Beberapa hari telah berlalu. Kini hari pembagian rapor telah tiba. Kadek beserta murid-murid lainnya sama-sama menerima rapor mereka. Kadek mencermati hasil prestasinya, nilainya cukup baik, setidaknya tidak ada nilai merah.
Di gerbang sekolah, Komang setia menunggu Kadek keluar. Satu per satu murid mulai meninggalkan area SMP. Dengan rasa gembira, Kadek langsung menghampiri ayahnya.
"Bape, akhirnya semester ini tidak ada nilai merah lagi dan aku bisa naik ke kelas tiga!" ucap Kadek antusias.
"Iya, Dek. Kamu tidak perlu harus jadi juara, yang penting mencapai nilai standar saja itu sudah sangat baik," sahut Komang.
Mereka pulang berkendara bersama. Sesampainya di rumah, Kadek langsung memperlihatkan hasil rapornya kepada sang ibu.
Ibunya terlihat gembira, bukan hanya karena nilai yang diraih Kadek, melainkan karena akhirnya rapor tersebut bisa dibawa pulang setelah seluruh biaya SPP dilunasi.
Hari ini seluruh siswa merayakan hari libur. Namun, berbeda dengan Luh dan Kadek. Mereka malah berpikir, apa yang harus mereka lakukan selama liburan ini. Mereka menyadari bahwa orang tua mereka tidak selalu memiliki uang.
"Mau tidak mau, kita harus bekerja. Ya, setidaknya kita punya uang sendiri untuk beli peralatan sekolah tahun ajaran baru ini," kata Kadek.
Luh berpikir sejenak. "Iya sih, Dek. Tapi kerja apa? Nanti kalau kerja di toko, malah dikira eksploitasi anak. Kasihan pemilik tokonya. Beda sama aku, aku kan sudah punya KTP," ucap Luh.
"Ya sih, Kakak beruntung. Beasiswa dapat, KTP juga sudah punya. Kalau Mbok mau kerja paruh waktu juga tidak masalah. Kalau aku..." Kadek menghentikan kalimatnya. Terlihat raut kekecewaan yang jelas di wajahnya.
Luh merangkul dan memegang pundak Kadek. "Dek, sepertinya kita tidak perlu kerja di toko. Bagaimana kalau kita kerja di peternakan ayam? Katanya mereka sedang butuh tenaga kerja buat angkut ayam."
Kadek berpikir sejenak. "Angkut ayam?"
"Iya, angkut ayam. Memangnya kenapa, sih? Kan kita juga suka makan ayam," sahut Luh.
"Bukan begitu, Mbok. Maksudku, ayamnya itu ayam kampung atau ayam broiler?" tanya Kadek.
"Ayam broiler di perusahaan besar yang di pinggiran kecamatan itu," jelas Luh.
"Oh, oke deh. Tapi kita tanya dulu ya, apakah diizinkan sama Meme dan Bape?" saran Kadek.
Setelah beberapa jam, niat dan rencana mereka tersebut kemudian disampaikan kepada kedua orang tua mereka.
Wayan tengah sibuk membelah bilah bambu. Terdengar dari kejauhan suara bambu beradu dengan balok kayu.
"Meme," ucap Kadek, hingga pekerjaan Wayan terhenti.
"Ada apa, Dek?" tanya Wayan.
"Me, boleh kan aku ikut kerja bareng Mbok Luh?"
Wayan terdiam beberapa saat. "Memang mau kerja apa?"
"Kerja angkut ayam. Kebetulan temanku juga mengajak. Di sana perlu banyak tenaga kerja karena ayamnya mau dibawa ke Jawa," jelas Luh.
"Eh, lokasinya di mana?" tanya Wayan.
"Lokasinya di perbatasan kecamatan itu loh, di peternakan terbesar," jelas Luh lagi.
"Oh, di sana. Ya sudah, kalau Meme sih mengizinkan. Tapi bagaimana dengan Bape? Tanya dulu deh."
Mereka melihat ke sekeliling. "Bapa di mana?" tanya Kadek.
"Bape lagi ikut rapat. Tunggu sebentar. Nanti kalau disetujui, baru kalian putuskan kapan mulai," saran Wayan.
* * *
Setelah satu jam berlalu, Komang pulang membonceng anak bungsunya. Belum sempat turun dari motor, Kadek bergegas berlari menghentikan laju motor begitu baru sampai di pekarangan.
"Bape, Bape!" Raut wajah Kadek terlihat panik, membuat Komang jadi kebingungan.
"Ada apa, Dek? Apa ada sesuatu yang belum lengkap?" tanya Komang.
Luh tertawa. "Ya apa yang belum lengkap? Belum lengkap kalau tidak ada uang," ucap Luh cengengesan.
"Maksud kalian apa? Bisa bicara yang jelas?" tegas Komang.
"Bape, begini. Mumpung libur, aku mau ikut Mbok Luh kerja angkut ayam broiler di perbatasan kecamatan itu, di pabrik besar itu."
Komang berpikir sejenak. "Mereka mau kerja... Wah, anak-anakku sudah mulai berpikiran dewasa. Tapi kalau tidak kubolehkan, semangat mereka nanti patah. Kalau direstui, aku khawatir. Masalahnya mereka ini anak perempuan," batin Komang.
Kadek menggoyang-goyangkan lengan ayahnya. "Bape, boleh tidak? Tolong keputusannya sekarang, harus sekarang," desak Kadek.