Setelah hampir satu bulan berlalu, murid kembali lagi bersekolah. Komang, anak paling bungsu, kini sudah resmi menjadi murid kelas 1 SD. Bersamaan dengan itu, ayam dan bebeknya juga sudah mulai tumbuh besar, sesuatu yang menggembirakan bagi anak-anak.
Wayan dan Komang sangat senang karena anak-anaknya telah belajar mandiri, tidak seperti anak-anak lain.
"Bli Komang, ternyata hidup susah kita ada gunanya juga."
"Iya, Wayan. Dari kesusahan ini mereka akhirnya mau belajar mandiri."
"Ya, semoga saja ke depannya mereka tidak susah lagi kalau cari kerja."
"Ya, Bli Komang."
Ketiga anaknya sangat telaten mengurus unggas-unggas itu, terutama Luh dan Kadek. Mereka membagi ayam yang berjumlah enam ekor, dua ekor ayam jantan dan empat ekor ayam betina.
Kandang telah dibuatkan khusus oleh ayah mereka sehingga mereka tidak usah berdebat lagi tentang tempat. Uang saku pun mereka sisihkan untuk membeli pakan ayam mingguan.
Teman-teman Luh datang ke rumah. Seperti biasa, mereka ada tugas kelompok. Karena Luh sudah masuk kelas tiga SMA, yang difokuskan adalah ujian.
"Luh, kamu pelihara ayam?" ucap Susi.
"Iya, pelihara ayam. Memang kenapa?"
"Tidak, sih," ucap temannya yang laki-laki, bernama Agus. "Eh Luh, kayaknya dari beberapa ekor itu bakalan jadi banyak deh."
"Iya, jadi banyak," ucap temannya yang lain.
Terlihat wajah teman-temannya sumringah. Luh merasa aneh. "Kalian kenapa menatapku begini?"
Agus tertawa kecil. "Begini Luh, nanti kalau kamu jadi penjual unggas atau ayam kampung, promosiin deh. Bibiku kan jualan banten, mungkin perlu juga nanti ayam. Tapi tidak sekarang ya, tahun depan kalau sudah banyak aku promosiin deh."
Susi menggoda, "Cie, segitunya... perhatian banget sih sama Luh. Jadi iri deh."
Teman yang lain tertawa cekikikan. Agus sedikit tersinggung. "Eh, bantuin teman! Mikirnya kejauhan."
Mereka makin tertawa.
"Eh sudah-sudah, diam! Kita kerja kelompok, bukan ngurusin yang tidak penting. Ya sudah, kita harus bahas nih soal,"tegas Luh.
* * *
Sore itu, Komang anak paling bungsu diam di depan kandang ayam. Dia menghitung jumlah ayam yang ada dan mencoba menulis angka di atas kertas buku tulis. Melihat itu, ibunya, Wayan, mendekat.
"Mang, ngapain di sini?"
Komang menoleh. "Lagi belajar berhitung, Me. Aku kan tidak punya sempoa, jadi boleh kan ayamnya aku jadiin itung-itungan?"
Lalu, datanglah ayahnya Bli Komang. "Wih, ada hal seru apa berdua di sini?" ucap ayah Komang berpura-pura tidak tahu.
"Aku sedang belajar berhitung, Pe. Aku nggak punya sempoa, jadi pakai ayam. Boleh kan?" ucap Komang.
Ayahnya mengangguk pelan. "Boleh, boleh. Selama kamu tidak ambil ayam kakakmu ini. Kamu tahu kan, Mbok Kadek orangnya rada sensitif begitu?"
Bli Komang cengengesan. Tanpa disadari, di belakang Kadek memperhatikan semua. Ia melipat tangan di dada, beraut kesal.
"Oh, Bape ini ya... berani sekali ngomongin jelekku di belakang!"
Mendengar ucapan itu, Bli Komang menoleh ke belakang lalu nyengir kuda. "Ampura, Kadek," ucap ayahnya itu.
"Ampura, ampura! Maaf, maaf! Berkali-kali berbuat menyebalkan Bape ini," ucap Kadek ketus.
Datanglah Luh. "Hei, kalian sedang sidang apa di sini? Seru banget," goda Luh.
"Nih, nih, mbok Luh datang! Bisa diam tidak? Bapak sama anak sama saja, nyebelin!" Kadek melangkah cepat meninggalkan tempat itu.