Karena Terkadang, Pahit Justru yang Paling Menyembuhkan

Santy Diliana
Chapter #10

Jejak Cerita di Gunung Kidul

"Pulang nyatanya bukan sekadar perkara titik koordinat di atas peta, melainkan tentang aroma masakan yang tak pernah berubah dan rahasia-rahasia lama yang akhirnya menemukan pendengarnya. Sebab, seorang ibu tidak hanya mengenal anaknya melalui suara, tapi juga melalui cara anaknya menyebut satu nama dalam setiap ceritanya."

***

Maka di sinilah kami sekarang. Setelah mengambil koper di hotel, kami langsung memacu mobil menuju arah Selatan. Beruntung kantor cabang meminjamkan satu unit mobil operasional untuk kami gunakan selama di Yogyakarta, jadi kami tidak perlu repot memesan transportasi tambahan.

Aksa duduk di kursi kemudi, tampak sangat lihai mengendalikan setir. Ia terlihat jauh lebih santai saat menyusuri jalanan aspal yang mulai menanjak, seolah mesin mobil itu adalah bagian dari dirinya sendiri. Reno duduk di sampingnya sebagai navigator yang lebih banyak bercanda, sementara aku dan Clara menempati kursi belakang.

Perjalanan menuju rumah Ibu Aksa di daerah pesisir Gunung Kidul memakan waktu sekitar dua jam. Semakin jauh meninggalkan hiruk-pikuk kota, pemandangan berganti menjadi deretan bukit kapur dan pepohonan hijau yang rimbun. Aku hanya bisa menatap keluar jendela, memerhatikan bayangan Aksa dari kaca spion tengah yang sesekali tertangkap mataku.

Hampir sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil benar-benar berubah menjadi karaoke room dadakan. Reno, yang entah sejak kapan sudah mengambil alih kendali playlist lewat bluetooth, mulai memutar lagu-lagu pop-rock awal tahun 2000-an dengan volume yang cukup kencang.

"Nik, Clara! Let's go!" seru Reno sambil menggunakan botol air mineral sebagai mikrofon.

Clara, yang awalnya sibuk membenarkan make up, langsung menyambut tantangan itu. Mereka berdua bernyanyi—atau lebih tepatnya berteriak—mengikuti lirik lagu yang sedang berputar. Suara mereka yang terkadang sumbang memenuhi kabin mobil, diselingi tawa renyah setiap kali Reno mencoba melakukan nada tinggi yang gagal total.

Aksa hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum tipis, sesekali ia melirik spion tengah untuk memastikan aku juga terhibur. Meskipun bising, kegaduhan di dalam mobil ini sedikit banyak mencairkan kecemasanku. Di antara sahut-sahutan suara Reno dan Clara, aku merasa untuk sejenak, beban di pundakku terasa lebih ringan.

Aksa tampak sangat hafal dengan setiap tikungan tajam dan jalanan berliku yang mulai mengecil. Bau air laut yang asin mulai tercium tipis di udara, bercampur dengan aroma tanah kering saat matahari perlahan mulai merosot ke ufuk barat.

"Bentar lagi sampai," ucap Aksa pelan.

Hatiku kembali tidak karuan. Pergi ke rumah Ibu Aksa berarti mendatangi tempat yang pernah dia ceritakan saat kami masih "dekat". Ingatanku tiba-tiba terlempar ke beberapa bulan lalu, ke salah satu malam saat kami lembur di kantor Jakarta.

Sore itu, sistem *ERP-ku bermasalah tepat saat aku harus mengejar closing laporan bulanan. Aksa sudah langsung sigap memperbaikinya segera setelah aku melapor . Saat jam pulang tiba, aku melihatnya sudah membereskan tas dan mengira dia sudah pulang bersama karyawan lainnya.

Namun, sekitar pukul delapan malam, saat kantor sudah sangat sepi dan hanya menyisakan aku yang masih berkutat dengan rekonsiliasi data, suara pintu yang terbuka mengejutkanku. Aksa berjalan menghampiri mejaku, tangannya membawa dua cup kopi panas dan sebuah kantong plastik berisi dua kotak makanan yang ternyata berisi nasi goreng.

"Loh, belum balik, Sa?" tanyaku saat itu.

"Tadi mampir beli makan, terus kepikiran lo pasti belum makan malem juga," jawabnya santai sambil meletakkan kotak nasi goreng itu di atas meja kosong di sebelahku. "Gue masih nungguin update server, sekalian mastiin input data lo nggak error lagi."

Kami lalu makan malam berdua di tengah heningnya kantor yang hanya menyisakan suara embusan AC. Di sela-sela obrolan santai itu, Aksa membuka ponselnya dan menunjukkan sebuah foto rumah limasan kayu dengan latar belakang langit jingga.

"Kalau lo udah capek banget liatin angka-angka ini, lo harus ke sini sekali-kali, Nik," ucapnya pelan. "Ini rumah Ibu gue di Gunung Kidul. Belakangnya langsung pantai. Ibu pasti bakal masakin lo sayur lodeh paling enak sedunia, terus kita bisa duduk di teras sambil denger suara ombak sampai pagi."

Aku ingat bagaimana aku tersenyum waktu itu, merasakan debaran halus karena dia menyebut kata 'kita'. Kami tidak pernah mengucap kata cinta, tapi di tengah senyapnya kantor malam itu, aku merasa kami sedang membangun sebuah rencana yang nyata.

Sekarang, obrolan itu memang menjadi kenyataan, tapi dalam versi yang sangat jauh dari bayanganku dulu. Aku tidak datang sebagai seseorang yang spesial, melainkan hanya salah satu rekan kerja yang kebetulan numpang untuk liburan karena masih ada sisa waktu di Jogja.

Mobil perlahan melambat saat memasuki sebuah jalan setapak yang dikelilingi pohon kelapa, hingga akhirnya berhenti tepat di depan sebuah pagar kayu yang terbuka. Di sana, rumah limasan kayu yang asri itu sudah menunggu, persis seperti di foto yang pernah dia tunjukkan padaku dulu. Lampu-lampu terasnya sudah dinyalakan, memancarkan cahaya kuning hangat yang seolah menyambut kepulangan Aksa.

"Sampai," ucap Aksa singkat sambil mematikan mesin mobil operasional kami.

Aku menarik napas panjang, mencoba menekan debaran aneh di dada. 

***

Pintu mobil dibuka, dan seketika aroma udara pesisir yang lembap bercampur harum melati dari halaman rumah menyergap indra penciumanku. Reno adalah yang pertama turun, ia meregangkan tubuhnya dengan heboh sebelum berteriak penuh semangat.

Lihat selengkapnya