monitornya, seolah kalimat tadi hanyalah pesan otomatis dari program komputer.