Hari itu, Komang tengah bekerja. Tidak sengaja ia terpeleset akibat lantai beton yang basah. Tubuhnya lecet. Namun, ia tetap memaksakan diri untuk bekerja.
Seperti biasa, sore itu Komang pulang. Setelah turun dari motor, kakinya pincang. Istrinya, Wayan, mempertanyakan kondisi Komang.
"Bli Komang, apa yang terjadi? Kok bisa terluka?"
Komang santai menjawab, "Ya jatuhlah, masak terbang. Kepeleset tadi, makanya luka." Ia tersenyum manis.
Istrinya menatap datar. "Ini sakit, jangan dibawa bercanda. Itu lecetnya parah, loh," ucap Wayan.
Mereka masuk ke dalam. Luka-luka itu diobati.
"Bli, besok jangan kerja, ya. Lukanya ini parah," saran Wayan.
Komang cengengesan. "Kalau tidak kerja, kan tidak dapat uang. Kerja sajalah, lagian cuma di bawah, kan tidak naik ke lantai dua," ucap Komang menghibur.
"Tapi tetap saja. Kerja berat itu maksa, nanti radang, makin parah sakitnya. Sudah, istirahat saja." Komang tidak bisa membantah saran istrinya.
"Iya, tapi..."
"Ya sudah deh! Dengerin. Jangan pakai tapi-tapi. Stok beras masih ada, bumbu dapur masih, uang aku ada. Sudah, istirahat tiga hari, empat hari lagi baru kerja. Dengerin kata-kataku!" tegas Wayan.
* * *
Langkah kaki Kadek terhenti begitu melintasi ambang pintu. Di ruang tengah, tampak sang ayah terbaring lesu di atas kasur tipis. Pemandangan itu seketika membuat dada Kadek berdegup kencang. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menghampiri.
"Bape, kenapa bisa begini?" tanya Kadek, suaranya bergetar menahan cemas.
Komang, sang ayah, mencoba mengulas senyum tipis meski wajahnya pucat. "Jatuh tadi di tempat kerja. Tidak apa-apa, cuma lecet sedikit."
Kadek tidak bisa menganggapnya sesederhana itu. Matanya menatap nanar luka memar dan goresan yang cukup parah di lutut serta siku sang ayah. Terlebih lagi, siku bagian kanan yang tampak membengkak.
"Bape, luka separah ini dibilang tidak apa-apa? Kalau aku yang kena, pasti sudah meringis kesakitan," protes Kadek, matanya mulai berkaca-kaca.
Melihat raut wajah anak keduanya yang diliputi kepanikan, Komang berusaha mencairkan suasana. "Ooh, masa luka segini saja mau menangis? Sakit sih iya, tapi jangan menangis, dong. Lagian Bape ini kan sudah berumur, masa mau menangis seperti bayi?"
Komang mencoba ngebanyol untuk menghibur, tetapi lelucon itu sama sekali tidak mengurangi rasa cemas di dada Kadek.
"Bape jangan bercanda! Sakit, kan? Masih sakit? Bapa jangan bohong sama aku," cecar Kadek, menginterogasi dengan tatapan menuntut kejujuran.
Ruang tengah itu hening sejenak. Komang memandangi Kadek yang masih mengatur napasnya.
"Bape sudah makan?" tanya Kadek kemudian, memecah keheningan.
"Belum."
"Meme ke mana?"
"Meme lagi mengantar pesanan," jawab Komang pelan.
Kadek menarik napas panjang. "Ya sudah, Bape diam saja di sini. Biar aku yang ambilkan makanan sekarang."
"Boleh, boleh. Tapi jangan banyak-banyak, ya. Nanti tidak habis," pesan Komang saat melihat Kadek berbalik menuju dapur.
Di balik dinding dapur, jemari Kadek bergetar saat merengkuh piring. "Bapa pasti kepikiran sampai hilang fokus di tempat kerja. Pasti karena memikirkan tunggakan SPP-ku yang sudah enam bulan... dua juta lebih," batinnya ringkih. Penyesalan merayapi hatinya.
Ia segera menyendokkan nasi, lauk pauk, dan menuangkan segelas air hangat. Semua ditatanya rapi di atas nampan kayu sebelum dibawanya kembali ke ruang tengah.
"Bape, kalau begini terus, sepertinya aku harus berbuat sesuatu. Setidaknya untuk mengurangi beban Bape," ikrar Kadek dalam hati sembari meletakkan nampan di dekat tempat tidur ayahnya.
"Eh, mau disuapi Bape?" tanya Kadek perlahan.
Komang terkekeh canggung. "Disuapi? Bapa ini sudah tua, sudah besar. Bukan bayi lagi, kok disuapi," tolak Komang halus.
Kadek hanya menatap datar, tidak terpengaruh oleh gengsi sang ayah.
Komang kemudian meraih sendok dan mencoba menyendok nasi. Namun, baru saja tangan kanannya terangkat beberapa sentimeter, rasa perih yang teramat sangat menjalar dari sikunya hingga merambat ke ubun-ubun. Ototnya melemas seketika.
*Cring!*
Sendok di genggamannya terlepas dan jatuh menimpa piring. Komang memejamkan mata rapat-rapat, menahan nyeri.
Tanpa mengeluh, Kadek memungut sendok itu dan mengusapnya bersih. Ia mengambil alih piring tersebut, lalu menyendokkan nasi.
"Bape, biar aku yang suapi. Sekarang giliran aku yang merawat Bape. Sudah, tinggal buka mulut saja," tegas Kadek tanpa memberikan ruang untuk bantahan.
Kedatangan Luh anak tertua di rumah itu, seketika memecah suasana haru di ruang tengah. Melihat pemandangan romantis saat Kadek menyuapi ayahnya, Luh melangkah masuk sambil bersenandung menggoda.
"I love you, Bebeh..." ucapnya jenaka, berjalan santai tanpa menyadari situasi.
Mendengar godaan itu, Kadek langsung menoleh dengan tatapan tajam. "Lihat, Bapak babak belur! Tidak bisa makan sendiri! Kacau nih baru datang... habis mabuk, ya?!" semprot Kadek, tak mampu menahan kekesalannya.
"Ah, apa? Bapak jatuh?" Luh terperanjat.