"Jatuh cinta pada orang yang memiliki beban yang sama beratnya bukan lagi sebuah romansa, melainkan rencana untuk tenggelam bersama-sama. Di dunia para tulang punggung, cinta seharusnya menjadi pelampung, bukan pemberat yang mempercepat tarikan gravitasi menuju dasar laut."
***
Tekanan itu tidak berhenti di kantor. Dunia seolah bersekongkol untuk membuktikan bahwa kekhawatiran Clara bukan sekadar isapan jempol. Saat akhir pekan tiba, realita menghantamku tepat di ulu hati lewat tumpukan tagihan yang tidak mau kompromi.
Minggu siang itu, situasi di rumah semakin rungsing. Langit mendung pekat, persis seperti suasana hatiku. Elsan baru saja menelepon, suaranya terdengar panik karena motor yang ia gunakan untuk ke kampus setiap hari turun mesin. Biayanya tidak main-main, hampir satu setengah juta rupiah. Padahal, uang gajianku baru saja kupakai untuk membayar token listrik yang habisnya berbarengan dengan gas serta kebutuhan dapur dan modal belanja jastip karena uangku masih tertahan di saldo marketplace.
Belum lagi tunggakan kontrakan sebesar 2,2 juta rupiah yang sudah berkali-kali ditagih. Itu adalah akumulasi sewa bulan ini dan tunggakan bulan lalu yang belum bisa kulunasi. Dan aku sudah kehabisan alasan untuk sekadar meminta penangguhan. Bagiku, rumah petakan dua kamar yang sudah bocor di sana-sini ini bukan sekadar tempat berteduh, tapi juga saksi bisu betapa tipisnya batas antara memiliki tempat tinggal dan menjadi gelandangan jika aku salah melangkah sedikit saja.
Sejujurnya, jika kehidupan berjalan normal tanpa beban tambahan, gaji kantorku lebih dari cukup untuk sekadar membayar sewa kontrakan 1,1 juta per bulan. Namun, sejak Elsan berhasil menembus ITB dua setengah tahun lalu, garis hidupku berubah total. Sebagian besar gajiku tersedot tanpa sisa untuk kebutuhannya di Bandung, mulai dari kos, biaya makan, transportasi, hingga urusan kampus seperti praktikum dan tumpukan modul yang harganya sering kali membuatku menahan napas.
Namun, setiap kali aku merasa ingin menyerah, aku selalu mengingatkan diriku sendiri bahwa ini adalah masa-masa menanam. Aku hanya perlu bersabar sedikit lagi sampai masa panen itu tiba. Elsan memiliki kecerdasan di atas rata-rata; dia adalah tiket kami untuk keluar dari kemiskinan ini. Jika kuliahnya selesai dalam tiga semester lagi, bebanku akan sedikit lebih ringan. Aku percaya, kelak masa depan kami akan secerah otak cemerlang adikku itu.
Untuk saat ini, aku hanya perlu bertahan. Meski rasanya, setiap lubang yang kucoba tambal selalu melahirkan lubang baru yang menganga jauh lebih besar.
Sayangnya, dunia tidak memberiku ruang untuk meratap terlalu lama. Aku bahkan tidak punya kemewahan untuk sekadar mengunci diri di kamar dan menangisi saldo bankku. Di tengah kepeningan itu, aku harus tetap memasang wajah "baik-baik saja" demi menemani Ibu ke acara arisan keluarga besar di rumah Tante Euis. Ibu sudah menyiapkan baju terbaiknya sejak pagi, dan aku tidak tega merusak satu-satunya kebahagiaan yang ia punya hanya karena keluhanku soal uang kontrakan.
Sepanjang acara, kepalaku berdenyut hebat, sebuah simfoni rasa sakit yang bersahut-sahutan dengan deru tagihan di pikiranku. Aku memilih duduk di pojok ruangan, mencoba mengabaikan suara tawa sepupu-sepupuku yang sedang sibuk memamerkan gawai terbaru atau rencana liburan mereka. Di mata mereka, aku adalah Nika yang sukses karena bekerja di gedung pencakar langit. Mereka tidak tahu bahwa di balik kemeja rapi ini, aku sedang menghitung berapa hari lagi aku bisa bertahan dengan sisa beras di dapur.
"Nika, kerja di SCBD ya sekarang? Hebat ya," Tante Euis memulai, suaranya melengking di antara bude dan tante yang sedang asyik mengunyah rempeyek. "Umur kamu sudah mau kepala tiga, kan? Kapan mau kasih kabar baik ke Ibu? Kasihan Ibumu kalau harus nunggu lama."
Aku hanya tersenyum kaku, tanganku meremas ujung kain pelapis sofa.
"Rezeki mah sudah ada yang atur, Nik. Menikah itu justru membuka pintu rezeki, jangan terlalu banyak hitung-hitungan," timpal Tante Lastri, tanteku yang lain, sambil tersenyum tipis, seolah-olah beban hidup bisa menguap hanya dengan kalimat motivasi basi.
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan api di dadaku. Senyumku tetap kupasang, senyum paling sopan yang bisa kuberikan kepada orang tua.
"Iya, Tante, Nika percaya rezeki itu ada jalannya masing-masing," jawabku selembut yang kubisa. "Cuma untuk sekarang, rezeki Nika sepertinya memang dititipin Tuhan, khusus buat jagain Ibu sama biaya kuliah Elsan dulu. Nika takut kalau dipaksakan nikah sekarang, fokus Nika jadi kebagi. Nika belum tenang kalau belum selesai tugasnya di rumah."
Suasana di pojok ruangan itu mendadak hening. Tante Euis dan Tante Lastri tidak menyangka aku akan menjawab dengan membawa nama tanggung jawab keluarga. Mereka saling lirik, kehilangan kata-kata untuk mendebat argumen "anak berbakti".
"Ya... tapi kan maksud Tante biar kamu ada yang nemenin. Masa kamu mau sendirian terus sampai tua? Perempuan itu ada masanya, Nik," gumam Tante Euis akhirnya. Suaranya mengecil, tapi sepertinya cukup tajam untuk membuat Ibu yang duduk di sebelahku tertunduk lesu.
***
Nasihat-nasihat kosong itu terus berdenging di telingaku hingga keesokan harinya. Aku kembali ke kantor dengan tameng yang lebih tebal, berusaha mematikan segala jenis perasaan agar bisa fokus mencari tambahan uang untuk membayar kontrakan dan servis motor Elsan. Namun, berjalan dengan tameng ternyata jauh lebih melelahkan daripada yang kubayangkan.
Siang itu, kakiku terasa panas dan berdenyut, seolah kulit tumitku sedang dipanggang di atas aspal. Sebelum ke ruang fotokopi, aku menyelinap ke sudut pantry yang sepi. Aku butuh jeda, sedetik saja, dari keharusan untuk terlihat tangguh. Aku duduk di kursi kayu tinggi, lalu perlahan melepas flatshoes hitamku.