"Kita adalah dua garis yang sempat bertemu di satu titik pilu, hanya untuk menyadari bahwa takdir tidak pernah mengizinkan kita berjalan di arah yang sama."
***
Keheningan yang menyusul setelah teriakanku tadi ternyata terasa jauh lebih menyakitkan daripada bentakan Aksa sebelumnya. Di bawah naungan pohon-pohon kelapa yang menjulang, waktu seolah membeku. Aku masih terisak, bahuku berguncang hebat, sementara Aksa berdiri mematung seperti karang yang baru saja dihantam ombak besar.
Cahaya senter yang ia pegang sedikit bergetar, menyorot ujung kakinya yang kotor oleh tanah dan rumput basah. Aku tersentak saat menyadarinya. Aksa tidak memakai alas kaki. Mataku terpaku pada punggung kaki dan sela-sela jarinya yang lecet memerah, beberapa bagian tampak terkelupas, luka yang pasti ia dapatkan saat beradu dengan karang tajam demi menarikku dari gulungan ombak tadi siang.
Rasa sesak kembali menghujam dadaku. Apakah tadi dia melihatku menyelinap keluar dan dengan panik mengejarku sampai ia tidak sempat memakai alas kaki? Ataukah luka itu terus ia abaikan hanya untuk memastikan aku baik-baik saja?
Aksa lalu menatapku lama, membiarkan suara jangkrik dan deru ombak di kejauhan mengisi kekosongan di antara kami saat isak tangisku mereda. Lalu, tanpa kata, ia kembali mengangkat senternya.
"Ayo," ucapnya lirih.
Aksa tidak membawaku kembali ke arah rumah. Ia justru berbalik, membelakangiku, dan berjalan memimpin di depan. Sorot senternya membelah kegelapan, membukakan jalan kembali menuju pantai yang beberapa jam lalu hampir merenggut nyawaku.
Aku sempat terpaku di tempat. Mataku kembali tertuju pada kakinya yang telanjang, melangkah di atas tanah yang dipenuhi kerikil tajam dan ranting kering. "Sa... tapi kaki lo?" tanyaku dengan suara bergetar. Aku meringis membayangkan rasa perih pada luka lecet di punggung kakinya jika harus bergesekan lagi dengan pasir dan semak berduri.
Aksa tidak menjawab. Ia bahkan tidak menoleh sedikit pun. Ia tetap melangkah, seolah rasa sakit di kakinya sama sekali tidak berarti dibandingkan badai yang sedang berkecamuk di dalam kepalanya.
Aku akhirnya terpaksa melangkah mengikuti, menjaga jarak beberapa meter di belakangnya. Kami berjalan dalam diam. Hanya suara gesekan dedaunan dan langkah kaki kami yang beradu dengan tanah yang mengisi kesunyian malam. Aku menatap punggungnya. Punggung yang tadi siang menerjang ombak tanpa ragu demi menyelamatkanku. Punggung yang kini tampak begitu kaku, tegang, dan menyimpan kesepian yang teramat dalam.
Begitu sampai di pantai, suasana berubah drastis dari pagi tadi. Laut malam ini tampak seperti hamparan tinta hitam yang luas dan tak berdasar. Aksa melangkah menuju pohon kelapa tumbang yang aku tunjuk, tempat aku menyembunyikan "harta karunku".
Ia menemukan sepatu itu. Masih ada di sana, terselip di sela batang kayu yang kini mulai lembap oleh embun malam. Aksa memungutnya, menepuk-nepuk pasir yang menempel dengan gerakan telaten, lalu menyerahkannya padaku.
"Ini," katanya pendek.
Aku menerimanya dengan tangan gemetar. Dingin. Sepatu itu terasa begitu dingin di pelukanku.
"Duduk sebentar, Nik," pinta Aksa. Ia tidak menunggu jawabanku dan langsung duduk di atas pasir yang dingin, beberapa meter dari jangkauan air laut yang pasang.
Aku pun duduk di sampingnya, menjaga jarak yang cukup lebar agar bahu kami tidak bersentuhan. Di bawah temaram cahaya bulan yang tipis, aku kembali memperhatikan sosoknya. Bukan hanya kakinya yang terluka. Saat ia meletakkan tangannya di atas lutut, aku melihat punggung tangannya dipenuhi guratan merah, pasti bekas cakaran karang yang tajam. Bahkan aku juga bisa melihat lecet di lengannya.
Luka-luka itu adalah sisa pertarungannya dengan ombak tadi pagi. Setiap goresan di kulitnya adalah harga yang harus ia bayar untuk nyawaku yang masih ada sekarang.
Kami lalu menatap cakrawala yang gelap gulita. Suara ombak yang pagi tadi terdengar seperti raungan monster, kini terdengar seperti rintihan panjang, seolah menjadi musik pengiring bagi luka yang selama ini kami simpan rapat-rapat dalam diam.
"Gue takut setengah mati tadi pagi, Nik," bisik Aksa tiba-tiba. Suaranya pecah di tengah desiran angin malam.
Aku menunduk, meremas sepatu di pangkuanku. "Kenapa, Sa? Kenapa lo harus senekat itu nolongin gue? Lo bisa aja—" Aku tidak melanjutkan ucapanku. Bahkan membayangkan Aksa tenggelam terseret ombak karena kecerobohanku pun aku tidak berani.
"Karena waktu gue lihat lo hilang, gue ngerasa jantung gue juga ikut berhenti," jawabnya dengan penekanan yang lebih dalam. Ia menoleh padaku, matanya berkilat tajam tertimpa cahaya bulan. "Mungkin lo nggak tahu, tapi gue... gue udah merhatiin lo sejak empat tahun lalu."
Aku terpaku. Empat tahun?
Aksa tersenyum getir, matanya menerawang ke hamparan laut hitam. "Awalnya nggak sengaja. Dulu gue sering dipanggil ke divisi lo kalau ada sistem yang error atau data yang corrupt. Karena sering di sana sampai malam, gue jadi sering lihat lo. Waktu itu lo masih pegawai baru. Tapi di mata gue, lo itu orang yang paling bisa diandalkan. Gue sering lihat lo telat pulang cuma buat bantu beresin revisian temen lo, padahal itu bukan tugas lo. Lo selalu bilang 'iya' tiap kali ada yang minta tolong, seolah lo punya cadangan tenaga yang nggak habis-habis buat orang lain."
Aksa menjeda kalimatnya, menarik napas panjang seolah sedang memanggil kembali memori lama yang ia simpan sendirian.
"Sampai suatu hari, gue nggak sengaja lewat tangga darurat pas jam istirahat siang. Lo lagi teleponan sama adik lo. Gue denger lo bilang, 'San, ini uangnya udah Mbak kirim ya buat bayar semesteran sama buku. Jangan telat makannya, nggak usah kepikiran Ibu. Mbak masih ada sisa kok buat Mbak sama Ibu di sini.'"
"Tapi setelah lo tutup telepon itu, lo duduk di anak tangga dan nangis sendirian. Gue nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi, gue nggak tahu berapa banyak beban yang lo pikul sampai lo nangis sepecah itu. Tapi yang bikin gue bener-bener nggak bisa lupain lo adalah saat lo keluar dari pintu tangga darurat itu kurang dari lima menit kemudian."
Aksa kembali menatapku, kali ini dengan sorot mata yang begitu dalam. "Lo tarik napas panjang, lo hapus sisa air mata lo, dan lo senyum lebar ke arah orang-orang seolah dunia lo sedang baik-baik saja. Bahkan semenit kemudian, lo langsung bantuin temen kantor yang kesulitan fotokopi dokumen tanpa kelihatan capek sedikit pun. Di detik itu, gue sadar kalau lo adalah orang paling kuat sekaligus paling tulus yang pernah gue temuin."
Keheningan sejenak mengambil alih sebelum akhirnya Aksa melanjutkan ucapannya.
"Tapi sayangnya... gue cuma bisa lihat lo dari jauh, Nik. Gue nggak berani deketin karena lo selalu kelihatan punya dunia sendiri yang nggak bisa dimasuki siapa pun. Lo terlalu sibuk lari buat orang lain sampai nggak kasih ruang buat siapa pun ngejar lo."