KARMA KITA

Novia dewi
Chapter #7

Hadiah Bos Besar

Sore itu Komang termenung di teras. Ia tengah memikirkan keputusannya tadi siang itu sudah tepat. Melihat suaminya bengong, Wayan coba mengajak bicara Komang.

Komang menoleh. "Ya, Wayan," ucap Komang dengan tatapan penuh pikiran.

Wayan duduk di sebelahnya. "Bli Komang, apa sih yang mengganjal pikiranmu sampai bengong begitu?"


Untuk beberapa saat Komang terdiam. "Begini loh, Yan. Taji warisan kakekku aku pinjamkan ke Bli Kome."

"Apa? Bli Kome? Yang bertampang sangar dan bertato yang datang kemarin itu?" ucap Wayan.

"Iya."

"Bisa dipercaya itu orang? Rumornya dia itu selalu kalah kalau sabung ayam."


Komang terdiam. "Iya, katanya kalah ataupun menang, dia akan kembalikan taji itu. Itu taji warisan."

Wayan dan Komang terpaku memandang lurus ke depan.


Komang anak bungsu mendekat. "Meme, Bape."

Mereka menoleh ke arah belakang. "Ada apa, Mang?" tanya Wayan.

"Aku mau beli buku tulis dong. Buku tulisnya sudah habis."

Wayan melirik suaminya. Ia mengeluarkan uang Rp100.000. "Ini," ucapnya menyerahkan kepada Wayan.

Komang si anak bungsu dan Wayan, keluar rumah.


Tidak lama datanglah Luh dan Kadek. Setelah parkir motor, mereka menghampiri ayah mereka.

"Bape, berapa laku tadi ayamnya?" tanya Luh.

" Satu juta dua ratus," ucap Komang lesu.

"Bape, kok mukanya seperti itu? Habis kalah lomba lari ya?" gurau Kadek.

Komang hanya tersenyum tipis.

"Terus mana uangnya, Pe?" tanya Luh.


Ia menyerahkan semuanya. Setelah dihitung hanya satu juta seratus.

"Seratusnya kemana, Pe?"

"Adikmu mau beli alat tulis..." kalimat itu terpotong.

"Oh, ya sudah. Kalau buat alat tulis tidak k apa-apa."

Kadek menatap nakal ke arah Luh. "Loh, bagi dong dua ratus."

Luh menatap datar. "Buat apa?"

"Buat apa ya... Minta saja dua ratus, memang tidak boleh?"

Ia menyerahkan dengan ringan uang dua lembar seratus itu. "Ini tapi buat keperluan ya, bukan buat yang lain."

"Oke, deh Mbok, tenang saja," ucap Kadek gembira.


* * *


Malam itu berlangsung seperti biasa. Ketiga putrinya tengah sibuk belajar dan istrinya tengah menganyam. Satu-satunya yang sibuk dengan pikiran hanyalah Komang.

"Menang tidak ya Bli Kome itu? Tapi yang aku khawatirkan taji itu... " gerutu hatinya

"Aduh, Mang, kenapa kamu begitu bodoh? Langsung percaya, dasar naif!" menyalahkan dirinya sendiri.

"Tapi sudah terlanjur. Aku harap dia benar-benar kembalikan taji itu," batinnya.


Lihat selengkapnya