Karena Terkadang, Pahit Justru yang Paling Menyembuhkan

Santy Diliana
Chapter #11

Yang Tertinggal di Tepi Ombak

"Kita tidak pernah benar-benar takut mati. Kita hanya takut kehilangan alasan yang membuat kita ingin tetap hidup."

***

Matahari baru saja naik sepenggalah ketika kami memutuskan untuk berjalan ke arah belakang rumah. Udara pagi di pesisir Gunung Kidul ini terasa jauh lebih segar, meski aroma garamnya cukup pekat. Aksa berjalan paling depan, memimpin jalan menyusuri jalanan setapak yang diapit pohon kelapa, sementara di belakangku, Reno dan Clara masih asyik berdebat soal berapa ketebalan sunscreen yang pas agar efektif melindungi kulit dari sengatan matahari.

Kurang dari lima belas menit kemudian, pemandangan bukit kapur berganti dengan hamparan pasir putih yang luas dan deburan ombak laut selatan yang menderu keras. Pantai ini masih sangat sepi, seolah-olah menjadi halaman belakang pribadi bagi rumah Ibu Aksa.

"Gila! Bagus banget, Sa!" teriak Clara yang langsung berlari kecil menuju bibir pantai, mengabaikan fakta bahwa sepatu sandalnya mulai dipenuhi pasir.

Clara akhirnya benar-benar mewujudkan obsesinya. Ia tampil mencolok dengan dress pantai berwarna kuning cerah yang berkibar ditiup angin laut, lengkap dengan topi bulat lebar dan kacamata hitam yang bertengger di wajahnya. Dengan penuh semangat, ia mulai berpose di sana-sini, sementara Reno sibuk mengambil foto dari berbagai angle dengan arahan "gue angle kiri" atau "pencahayaannya jelek" dari Clara.

Aku sendiri memilih untuk lebih santai. Sebelum menyentuh pasir yang putih bersih itu, aku berhenti di dekat sebuah batang pohon kelapa tumbang yang letaknya cukup jauh dari jangkauan air. Aku melepas sepatu pemberian Aksa dengan hati-hati, lalu menyimpannya di sela-sela batang pohon yang kering, menjaganya agar tetap aman di sana. Aku tidak ingin sepatu itu rusak karena air garam. 

"Woy, Nik! Sini, airnya seger banget!" teriak Clara dari kejauhan, melambai-lambaikan tangannya di pinggir ombak.

Aku hanya tersenyum dan mulai melangkah menyusul mereka. Di sampingku, Aksa berjalan santai. Sesekali aku meliriknya. Ia tampak menikmati suasana pagi ini, meski matanya tetap jeli memperhatikan pergerakan air yang sesekali menyapu kaki kami. Sebelum Clara dan Reno benar-benar berlari lebih jauh ke tengah, Aksa menyahut dengan nada bicara yang tenang namun lugas, layaknya orang lokal yang sudah paham betul karakter laut di rumahnya sendiri.

"Main di pinggir aja, ya. Jangan ada yang nekat berenang. Ini Pantai Selatan, ombaknya nggak bisa ditebak karena langsung berbatasan sama Samudra Hindia," ucapnya tegas.

Kami menuruti kata-katanya dan memilih main ciprat-cipratan air di area dangkal. Sampai kemudian, aku melihat sebuah gundukan karang yang tampak kokoh dan rata, menjorok sedikit ke arah laut. Aku melangkah perlahan menuju gundukan karang itu. Permukaannya terasa kasar dan dingin di bawah telapak kakiku yang telanjang. Begitu sampai di puncaknya, aku menghirup napas dalam-dalam, menikmati sensasi angin laut yang menerpa wajahku dengan kuat. Dari sini, laut terlihat begitu megah, biru pekat yang seolah tanpa batas.

Namun, hanya dalam hitungan detik, segalanya berubah.

Suara gemuruh tiba-tiba datang dari arah samping, jauh lebih keras dari deburan ombak sebelumnya. Aku belum sempat menoleh sepenuhnya saat sebuah dinding air raksasa menghantam karang tempatku berdiri. Tubuhku terpelanting, keseimbanganku hilang dalam sekejap, dan hal berikutnya yang kutahu, aku sudah terlempar ke dalam pelukan air yang dingin dan gelap.

Dan saat itulah, dunia mendadak menjadi sangat sunyi.

Semua suara teriakan Clara, tawa Reno, dan deru angin di atas sana lenyap seketika, digantikan oleh suara dengung rendah yang menyesakkan. Aku berada di dalam air, terombang-ambing seperti selembar kertas di tengah badai. Paru-paruku mulai berontak, memohon oksigen, sementara rasa asin yang tajam menusuk hidung dan tenggorokanku.

Aku berusaha sekuat tenaga untuk menggapai permukaan. Berkali-kali aku menendang dan mengayunkan tangan, mencoba mencari pijakan yang tidak pernah ada. Begitu kepalaku sempat menyembul sedikit dan aku mencoba meraup udara, sebuah gulungan ombak lain yang lebih besar kembali menghantamku, menekanku masuk lebih dalam ke dasar yang dingin. Kekuatan laut ini terlalu masif. Setiap kali aku mencoba melawan, ia seolah menarikku kembali dengan lebih bengis, memutarbalikkan tubuhku hingga aku tidak lagi tahu mana arah atas dan mana dasar laut.

Hingga akhirnya, tenagaku habis.

Dalam kegelapan yang berputar-putar itu, aku merasa waktu melambat. Tidak ada lagi kepanikan, hanya ada kesunyian yang mencekam. Di tengah kehampaan itu, pikiranku justru melayang ke hal-hal yang tidak masuk akal.

Ibu... Elsan...

Wajah Ibu yang sedang tersenyum saat menyambutku pulang dan Elsan yang sedang sibuk dengan tumpukan buku kuliahnya mendadak melintas begitu jelas, seolah-olah mereka ada di depan mataku. Kalau aku tidak ada di sini lagi, siapa yang akan mengurus Ibu? Siapa yang akan memastikan Elsan bisa memakai toga wisudanya nanti? Siapa yang akan memikirkan biaya kontrakan kami bulan depan?

Ah, menyedihkan sekali. Bahkan di saat maut sedang mengetuk pintu dan paru-paruku nyaris pecah, aku tetap tidak bisa memikirkan diriku sendiri. Aku tetap menjadi Nika yang selalu memikul beban orang lain di pundaknya. Aku menutup mata, membiarkan tubuhku terseret semakin jauh, pasrah pada kesunyian yang seolah ingin menidurkanku selamanya.

Mungkin memang sampai di sini, pikirku dalam hati.

Tiba-tiba, sebuah sentakan keras merobek kesunyian itu. Aku merasakan sepasang lengan yang sangat kuat melingkar di pinggangku, menahan tubuhku yang hampir menyerah pada arus. Pelukan itu begitu protektif, begitu kokoh. Seseorang menarikku ke permukaan dengan sisa-sisa tenaganya.

Begitu kepalaku muncul ke permukaan, suara dunia kembali menghantamku dengan brutal. Suara deburan ombak, angin yang menderu, dan suara napas yang memburu tepat di telingaku.

"Nika! Pegang gue! Jangan dilepas!"

Itu suara Aksa. Suaranya serak, penuh dengan ketakutan yang belum pernah kudengar sebelumnya. Ia berenang sekuat tenaga melawan tarikan arus bawah yang mematikan, satu tangannya mendekapku erat seolah nyawanya sendiri sedang ia pertaruhkan. Ia mengabaikan setiap peringatan yang ia ucapkan tadi, ia tidak peduli pada Samudra Hindia, ia tidak peduli pada keselamatannya. Seolah baginya, satu-satunya yang penting adalah menggeretku kembali ke daratan.

Begitu kaki kami menyentuh pasir yang padat dan aman, aku merasakan Aksa jatuh terduduk sambil masih mendekapku erat. Aku terbatuk-batuk hebat, memuntahkan air laut yang terasa membakar tenggorokan. Namun, setelah batuk itu mereda, duniaku mendadak terasa berputar. Aku hanya bisa diam terpaku, menatap langit yang silau dengan pandangan kosong, sementara paru-paruku masih terasa perih. Aku benar-benar shock. Aku mendengar suara-suara di sekitarku, tapi semuanya terasa sangat jauh, seperti aku sedang berada di bawah permukaan air yang sangat dalam atau di balik tembok kaca yang tebal.

Panggilan-panggilan itu terdengar kedap di telingaku, hanya berupa dengungan yang tidak jelas maknanya. Aku tidak sanggup menggerakkan jari, bahkan untuk sekadar memberi tanda bahwa aku masih bernyawa.

Lihat selengkapnya