KARMA KITA

Novia dewi
Chapter #8

Si Pengintai

Setelah berlalu sekitar tiga minggu, kandang ayam itu sudah selesai dibangun, lengkap dengan keamanan, pagar duri, dan kamera CCTV. Satu per satu ayam aduan kualitas premium dibawa ke kandang itu.

"Bli Komang, saya percayakan semua ini kepada Bli. Nanti kalau perlu apa-apa tinggal hubungi saya," ucap Made.

"Baiklah, Bli Made," ucap Komang.

"Nanti tiga bulan lagi saya akan cek ke sini, karena pastinya tiga bulan lagi ayam-ayam jantan ini semua pasti layak untuk dijual. Karena ada pembeli yang mau datang langsung dari Thailand ke sini mengecek ternak kita."

"Orang Thailand? Tapi saya tidak bisa bahasa Thailand, tidak bisa juga bahasa Inggris."


Made tertawa kecil. "Sudah, tidak penting kamu bisa bahasa Inggris atau tidak, Bli. Yang penting yang saya mau itu adalah Bli mengurus ayam ini dengan baik. Agar kualitasnya memang premium, layak untuk diekspor."

Komang penasaran, dan ia menanyakan berapa harga per ekor ayam itu. "Iya, Bli Made. Saya mau tahu, berapa sih harga untuk ayam kualitas ekspor seperti ini?"

"Sebenarnya tidak mahal, sih. Kalau untuk bibit yang seperti ini, ini sekitaran seekor dua juta. Kalau sudah besar, cocok untuk ayam aduan, itu bisa sepuluh sampai lima belas juta, Bli Komang."


Mendengar itu, Komang hanya terpaku. Ayam yang dipelihara bukanlah ayam sembarangan. Satu ekor yang belum dewasa saja sudah dua juta.

"Waduh, ini namanya barang premium. Harus dijaga baik-baik nih, batin Komang," batin Komang

Setelah basa-basi, Made pergi dari sana dengan mengendarai mobil.


Sore telah menjelang, Komang kembali ke rumah. Setelah tidak berapa lama, ada tiga orang yang mendekati tempat itu. Niat mereka sama sekali tidak baik.

"Wah, si Komang itu pakai pelet apa sih? Sampai bos besar mau mempekerjakan orang seperti dia," ucap seseorang yang sudah terlihat ubannya.

"Iya, dia pasti pakai pelet. Bukannya kakeknya terkenal dengan guna-guna?" ucap yang lain.

"Ya, benar. Kita harus selidiki, kita harus dapatkan barang bekas yang dia miliki itu. Kita yang lebih pantas dari si pecundang Komang itu," ucap yang lain.


Mereka mencoba masuk, namun kamera CCTV terpampang jelas di pintu masuk. Terlebih lagi, terlihat sebuah logo tanda petir yang menandakan kalau kawat-kawat berduri itu memiliki listrik tegangan tinggi.

"Waduh, si bos besar itu pakai sistem seperti ini. Gimana kita mencurinya?"

"Iya, betul. Ternyata bukan orang ceroboh, pakai sistem."


Lalu dicoba didekati, tidak satu pun ada lubang kunci.

"Wah, pakai sistem. Ini sulit untuk dibobol."

Karena niat mereka tidak bisa terlaksana hari itu, mereka pergi dari sana.


Made mengirimkan video rekaman CCTV ke HP Komang. Sampai di rumah, Komang membuka pesan masuk. Terlihat jelas apa yang terjadi pada rekaman. Segera ia menelepon Made.

"Bli Made, sepertinya orang-orang itu berniat mau mencuri."


Made tertawa kecil. "Sudahlah, Komang, saya tahu. Makanya saya buat sistem seperti itu agar tidak mudah dibobol." Made terdiam sejenak. "Oh ya, Bli Komang, apakah selama ini Bli Komang ada orang yang tidak suka atau pernah berbuat salah terhadap orang lain?"

Komang berpikir. "Kalau saya buat masalah sih tidak pernah. Tapi ada sih beberapa orang yang iri sama saya. Entahlah. Saya juga tidak mau bahas mereka," ucap Komang.

"Baiklah. Berhati-hatilah Bli Komang, karena orang baik seperti Anda ini akan selalu jadi incaran," nasihat Made.

"Iya Bli Made, tentu saja." Lalu telepon diakhiri.


Wayan mendengar seluruh percakapan itu, kemudian mendekat. "Bli Komang, siapa yang mau mencuri?" tanya Wayan.

"Entahlah. Kamu bisa lihat dari rekaman ini," Komang menyerahkan HP-nya. "Oh ya, aku mau istirahat. Tolong hari ini jangan ganggu sampai besok pagi. Mau tidur tenang," pesan Komang.

"Iya, ya. Molor deh sampai puas. HP-nya?"

"Boleh dong."

"Iya, ya. Mau nonton apa kek, serah, silakan. Yang penting jangan ganggu," pesan Komang.



* * *

Lihat selengkapnya