Karena Terkadang, Pahit Justru yang Paling Menyembuhkan

Santy Diliana
Chapter #9

Satu Meja di Kotabaru

"Jarak terjauh bukanlah bentang kilometer yang memisahkan dua kota, melainkan satu meter ruang hampa di antara dua orang yang pernah hampir menjadi sebuah cerita utuh, namun dipaksa patah oleh waktu."

***

Yogyakarta menyambut kami dengan langit yang sedikit mendung dan aroma tanah basah yang khas saat kereta eksekutif yang kami tumpangi perlahan berhenti. Jam di peron Stasiun Tugu menunjukkan pukul 13.15. Perjalanan sekitar tujuh jam itu seharusnya membuatku lelah, namun debaran cemas di dadaku justru membuatku terjaga sepenuhnya sejak dari Gambir.

Begitu keluar dari pintu kedatangan, seorang driver dari kantor cabang sudah menunggu dengan papan nama perusahaan kami. Ia menyapa dengan logat Jawa yang kental dan ramah, lalu dengan cekatan membantu mengangkat koper pink raksasa milik Clara ke bagasi mobil.

"Mau mampir makan siang dulu atau langsung ke hotel, Mbak, Mas?" tawar Pak Sopir dengan ramah.

Reno melirik jam tangannya. "Kayaknya makan siang dulu, Pak. Udah jam segini. Tapi yang cepat ya? Kita dikejar kerjaan soalnya."

"Siap, Mas. Kita mampir ke rumah makan padang di depan saja ya? Biar ndak antre dan bisa langsung jalan."

Maka makan siang kami hari itu berlangsung sangat efisien, atau lebih tepatnya, fungsional. Tidak ada obrolan santai soal pemandangan Jogja atau rencana jalan-jalan. Di atas meja kayu yang dilapisi plastik itu, kami makan dengan cepat. Aku berusaha fokus pada piringku, namun keberadaan Aksa yang duduk tepat di hadapanku membuat selera makanku menguap.

Setelah makan siang yang terburu-buru itu, kami hanya mampir sepuluh menit di hotel untuk menaruh koper dan membasuh muka seadanya. Tidak ada waktu untuk merebahkan diri, karena Pak Hermawan sudah mewanti-wanti bahwa audit harus dimulai sore ini juga.

Tepat saat kami kembali masuk ke dalam mobil untuk menuju kantor cabang di Kotabaru, sebuah notifikasi muncul serentak di ponsel kami masing-masing. Pembagian tugas diumumkan lewat grup WhatsApp.

"Nika, kamu bareng Aksa fokus di sinkronisasi modul Account Receivable. Clara sama Reno urus inventori gudang cabang."

Kalimat pendek itu terasa seperti vonis. Aku melirik Clara yang duduk di sampingku. Wajahnya yang tadi sedikit ceria saat melihat pemandangan kota mendadak mendung. Matanya membelalak kecil ke arah layar ponsel sebelum akhirnya menatapku dengan sorot gelisah.

Aku melihat Clara sempat membuka mulut, seolah ada protes yang tertahan di ujung lidahnya, namun ia segera mengatupkannya kembali—mungkin tersadar bahwa mendebat perintah langsung Pak Hermawan adalah tindakan sia-sia. Ia hanya bisa menghela napas panjang, memberiku tatapan yang seolah memperingatiku untuk tetap waspada dan tidak "lengah" sedikit pun.

Begitu sampai di kantor cabang, instruksi itu langsung dijalankan tanpa basa-basi. Kami pecah tim seketika. Reno dan Clara kembali masuk ke mobil untuk menuju gudang di pinggiran kota, sementara aku dan Aksa melangkah masuk ke bangunan kolonial putih itu.

Aksa berjalan tidak jauh dariku dan terlihat tetap tenang. Ia tampak sangat profesional, seolah pembagian tim ini hanyalah prosedur kerja biasa yang sama sekali tidak memengaruhi denyut nadinya. Berbanding terbalik dengan jantungku yang mulai bertalu tidak keruan.

***

Kantor cabang Yogyakarta menempati sebuah bangunan kolonial yang sudah direnovasi di daerah Kotabaru. Dari luar, pilar-pilar putihnya tampak gagah dan terawat, sementara bagian dalamnya terasa jauh lebih hangat dan luas dibandingkan kantor pusat kami di Jakarta yang serba kaca dan kaku. Langit-langitnya tinggi dengan lantai tegel kunci bermotif klasik, memberikan atmosfer yang teduh dan tenang. Dinding-dinding tebalnya seolah mampu meredam hiruk-pikuk pekerjaan yang biasanya terasa begitu memburu di Jakarta.

Suasana di dalam cukup sibuk namun tidak bising. Beberapa staf cabang tampak duduk rapi di balik meja kayu jati yang kokoh, sesekali mereka menoleh dan memberikan senyum sopan saat berpapasan denganku atau Aksa. Meski ramah, aku bisa merasakan ada jarak yang tercipta. Kehadiran tim dari Jakarta memang selalu menjadi momok bagi orang daerah, apalagi audit kali ini berkaitan dengan performa mereka yang sedang dipantau ketat.

Karena area kerja utama sudah penuh, aku dan Aksa diarahkan untuk menempati meja panjang di sebuah ruangan semi-terbuka yang biasanya digunakan untuk rapat kecil. Posisi kami agak terpisah dari staf lain, memberikan privasi yang cukup untuk membongkar data audit yang sifatnya sensitif. Selama satu jam pertama, keheningan di antara kami hanya kalah oleh bunyi lentikan jari di atas keyboard dan gesekan kertas. Aku sengaja menaruh tumpukan dokumen di tengah-tengah sebagai pembatas imajiner. Aku tidak ingin melampaui batas itu, dan aku berharap dia juga melakukan hal yang sama.

"Sa, gue nemu unreconciled items lagi. Data bulan Maret masih selisih lima puluh tiga juta antara laporan fisik dan sistem," ucapku akhirnya, memecah keheningan.

Aksa menghentikan aktivitasnya. Ia bergeser sedikit, membuat jarak di antara kami menyempit. "Coba gue cek log transaksinya. Mungkin ada double entry di sistem lama yang belum kehapus pas migrasi. Database cabang sini memang agak berantakan strukturnya."

Ia mulai mengetikkan barisan kode yang tidak kupahami. Di sela-sela itu, ia sesekali menjelaskan apa yang ia lakukan tanpa melepaskan pandangan dari layar. Perlahan tapi pasti, kecanggungan itu mulai terkikis oleh profesionalisme. Aksa tetaplah Aksa yang cerdas, teliti, dan selalu memiliki solusi untuk setiap kerumitan sistem. Mau tidak mau, aku mulai terbawa arus ritme kerjanya. Kami mulai berdiskusi intens, berdebat kecil soal sinkronisasi input data, hingga tanpa sadar aku melupakan kecanggungan di antara kami.

***

Sore itu, sekitar jam lima, ritme di kantor cabang terasa mulai melambat. Di tengah keseriusanku menyisir ribuan baris data transaksi yang membuat mataku pedas, ponselku bergetar pelan di atas meja. Sebuah pesan singkat dari Clara masuk.

Clara: Gue masih di gudang, nih. Gila! Debunya nggak santai, bisa rusak paru-paru gue! Lo gimana di kantor? Masih aman, kan? Inget pesan gue ya, Nik. Tetap profesional, jangan kasih celah. Gue pantau dari jauh!

Aku hanya bisa menghela napas pendek, sedikit meringis membaca pesan itu. Clara memang tidak pernah absen menjalankan perannya sebagai benteng pertahanan terakhirku bahkan dari jarak puluhan kilometer sekalipun. Ia memastikan aku tidak melakukan langkah konyol yang akan kusesali nanti. 

Aku baru saja hendak mengetik balasan singkat saat sebuah suara rendah memutus fokusku.

"Kopi?" tawar Aksa singkat. Ia sudah berdiri, meregangkan otot bahunya yang tampak kaku setelah berjam-jam menunduk di depan layar.

"Boleh," jawabku pelan, tetap berusaha menjaga nada suaraku agar sedatar mungkin tanpa berani menoleh langsung ke arahnya.

Beberapa menit kemudian, ia kembali dengan dua paper cup kopi yang aromanya langsung memenuhi ruangan. Kami memutuskan untuk istirahat sejenak di balkon kecil kantor yang menghadap langsung ke jalanan teduh Kotabaru. Suasana Jogja sore itu begitu syahdu. Suara gesekan daun pohon mahoni yang tertiup angin dan kendaraan yang sesekali lewat dengan tempo pelan terasa sangat damai. Sangat kontras dengan gemuruh di dadaku yang sebenarnya belum sepenuhnya reda sejak pertemuan mendadak di Gambir tadi pagi.

Lihat selengkapnya