Pagi yang cerah di bulan Mei.
Seperti biasa, Komang bangun lebih awal. Ia mengantar istrinya, Wayan, ke pasar buat beli lauk pauk. Setelah sarapan, ia pamit berangkat kerja.
Hari itu berjalan seperti biasa. Komang bekerja sebagai kuli bangunan.
Wajahnya memang terlihat lelah dan penuh keringat, tapi ia tetap tersenyum.
"Tidak apa-apa panas-panasan. Yang penting nanti dapat gaji," batinnya.
"Komang dua bulan lagi sekolah. Aku harus ada uang. Belum lagi SPP Kadek... belum terbayar juga," gumamnya pelan sambil mengaduk semen.
Waktu terasa cepat. Sore pun tiba.
Begitu motornya masuk pekarangan, anak bungsunya yang masih belepotan karena belum mandi langsung lari-lari kecil menyambut.
“Bape! Bape bape!” teriaknya riang sambil memeluk kaki ayahnya.
Komang tertawa kecil, mengusap kepala si kecil.
"Bape, besok kerja lagi ya?" tanya si kecil polos.
"Memang kenapa?"
“Tidak... mau nanya saja. Hmm... ada uang, Pe? Mang boleh beli permen loli?”
Komang menghela napas pelan, lalu membuka tas gandeknya. Ia mengeluarkan sebungkus permen kecil.
“Kalau permen ini ada sekarang. Permen lolinya nanti ya, nunggu Bape gajian,” katanya lembut.
Malamnya, di dalam rumah suasana agak sepi. Komang masuk dan melihat Kadek, anak keduanya, duduk dengan wajah datar.
“Eh Kadek, kamu kenapa?” tanya Komang khawatir.
“Tidak Bape, tidak apa-apa. Eh Bape pasti capek. Aku sudah siapkan air buat mandi ya,” jawab Kadek lesu.
Komang paham. Ekspresi seperti itu pasti ada sesuatu yang mengganjal di hati Kadek. Tetapi ia belum tahu apa.
Setelah anak-anak tidur, Wayan akhirnya bicara pelan.
“Bli Komang... kita sudah nunggak enam bulan SPP-nya Kadek. Gurunya bilang mau tahan raportnya. Sudah ada uang?”
Komang terdiam. Dadanya sesak.
“Belum ada, Yan... belum gajian. Tapi aku usahakan ya.”
Hari-hari berikutnya Komang kembali bekerja keras. Mengangkat karung semen lima puluh kg satu per satu. Keringat bercampur debu semen mengotori bajunya.
“Hari ini gajian nggak ya? Aku udah banyak kasbon sama bos. Belum lagi SPP,” pikirnya.
Saat istirahat siang, teman-temannya makan dengan lauk enak. Komang hanya punya nasi, sayur rebus dan sambal.
“Tidak apa-apa. Yang penting makan,” hiburnya pada diri sendiri.
Seminggu kemudian tibalah gajian.
Teman-temannya dapat satu juta, lebih. Sedangkan Komang hanya pegang lima ratus ribu.
“Ya ampun... kepotong kasbon semua,” batinnya kecewa, tapi ia tetap pulang dengan senyum.
Di rumah ia menyerahkan empat ratus ribu ke Wayan.
“Yan, ini gajiku cuma segini. Seratus ribunya buat bensin ya. Empat ratus ribu tolong kamu atur.”
Wayan menerima sambil menahan sedih. Dalam hati ia menghitung. "Listrik nunggak, paket data habis, beras tinggal tiga gelas, cicilan motor belum bayar."
“Kalau terus begini gimana bisa hidup? Tapi... ini kemampuan dia. Aku tidak bisa maksa,” batin Wayan sambil mengusap lengan suaminya.
Dari balik pintu, Kadek mengintip. Matanya berkaca-kaca.
“Bapak cuma dapat lima ratus ribu... itu jauh dari cukup. Buat makan aja kurang. SPP-ku gimana? Semoga sekolah bisa maklumi,” pikirnya.
Tiba-tiba Komang si bungsu menghampiri kakaknya.
“Mbok Kadek, ajarin aku dong,” rengeknya semangat.
“Ajarin apa?”
“Ajarin nulis! Kan sebentar lagi aku mau SD. Aku kan tidak TK. Ajarin aku ya, Mbok Kadek ya,” pinta Komang dengan mata berbinar.
Kadek tersenyum, walau hatinya berat.
“Ya sudah... aku ajarin. Tapi janji jangan cepat bosan ya. Kalau kamu bosan, Kakak tidak mau ngajarin lagi.”
Mereka belajar di ruang tengah. Dari celah kusen, Komang si ayah memperhatikan.
Melihat anak-anaknya semangat belajar, hatinya campur aduk. Bangga, haru, sekaligus sedih.