Karena Terkadang, Pahit Justru yang Paling Menyembuhkan

Santy Diliana
Chapter #6

Aroma Cendana dan Pelampung Masa Depan

"Menjadi dewasa berarti memahami bahwa cinta dan kebahagiaan diri sendiri adalah variabel terakhir dalam rumus kehidupan. Jika mengorbankan satu nama di hati bisa menyelamatkan seluruh nama di kartu keluarga, maka aku akan melakukannya tanpa menoleh ke belakang."

***

Dunia yang mapan ternyata memiliki aromanya sendiri. Bukan aroma karbol atau bau matahari setelah berdesakan di kereta, melainkan aroma kayu manis, vanilla, cendana, wangi diffuser mahal, dan sirkulasi udara yang dikontrol dengan presisi sehingga tidak ada sedikitpun debu Jakarta yang diizinkan masuk. Saat aku melangkah masuk ke restoran di bilangan Senopati itu, aku merasa seperti sebuah variabel asing yang memaksa masuk ke dalam rumus yang sudah seimbang.

Aku menghabiskan waktu satu jam di rumah hanya untuk memilih pakaian. Aku sempat membongkar lemari Elsan dan Ibu, berharap menemukan sesuatu yang tampak "mahal", namun hasilnya nihil. Pada akhirnya, aku menyerah pada kemeja putih terbaikku yang kerahnya masih tegak dan rok hitam, ditambah flatshoes yang biasa kupakai. Aku merasa sangat... karyawan. Sementara perempuan-perempuan di sekitarku mengenakan gaun yang jatuh di tubuh mereka dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh kain mahal.

"Nika?"

Seorang pria berdiri dari kursinya. Satria. Ia tampak persis seperti di foto, namun lebih nyata. Kemeja birunya disetrika dengan sangat licin, jam tangannya melingkar elegan di pergelangan tangan yang bersih. Ia memiliki jenis tatapan orang yang tidak pernah merasa terburu-buru oleh waktu, karena waktu dan uang adalah miliknya.

"Sori, nunggu lama ya?" ucapku kaku, menjabat tangannya yang terasa hangat dan kering.

"Nggak kok, baru lima menit," jawabnya ramah. Suaranya bariton, tenang, dan tertata.

Sebelum aku sempat mengambil posisi, Satria melangkah dengan gerakan luwes, menarik kursi kayu jati berukir di hadapanku agar aku bisa duduk dengan nyaman. Gestur sederhana itu seketika membuatku membeku. Aku merasa seperti ditarik paksa masuk ke dalam adegan drama Korea yang sering kutonton saat zaman sekolah dulu, pria kaya yang datang satu paket dengan attitude kelas atas.

Di dunia asliku, kursi adalah sesuatu yang harus kau tarik sendiri dengan bunyi berdecit di lantai semen, atau bangku plastik di warung tenda yang harus kau lap sendiri sebelum diduduki. Tapi di sini, Satria memperlakukanku seolah aku adalah sesuatu yang berharga dan rapuh, bukan seorang wanita yang biasanya sanggup memanggul karung berisi paket jastipan seberat sepuluh kilo sendirian.

"Terima kasih, Sat," gumamku, mencoba mengatur napas yang mendadak terasa pendek.

Selama tiga puluh menit pertama, Satria adalah pendengar yang luar biasa. Ia bertanya tentang pekerjaanku di bagian Finance, tentang sudah berapa lama aku dan keluargaku merantau di Jakarta, dan ia tidak sedikit pun menunjukkan wajah bosan saat aku menjawab dengan hati-hati. Ia bercerita tentang pekerjaannya sebagai manajer di bank swasta, dunia yang penuh dengan suku bunga, audit, dan rencana jangka panjang yang tampak begitu cemerlang.

Di tengah percakapan itu, pelayan datang membawakan hidangan utama yang penataannya lebih mirip karya seni daripada makanan. Saat aku memotong daging steak yang begitu lembut, pikiranku mendadak tergelincir. Aku membayangkan jika aku duduk di sini bersama Aksa.

Kami pasti akan langsung saling lirik saat melihat daftar harga di menu. Aksa mungkin akan berbisik, "Nik, harga jus di sini bisa buat kita makan nasi padang tiga hari plus rendang," lalu kami akan tertawa pelan menyadari betapa konyolnya dunia ini. Bersama Aksa, kemiskinan adalah lelucon yang kami bagi bersama. Namun bersama Satria, uang adalah bahasa yang tidak perlu dibicarakan karena sudah dianggap tersedia.

"Clara banyak cerita soal kamu." Satria berkata, memecah lamunanku. Ia meletakkan garpunya dengan tenang. "Dia bilang kamu itu perempuan paling tangguh yang dia kenal."

Aku tersenyum kecut, memainkan serbet di pangkuanku. "Tangguh itu sering kali cuma nama lain dari nggak punya pilihan, Sat. Kalau ada pilihan untuk jadi lemah dan ada yang melindungi, mungkin nggak akan ada orang yang mau jadi tangguh."

Satria menatapku. Ada binar kekaguman yang tidak disembunyikan di matanya, jenis tatapan yang membuatku merasa benar-benar diperhatikan, bukan sekadar dikasihani.

"Tahu nggak, Nik? Clara itu sebenarnya sudah 'jualan' nama kamu sejak lama," Satria terkekeh pelan, suaranya terdengar santai. "Awalnya saya pikir dia cuma berlebihan saja sebagai sahabat. Tapi setelah dengar cerita dia tentang gimana kamu ngurusin keluarga, jastipan sampai malam, tapi tetap jadi andalan di kantor... lama-lama, saya jadi penasaran."

Ia menjeda sebentar, memerhatikan reaksiku dengan saksama.

"Dan malam ini, setelah lihat kamu langsung... saya paham kenapa Clara sebegitu bangganya punya teman kayak kamu. Ada sesuatu yang beda dari kamu, Nik. Kamu itu... apa adanya, nggak berusaha tampil sempurna. Dan itu justru yang bikin saya tertarik sejak awal."

Aku tertegun. Kalimatnya menggantung di udara, di antara aroma makanan mewah dan denting sendok perak. Satria menatapku seolah-olah penampilanku yang "apa adanya" ini adalah sebuah pilihan gaya hidup yang estetik dan berani.

Padahal di dalam hati, ingin rasanya aku tertawa, lalu berkata, Sat, aku bukannya sengaja nggak ingin tampil sempurna. Aku cuma nggak punya apa-apa lagi yang bisa kuandalkan untuk terlihat sempurna di depan laki-laki seperti kamu.

Dan, apa yang Satria sebut sebagai "apa adanya" itu sebenarnya adalah batas maksimal yang sanggup aku usahakan. Aku tidak sedang menjadi diri sendiri karena ingin, aku sedang menjadi diri sendiri karena aku tidak punya pilihan lain untuk menjadi siapa-siapa lagi. Di duniaku, tampil sempurna adalah kemewahan yang tidak terbeli.

Namun, aku tetap menelan kepahitan itu dan mengulas senyum tipis. "Makasih ya, Sat," balasku. Bagaimanapun, aku tetap menghargai ketulusan di balik pujiannya.

Selanjutnya, aku mulai merasa lebih nyaman. Aku bercerita tentang mendiang Bapak, tentang tanggung jawab yang tiba-tiba jatuh ke pundakku. Aku juga bercerita dengan mata berbinar tentang Elsan, adikku yang pintar dan berhasil masuk ITB. Satria tampak sangat mengapresiasi usahaku untuk pendidikan adikku. Aku bahkan bercerita tentang suka duka jastip, tentang bagaimana aku harus berlari di antara rak diskon dan mondar-mandir dari satu store ke store lainnya. Satria hanya mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali mengangguk, membuatku merasa ceritaku yang melelahkan itu adalah sesuatu yang berharga.

Ting. Ponselku bergetar. Sebuah notifikasi WhatsApp dari Aksa muncul.

Aksa IT: Nik, sorry banget kalau gue lancang ngechat lo malem-malem gini. Gue sebenernya bingung mau mulai dari mana, dan mungkin chat ini bakal keliatan berantakan banget. Tapi jujur, omongan lo tempo hari itu bener-bener ganggu pikiran gue sampai gue nggak bisa konsen kerja beberapa hari ini.

Lihat selengkapnya