Di rumah mewah nan megah dengan arsitektur abad 19 ala Belanda. Seorang wanita yang selalu menyebut dirinya Nyai Karma memakai kebaya modern. Nyai memakai gaun yang atasnya brokrat warna coklat gelap dan jarik yang dibuat seperti rok panjang. Nyai menyesap kopi sambil membaca koran “Kenapa berita-berita di koran ini sungguh diluar nalar?” Nyai Karma membolak-balikkan koran dan mencari berita lagi. “Tetap tidak ada yang bisa aku lakukan.” Ia mulai membaca dengan keras, “Korupsi 3 triliyun… ahh kekuatanku belum cukup untuk menyerangnya.”
Nyai melemparkan koran di mejanya. Ia berdiri dan mengambil tasnya, Nyai mulai menggelung rambutnya. Nyai menggunakan tusuk konde dari logam mulia yang berwarna silver. Tusuk konde itu tampak unik. Bentuknya seperti bunga mawar, bukan bunga mawar yang mekar namun yang masih menutup. “Sudah saatnya aku jalan-jalan. Mungkin aku menemukan sesuatu.”
Saat Nyai berjalan-jalan sambil menggunakan payung geulis yang berwarna merah dengan gambar bunga. Kebetulan sekali saat Nyai berjalan, dia melihat ada seorang yang keluar dari kantor polisi. Orang itu adalah Bagas. Ia tampak letih dan lelah, badannya terlihat kurus dan dibawah matanya terlihat sangat gelap.” Aku menemukan target” Ucap Nyai, “Tapi aku harus panas-panasan untuk menemukannya?” Nyai mengomel lagi.
Bagas berjalan dengan muka lesu dan jengkel, dia kesal karena sudah ada bukti yang jelas tapi tidak segera ada tindakan. Bagas sudah hampir menyerah tapi ada wanita yang menghampirinya. “Hei mata panda.”
Bagas kaget melihat orang asing yang mengajaknya berbicara, apalagi langsung menyebutnya mata panda. Apa maksudnya? Dia mau iseng? Bagas mau melawan tapi dia sungkan, sepertinya wanita itu berumur sekitar akhir 20an atau awal 30.
“Baru diusir dari sana ya? Tidak ada yang mau mendengarmu?” Tambah Nyai dengan senyum menyebalkan. Bagas kesal sekali mendengar itu, tapi apa yang dikatakan memang benar. “Mau aku bantu?”
“Kamu bisa membantuku?” Bagas tidak yakin.
Nyai tersenyum lagi, “Aku harus mendengar masalahmu dulu baru bisa aku putuskan bisa membantumu atau tidak.”
Bagas tambah kesal, “Anda ini bagaimana sih? Katanya tadi mau bantu, sekarang bergantung masalahnya. Sudahlah tidak usah, lagi pula saya tidak punya uang untuk membayar anda.” Bagas yakin, wanita ini pasti akan menipunya.
“Heh mata panda!” Bentak Nyai, “Aku tidak butuh uangmu! Uangku lebih banyak.”
“Lalu kenapa anda tanya masalah saya?” Bagas rasanya ingin mengumpat, tapi ia tahu itu tidak sopan. Pasti bapaknya marah kalau Bagas berperilaku seperti itu.
“Entahlah, tapi setidaknya kamu sopan. Tidak seperti anak sekarang.” Nyai menaikkan kedua bahunya lalu merubah pegangan payungnya. “Bagaimana mau aku bantu atau tidak?”
Bagas berpikir, sepertinya tidak ada salahnya. Toh, wanita itu tidak meminta uang. Bagas berpikir, mungkin wanita ini bisa membantu Bagas menyelesaikan masalah bapaknya. “Baiklah” Bagas pasrah.
“ Ayo ikut aku.” Nyai merangkul Bagas dan mereka langsung hilang.
***
Mereka tiba di rumah Nyai. Nafas Bagas tersengal-sengal. “Di mana aku? Kenapa aku bisa di sini? Kamu siapa?” Bagas panik karena apa yang baru dialaminya sangat aneh. Bagaimana mungkin dia bisa berpindah dalam waktu hitungan detik. Apa dia sudah mati? Tidak mungkin, Bagas tidak boleh mati seperti ini. Masih ada ibu dan adiknya yang membutuhkan Bagas.
Nyai kesal setiap orang yang ia bawa selalu menyangka kalau dia penculik atau pembunuh.
“Jangan takut mata panda, aku bukan penculik. ”Bagas membuka mulutnya Nyai tahu apa yang akan diucapkan Bagas, “Aku juga bukan pembunuh.”