Karena Terkadang, Pahit Justru yang Paling Menyembuhkan

Santy Diliana
Chapter #7

Sepasang Sepatu dan Ilusi Kenyamanan

Dalam akuntansi hidupku, aku sengaja mencatat kerugian besar di kolom perasaanku sendiri, hanya agar neraca masa depan keluargaku tidak lagi menunjukkan angka merah yang menakutkan. Aku menukar kebahagiaan pribadiku sebagai modal, demi memastikan mereka tetap berada dalam zona aman.

***

Beberapa minggu ini, Jakarta terasa sedikit lebih 'jinak', atau setidaknya itulah ilusi yang coba diciptakan oleh kehadiran Satria di hidupku. Tidak ada lagi drama berdiri berdesakan di gerbong KRL yang pengap di sore hari karena Satria selalu mengusahakan untuk menjemputku di lobby kantor. Hidupku mendadak punya jadwal yang presisi. Satria adalah tipe pria yang menghargai waktu, tipe pria yang sudah menyusun rencana hidupnya hingga sepuluh tahun ke depan. Dan entah bagaimana, aku terselip di dalam rencana itu sebagai salah satu variabel yang ingin ia kunci.

Sejak awal, Satria bilang bahwa dia tidak sedang mencari pacar untuk sekadar diajak menonton film di akhir pekan atau bertukar pesan manis sebelum tidur. Ia sedang mencari seorang istri, seorang pendamping yang bisa ia ajak membangun rumah tangga. Secara terang-terangan, ia menunjukkan bahwa aku adalah jawabannya. Ia tidak hanya baik kepadaku, tapi juga sangat memperhatikan keluargaku, hal yang tentu saja menjadi titik lemahku. Ia bertanya tentang kebiasaan Ibu, tentang apa yang paling disukai Elsan, bahkan menawarkan diri untuk mencarikan kontak bengkel rekanannya untuk memperbaiki motor Elsan di Bandung dan aku tidak perlu memikirkan bagaimana cara membayarnya.

"Keluarga itu prioritas, Nik," katanya malam itu. Suaranya bariton dan tenang, jenis suara yang membuatmu merasa bahwa apa pun masalah yang terjadi di luar sana, dia punya kendali untuk membereskannya.

Momen itu adalah makan malam kesekian bagi kami. Setelah hampir sebulan pendekatan yang intens, Satria membawaku ke sebuah restoran di lantai empat puluh sebuah gedung pencakar langit di bilangan Sudirman. Dindingnya didominasi kaca besar yang memamerkan kerlip lampu Jakarta yang tampak seperti tumpahan permata di atas beludru hitam. Di atas meja, sebuah lilin kecil dalam wadah kristal menari-nari, cahayanya yang kuning temaram memantul di mata Satria yang teduh. Di tempat seperti ini, Jakarta terlihat cantik, bersih, dan sama sekali tidak jahat. Dan dari ketinggian ini, bau got di gang rumahku dan pengapnya gerbong KRL terasa seperti mitos yang jauh.

Malam itu, aku tidak datang dengan kemeja kantor yang sudah kusut atau wajah yang hanya dipoles bedak padat seadanya. Penampilanku saat itu sedikit lebih spesial—atau mungkin terlalu spesial—berkat campur tangan Clara. Sahabatku itu seolah memiliki indra keenam yang tajam. Entah kenapa, sejak jam makan siang, Clara bersikeras bahwa malam ini bukan sekadar makan malam biasa.

Aku sudah menolak mentah-mentah. Tapi Clara memohon, bahkan hampir memaksa. Dia mendandaniku dengan tangan terampilnya, menutupi lelah di mataku dengan eyeshadow berwarna earth tone yang hangat, dan memoleskan lipstik yang membuat bibirku tampak segar namun tetap natural. Dia bahkan meminjamkan salah satu gaunnya. Sebuah gaun hitam sederhana dengan potongan elegan yang jatuh sempurna di tubuhku.

Apakah aku merasa cantik? Iya. Tapi ada rasa cemas yang diam-diam menyelip: apakah Satria menyukai Nika yang ini, atau Nika yang sebenarnya?

"Kalau kamu capek, kamu harus ingat ada orang yang bisa bantu kamu mikul beban itu." Ia menjeda sejenak, menatapku lurus hingga aku merasa seolah ia bisa melihat menembus lapisan foundation yang dipakaikan Clara untuk menutupi kantung mataku. "Dan kalau kamu mengizinkan, saya pengen jadi orang itu."

Aku tertegun. Jemariku yang sedang memainkan sendok di atas piring, mendadak kaku. Aku mengalihkan pandangan ke luar jendela sejenak dengan canggung, menatap arus lampu mobil di bawah sana yang merayap seperti barisan semut api. Setelah itu, aku kembali menoleh ke arah Satria.

"Kenapa aku, Sat?" Akhirnya pertanyaan itu meluncur dari mulutku. Pertanyaan yang sebenarnya sudah mengendap dan berkerak di kepalaku sejak beberapa minggu lalu.

Awalnya, aku sempat mengira ketertarikannya hanyalah rasa penasaran sesaat. Aku pikir, setelah pertemuan pertama kami, dia akan perlahan menarik diri. Aku yakin sekali pria seperti Satria, yang hidupnya begitu tertata dan terencana, akan merasa ngeri melihat betapa semrawutnya duniaku. Aku sudah siap untuk ditinggalkan, bahkan aku sudah menyiapkan senyum pahit sebagai bentuk pertahanan diri.

Tapi dugaanku meleset total.

Pertemuan pertama kami malam itu justru berlanjut ke pertemuan-pertemuan berikutnya. Seolah-olah semakin banyak ia tahu tentang "borok" hidupku, semakin getol ia ingin berada di sampingku. Setiap kali melihat sisi sulit hidupku, ia tidak terlihat ilfil. Alih-alih mundur, ia justru melangkah lebih maju, menawarkan solusi yang begitu praktis hingga aku tidak punya alasan untuk menolak.

"Maksudku... Kamu tuh punya segalanya, Sat. Kamu mapan, pinter, keluargamu juga bukan orang sembarangan. Kamu bisa dapetin perempuan yang jauh lebih 'lebih' dari aku. Sementara aku ini–" Aku menunduk, menatap jemariku, sebelum melanjutkan ucapanku. "Aku ini berantakan, Sat. Kamu tahu, kan? Banyaaak banget yang harus aku tanggung dan aku pikirin. Kenapa coba, orang kayak kamu mau repot-repot masuk ke dalam keruwetan itu?"

"Justru karena itu, Nika," jawabnya pelan. Satria memajukan posisi duduknya sedikit, menciptakan ruang yang terasa lebih intim sekaligus protektif di tengah hiruk-pikuk restoran mewah ini. "Saya belum pernah ngelihat perempuan yang punya daya juang sekeras kamu."

Satria menatapku dalam, seolah berusaha meyakinkanku.

"Nik... saya nggak butuh orang yang cuma bisa jadi pajangan di samping saya. Saya butuh partner hidup yang bisa diajak tukar pikiran kalau saya lagi buntu. Orang yang bisa saya ajak diskusi tentang dunia dari sudut pandang yang beda, dan yang paling penting... orang yang tetap mau bareng-bareng berjuang kalau badai lagi kencang-kencangnya."

Aku terpaku, membiarkan kalimatnya menggantung di udara. 

"Dan soal keluarga kamu... itu bukan 'keruwetan' buat saya. Itu bagian dari paket yang namanya 'Nika'. Saya nggak cuma mau bunganya, saya mau terima akarnya juga."

Aku menelan ludah. Ada sesuatu yang runtuh di dalam dadaku. Selama ini, aku adalah tiang penyangga bagi semua orang. Dan sekarang, di depan pria ini, aku ditawari untuk menjadi pihak yang disangga. Tawaran itu terasa begitu manis, begitu menggoda, hingga rasanya hampir berdosa untuk menolaknya.

Satria adalah jawaban logis bagi semua doa-doa Ibu yang dipanjatkan di atas sajadah usangnya setiap malam. Jika aku bilang iya, maka setengah dari masalah hidupku akan menguap begitu saja. Elsan akan aman, Ibu akan tenang, dan aku... aku mungkin akhirnya bisa 'bernapas'.

"Aku nggak sesempurna yang kamu bayangin, Sat," bisikku lagi, sebuah usaha terakhir untuk menjaga harga diriku yang tersisa. "Aku punya banyak luka yang aku sembunyiin."

Satria tersenyum tipis, sebuah senyum yang sangat dewasa dan menenangkan. "Kita semua punya luka, Nika. Bedanya, saya punya kotak P3K yang cukup lengkap untuk membantu kamu mengobatinya."

Satria tidak langsung meraih tanganku. Ia meletakkan tangannya di atas meja, telapaknya terbuka seolah menawarkan pilihan, bukan paksaan. Baru setelah aku tidak menarik tanganku menjauh, ia menyentuhkan jemarinya dengan sangat sopan.

"So, Nika... I'm asking for your trust. Can I be the person you lean on? Kamu mau jalanin semua ini sama saya?"

Aku terdiam sejenak. Di kepalaku, aku mulai menghitung: untung, rugi, risiko, dan peluang. Persis seperti laporan keuangan yang kubuat setiap hari di kantor. Dan hasilnya selalu sama: Satria adalah investasi terbaik untuk masa depan keluargaku.

Lalu perlahan, aku mengangguk. 

Senyum Satria melebar, ia menggenggam tanganku lebih erat, seolah baru saja menandatangani kontrak paling penting dalam kariernya.

Lihat selengkapnya