KARMA KITA

Novia dewi
Chapter #4

Tawa Pereda Sakit

Setelah setengah jam lebih berlalu, Nengah dan Ketut kembali lengkap dengan membawa ayam 'cundang' dan bumbu dapur. Mereka juga mengeluarkan peralatan yang digunakan untuk mengolah ayam dari dapur Komang.

Di pekarangan itu ada sebuah sekepat atau lesehan. Mereka di sana bekerja.

"Oh ya, Komang. Apa saja bumbunya yang perlu dipakai?" tanya Nengah

"Biasa, bawang merah, bawang putih. Kamu cincang dulu itu," ucap Komang

Lalu menoleh temannya yang di bawah. "Oh ya, Tut, tolong nanti cabut bulunya yang bersih."

Ketut menoleh datar.

"Iya, karena kamu jijik dengan bulu ayam. Sudah paham," ucap Ketut.


Nengah tertawa. "Ya ya ya. Siapa sih yang mau makan bulu ayam? Yang enak tuh daging ayam, masa makan bulu," ucap Nengah.


Datanglah istri Komang, Wayan.

"Oh ya, Bli. Masaknya di mana nanti? Soalnya gasnya mau habis."

"Di dapur tungku saja. Lagi pula aku sudah bawa kemarin sisa potongan kayu dari tempat proyek."

"Em, baiklah. Jadi, pancinya berapa gayung diisi air?"

"Panci ukuran sedang kasih dulu tiga gayung. Nanti untuk rebus ini dulu. Jangan lupa diisi dengan daun salam," instruksi Komang.


Ketut dan Nengah setengah berbisik.

"Ya, ini baru *chef*."

"Ya, *chef*."

Tapi Komang menatap datar. " Chef-nya apa?"

"Tidak resmi. Karena kamu bukan chef yang ada di TV. Kamu ini chef. Seven-Seven alias tujuh tujuh. Tahu kan arti bahasa Balinya sepan-sepan? Buru-buru," ledek Nengah.

"Apanya yang lucu? Tujuh tujuh. 'Jampi' tuh, itu maksudnya, jampi alias sariawan," sahut Ketut tertawa dari bawah.

"Eh, kalian berdua."


Mereka menoleh.

"Kalau begini kamu tidak usah lagi berurusan dengan sabung ayam, Ngah!" melotot tajam

"Dan kamu juga, Tut, tidak usah lagi jadi tukang. Jadi komedian saja. Aku yakin satu panggung tertawa dengan komedi kalian itu."

Mereka menatap tajam.

"Oh, komedi mukamu," ucap Nengah

"Lihat tuh mukamu, kayak rumah komedoan."


Komang tertawa meledek. Sampai dia lupa kalau sendang terluka. Sedikit gesekan membuat rasa sakitnya terasa sampai di ubun-ubun.


* * *


Tidak berselang lama, datanglah Komang, anak paling bungsu. Dia terlihat sangat kepo dengan kegiatan para orang tua.

"Paman, dapat ayam dari mana kok luka-luka semua?" tanya Komang.

"Habis nemu hanyut di got tadi."

Komang menatap datar. "Mana ada hanyut di got? Ini kan musim kemarau. Siapa juga yang mau hanyutin ayam?" ucap bocah itu.

"Ih, beneran. Nemunya di got."

Ketut menyela, "Ah, got... tahu enggak artinya, go to Teboan."


Komang sangat paham apa maksud dari Ketut.

"Oh, ayam yang kalah itu ya," ucapnya sambil menatap sinis Nengah.

"Eh, Paman, kasih informasi yang benar. Kalau tidak benar, sandal ini yang akan bicara sama Paman," ancam Komang sambil melepas sandal jepit di kakinya.


"Wih, sabar Man, sabar sabar sabar. Jangan seperti itu. Jika kamu melemparnya kepadaku, nanti bumbunya kotor. Komang mau makan bumbu kotor?" ucap Nengah.

Komang bungsu menahan diri dan kembali mengenakan sandalnya.

"Orang tua ini..."


Memandang ayahnya, "Eh, Bape, kasih tahu temannya. Kalau ngasih informasi jangan ngawur. Kayak orang habis minum arak, setengah-setengah."

Ketut terkekeh. "Ya, setengah sadar, setengah tidak sadar. Kelihatannya tidak apa-apa, tapi pikirannya mereng-mereng, setengah satu."


Mendengar ledekan itu, Nengah sedikit kesal.

"Hmm, setengah satu ya. Kalau ini, ku kasih kamu setengah bawang," ucapnya sambil melemparkan bawang yang setengah dipotong.

Ketut menghindar. "Wits, tidak kena, Bro!"


Komang merasa kurang senang melihat jika ada yang membuang-buang bahan makanan.

"Eh, kalian!"

Ketut dan Nengah menoleh ke arah Komang.

"Kalian umur berapa?"

"Kok nanya umur?" tanya Ketut.

"Iya, kelakuan kalian kayak bocah yang baru delapan tahun. Sudah empat puluhan kelakuan kayak bocah. Terus kapan selesai ayamnya?"


Mereka menelan ludah.

"Nanti keburu 'buyung gadag', lalat ijo ke sini. Mau kalian makan yang bekas lalat?"

Mereka tidak banyak bertingkah lagi dan kembali bekerja sesuai bagian tugasnya masing-masing.


Melihat sedikit kegaduhan di area sekepat, Wayan segera memanggil anaknya.

Lihat selengkapnya