Karena Terkadang, Pahit Justru yang Paling Menyembuhkan

Santy Diliana
Chapter #8

Paradoks Pelarian

"Aku melarikan diri untuk mencari ketenangan, berharap jarak ratusan kilometer bisa membungkam kebisingan di kepalaku. Namun, aku lupa bahwa takdir tidak pernah butuh peta untuk menemukan tempatku bersembunyi. Ia selalu tahu cara memesan tiket di gerbong yang sama, memaksa aku menghadapi apa yang paling ingin kuhindari."

***

Malam itu, setelah pertemuan menyesakkan dengan Aksa di lift sore tadi, aku duduk bersila di lantai kamarku. Sebuah koper kecil tergeletak tepat di hadapanku, masih kosong melompong. Aku sengaja membiarkan pintu kamar terbuka lebar, sehingga aku tetap bisa melihat Ibu yang sedang sibuk melipat pakaian bersih di ruang tengah yang sempit.

Bukannya segera mengisi koper dengan baju, jemariku justru tertahan di atas layar ponsel. Aku baru saja menyelesaikan transaksi untuk mengirimkan uang modul yang diminta Elsan lewat pesan singkat beberapa menit lalu. Begitu tombol 'konfirmasi' kutekan, saldo di rekeningku berkurang dalam sekejap.

Aku lantas mengirimkan tangkapan layar bukti transfer tersebut ke ruang obrolan kami, lalu meletakkan ponselku begitu saja di atas lantai keramik yang dingin. Aku menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa penat yang menggelayut, kemudian mulai memasukkan beberapa lembar bajuku ke dalam koper secara perlahan.

Dari posisi dudukku, aku bisa melihat Ibu dengan sangat jelas. Sambil tangannya lincah melipat kain, pandangan matanya berulang kali tertuju kali tertuju ke atas meja, tepatnya ke botol-botol suplemen yang dibawakan Satria untuk Ibu saat mengantarku pulang tadi. Aku masih ingat, betapa lebar senyum Ibu menerima pemberian Satria itu.

"Ibu masih nggak nyangka, akhirnya, Gusti Allah kasih malaikat buat jagain kamu, jagain kita," ucap Ibu, suaranya mengalun sampai ke dalam kamarku. Ibu lalu mengusap permukaan botol suplemen itu dengan ujung jarinya, seolah sedang mengusap benda pusaka. Aku tahu, bagi Ibu, suplemen-suplemen ini bukan sekadar vitamin tambahan. Ini adalah simbol keamanan. Setiap butir kapsul yang ia telan nanti adalah janji bahwa ia tidak perlu lagi khawatir akan jatuh sakit dan memikirkan biaya, karena sekarang ada orang mapan yang siap menanggungnya.

Aku hanya bisa terdiam. Entah kenapa, setiap kali Satria memberikan sesuatu untuk Ibu, aku merasa "utangku" padanya semakin besar. Padahal, aku tahu Satria bukan tipe orang yang akan mengungkit-ungkit atau menganggap setiap pemberiannya sebagai piutang. Satria tulus, dia orang yang sangat baik. Terlalu baik, malah.

Namun justru di situ masalahnya. Ketulusannya terasa seperti jerat halus yang perlahan melilit leherku. Kebaikan yang ia berikan tanpa pamrih itu justru menjadi beban moral yang jauh lebih berat daripada utang materi mana pun. Rasanya seperti aku sedang menyicil sebuah komitmen besar yang bunganya terus bertambah setiap kali ia membawa kantong belanjaan atau sekadar oleh-oleh kecil untuk Ibu.

Aku merasa menjadi seorang pengkhianat yang sangat jahat. Di saat Satria mencurahkan segala perhatian dan kemurahan hatinya untuk memastikan keluargaku tetap terjamin dan tidak kekurangan, di detik ini juga, pikiranku justru masih tersangkut pada lelaki lain. Aksa. 

Jujur saja, bayangannya yang menembus hujan dengan ekspresi kalah sore tadi, terus berkelebat di kepalaku.

"Kamu besok berangkat ke Jogja jam berapa, Nik? Berapa hari?" tanya Ibu.

Aku mengerjapkan mata, berusaha mengusir sosok Aksa dan kembali ke realitas. "Keretanya jam 06.20, Bu. Di Jogja cuma tiga hari, tapi sama perjalanan pergi-pulang jadi lima hari. Minggu sore Nika sudah sampai rumah lagi," jelasku sembari merapikan sisa pakaian di koper.

Dinas ini sebenarnya sudah dijadwalkan sejak minggu lalu, jauh sebelum Aksa muncul kembali di hadapanku. Awalnya, aku melihat rencana ke luar kota ini hanya sebagai rutinitas pekerjaan biasa. Namun, setelah kejadian sore tadi, jadwal ini tiba-tiba terasa seperti kesempatan yang datang di saat yang paling tepat. Bagiku, pergi ke Yogyakarta kini menjadi pelarian sementara yang sempurna dari hiruk-pikuk perasaan yang sedang carut-marut karena kembalinya Aksa.

Aku menghela napas panjang dan mencoba mengalihkan pikiranku. Pandanganku lantas tertuju ke layar ponsel yang menampilkan percakapan terakhirku dengan Elsan. Di pojok bawah balon percakapan itu, muncul dua centang biru. Sudah dibaca.

Aku menunggu selama beberapa detik, memperhatikan bagian atas layar, berharap muncul tulisan typing... yang menandakan ada setidaknya sebaris kata "terima kasih" atau "uangnya sudah masuk, Mbak". Namun, layar itu tetap statis. Sepi. Elsan seolah menghilang ditelan bumi tepat setelah tujuannya tercapai. Baginya, aku mungkin tidak lebih dari sebuah notifikasi bank yang masuk ke rekeningnya secara berkala.

Rasa hampa itu memicu rasa penasaran yang pahit. Aku lantas tergerak melakukan scrolling jauh ke atas. Aku melewati bulan lalu, saat dia meminta tambahan biaya untuk modul dan buku referensi yang harganya hampir menyentuh angka satu juta. Aku melewati dua bulan sebelumnya, saat dia mengirim foto laptopnya yang katanya sudah mulai sering hang di tengah pengerjaan tugas. Dan aku terus mendaki ke tahun lalu, tahun sebelumnya lagi, hingga ke awal masa kuliahnya.

Sepanjang jemariku mengusap layar, aku tidak menemukan satu pun pesan darinya yang menanyakan kabarku. Tidak ada pertanyaan apakah aku sehat, apakah pekerjaanku lancar, atau apakah aku sedang merasa tertekan di Jakarta. Isi percakapan kami hanya berisi rincian angka, foto struk tagihan, dan keluhan tentang biaya hidup di Bandung. Aku bukan lagi kakaknya. Aku adalah mesin ATM yang kebetulan memiliki nama "Mbak Nika" di kontak ponselnya.

Pikiranku melayang jauh, terseret ke masa kecil kami. Elsan adalah harta karun di keluarga kami. Dia pintar, sangat pintar. Sejak sekolah dasar, dia adalah langganan juara kelas. Pialanya berderet rapi di rak kayu yang sudah reyot di ruang tamu, debunya selalu Ibu bersihkan dengan penuh kebanggaan seolah setiap piala itu adalah janji masa depan yang cerah.

Sementara aku? Aku adalah sistem pendukung. Aku adalah figuran dalam film besar berjudul "Kesuksesan Elsan".

Aku teringat saat berusia lima belas tahun, aku sangat ingin ikut kursus Bahasa Inggris, tapi Ibu bilang uangnya harus disimpan karena Elsan perlu ikut olimpiade sains di tingkat provinsi. Aku juga teringat bagaimana aku harus rela berjalan kaki berkilo-kilo meter ke sekolah dengan sepatu yang solnya sudah menipis, demi menghemat uang jajan agar Elsan bisa membeli ensiklopedia yang ia dambakan. 

Ibu selalu bilang, "Nika, jadi Mbak itu harus ngalah ya. Elsan itu harapan kita. Kalau dia sukses nanti, kamu juga kan yang seneng."

Doktrin itu tertanam begitu dalam, mengakar di antara sela-sela tulangku. Dulu, aku benci posisi ini. Aku merasa dianaktirikan. Namun seiring bertambahnya usia, rasa benci itu bermutasi menjadi sebuah harapan yang putus asa. Aku mulai berpikir persis seperti Ibu dan Bapak: Elsan adalah satu-satunya tiket keluar kami dari hidup yang serba pas-pasan ini.

Aku sudah terlanjur berinvestasi terlalu banyak padanya. Aku sudah memberikan masa mudaku, impian-impianku, dan sekarang gajiku, hanya untuk memastikan Elsan tidak kekurangan satu hal pun di Bandung sana. Aku rela menjadi tiang yang keropos dan karatan, asalkan atap yang menaungi Elsan tidak bocor. Aku menaruh seluruh harapanku di pundak Elsan, berharap suatu hari nanti pundak itulah yang akan mengangkat kami keluar dari kemiskinan, tanpa menyadari bahwa beban harapan itu mungkin terlalu berat untuk kami berdua.

Setelah menutup koper dan memastikan semua dokumen penting terselip di kantong depan, aku beranjak ke kasur. Tubuhku terasa sangat lelah, tapi kepalaku masih sulit untuk diajak beristirahat. Saat aku baru saja menarik selimut, ponsel yang barusan kuletakkan di samping bantal, bergetar.

Ada satu voice note masuk dari Clara. Aku memutarnya dan seketika suara nyaring Clara terdengar hingga nyaris memekakkan telingaku.

Lihat selengkapnya