KARMA

Saragustinas
Chapter #1

Si Anak Bau Kencur (1)


Malam itu lebih sepi dari biasanya, tidak ada kendaraan yang lewat. Mungkin karena hujan yang turun sangat deras. Karto biasa mangkal di pinggir jalan sambil menjajakan baksonya. Ia menengok ke toko kelontong yang ada di belakangnya. Toko itu juga sepi dan nampaknya pemiliknya tidak ingin menunggu para pembeli karena ia langsung menutup tokonya. 

“Hujannya deres banget ya pak?” Ucap pemilik toko itu.”Masih mau mangkal?”

“Iya,” Jawab Karto sambil tersenyum.

“Semoga lekas reda ya, saya pulang dulu. Ini Istri saya telfon disuruh pulang saja.”

“Iya pak, hati-hati ya.” Ucap Karto sambil melihat pemilik toko itu pergi.

Hujannya tambah deras, ia hanya bisa berdoa agar segera reda. Serta orang-orang mulai mencari kehangatan dari semangkok bakso yang dibuat olehnya. Walau jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, ia masih tetap menunggu pembeli. Karto berkali-kali menatap gerobaknya sambil berpikir apakah dagangannya akan laku pada hari ini? Apa ia pulang saja ya? 

Tapi uangnya sudah mulai menipis, dikarenakan harga bahan pokok yang mulai naik. Ia masih harus membayar biaya sekolah kedua anaknya. Disaat Karto masih memikirkan ekonomi keluarganya, tampak dari kejauhan sorot motor.

Karto mulai tersenyum, apakah pengendara itu akan mampir dan makan baksonya. Kalau iya, Karto akan menambahkan beberapa butir bakso. Pasti pengendara itu kedinginan dan kelaparan, sama seperti dia. Tapi laju motor itu aneh. Tampak motor oleng kesana kemari tidak menentu. Apakah ada yang salah dengan motor itu? Atau pengendaranya sedang merasa tidak enak badan? Karto terus memperhatikan motor itu sampai dalam hitungan detik, motor yang seharusnya melaju di jalanan justru mengarah ke gerobak Karto.

Karto tidak sempat menyelamatkan dirinya, dengan secepat kilat motor itu menabrak Karto berserta gerobaknya. 

BRAKKKK!!! Suaranya tabrakan itu kencang sekali. Gerobaknya hancur dan naasnya Karto terpental cukup jauh. Ia langsung tidak sadarkan diri, darah dari badannya bercucuran ditimpa oleh hujan.

Sedangkan pengendara itu hanya jatuh dan langsung bangun. Badannya sudah basah kuyup, ia langsung melepas helm dan melihat Karto, “Aduh…” Kata pertama yang keluar dari mulutnya, mukanya tegang sambil menggigit kuku-kuku jarinya, “Mati gak ya?” Berkali-kali ia melihat Karto. Lalu melihat kembali motornya. Motor itu juga tampak rusak. Dengan kepanikannya, ia mengeluarkan handphone dan langsung mencari bantuan. “Ma…Niko nabrak orang Ma. Niko takut. Gimana ini Ma?”

“Cepat pergi dari sana! Mama dan Papa akan urus semuanya.” Terdengar suara Mamanya yang panik.

Perintah itulah yang keluar dari mamanya. Niko yang panik langsung berlari meninggalkan Karto. Satu perintah dari mamanya membuat Niko tidak peduli bagaimana keadaan Karto. Ia membiarkan Karto begitu saja dan memilih menyelamatkan dirinya sendiri.

Hujan malam itu berlangsung lama sekali. Tidak ada sama sekali bantuan, sampai empat jam setelahnya ada dua mobil yang melintas dan membantu Karto untuk dibawa ke rumah sakit. Namun sayangnya, Karto tidak bisa tertolong. 

Kejadian malam itu menjadi berita, masuk di koran dan beberapa televisi. Namun hanya sekilas dan sebagian orang tidak tertarik untuk melihatnya. Sedangkan di tempat lain. Istri dan kedua anak Karto begitu kehilangan, mereka tidak menyangka kepala keluarga mereka akan pulang secara mendadak. Mereka tidak tahu siapa yang telah membuat Karto meninggal dan tidak mendapatkan keadilan.

***

Anak pertama Karto, Bagas berusaha mencari kejadian yang sesungguhnya pada hari itu. Dengan susah payah, ia menemukan adanya CCTV di dekat lokasi kejadian. Bagas meminta rekaman itu dari pemilik toko. Untungnya pemilik itu baik dan mau memberikan ke Bagas. 

“Semoga pelaku tabrak larinya cepat ketemu ya Nak Bagas.” Ucap pemilik toko itu saat menyerahkan flashdisk.

“Semoga ya Pak.” Bagas memaksakan senyumnya.

Lihat selengkapnya