Waktu sudah berlalu lebih dari tiga bulan. Sesuai yang dikatakan Made, orang yang datang dari Thailand itu langsung mensurvei ayam aduan di kandangnya. Komang hanya memperhatikan.
Dia tidak mengerti bahasa yang sedang diucapkan, namun dari situ Komang belajar tipe ayam apa yang paling diminati oleh mereka.
Setelah berlalu sekitar dua jam, orang-orang itu pergi dengan membawa ayam pilihan masing-masing. Yang mengherankan, dari lima puluh orang yang datang, tidak satu orang pun yang memberikan uang tunai, mereka hanya saling mendekatkan HP.
Setelah semua pergi, Komang menanyakan hal itu kepada Made.
"Bli Made, kok mereka tidak bayar, langsung pergi saja?"
Made tersenyum. "Mereka sudah bayar kok, Bli Komang."
"Tapi aku lihat kok mereka tidak ngasih uang?"
Made tertawa kecil. "Bayarnya pakai QRIS, uang digital. Tidak usah repot-repot lagi bawa uang banyak."
Penjelasan itu agak membingungkan bagi Komang karena ia orang yang gaptek.
"Makanya aku minta Bli Komang urus ayam saja. Masalah transaksi karena pakai QRI, tidak semua orang paham, jadi itu urusanku."
Komang mengangguk pelan.
"Oh ya, ini ada bonus." Made mengeluarkan uang dari tasnya. Uang itu setengah gepok, sekitar lima juta rupiah.
Melihat itu, Komang sedikit heran. "Kok banyak sekali dapat bonus?"
Made cengengesan. "Ya iyalah, Bli Komang. Ayam tadi aku kira mereka cuma mau beli sekitaran lima belas juta."
Senyum sumringah, "Tapi ternyata masing-masing ayam dibeli dua puluh juta. Ada enam ekor, enam kali dua puluh juta. Coba deh, itu untung berapa?"
Komang berpikir sebentar, namun kepalanya serasa error. "Tidak bisa ngitung Bli, pusing."
Made tertawa lepas. "Ya sudah, biar tidak pusing, lakukan apa yang bisa dilakukan. Pelihara ayam-ayam ini dengan baik."
Setelah itu, Made pergi meninggalkan kandang ternak. Komang hanya menatap ke sekeliling. Yang terdengar hanyalah suara kokokan ayam jantan.
* * *
Sesampainya di rumah Komang menceritakan semua. Niat itu diutarakan kepada ketiga putrinya.
"Melihat potensi yang besar ini, Bape berniat untuk menurunkan sedikit ilmu kepada kalian bertiga," kata Komang sambil menatap ketiga putrinya.
Ketiga putrinya menghentikan aktivitas mereka dan memperhatikan sang ayah dengan serius.
Komang terlihat serius. "Potensi peternakan ayam aduan ini sangat bagus. Ini sudah masuk kategori ekspor, bukan ayam biasa lagi."
Komang menghela napas pelan sebelum melanjutkan kalimatnya. "Kalian harus tahu seluk-beluk bisnis dan perawatannya dari sekarang. Besok kalian ikut ke kandang ternak.
* * *
Hari berganti mereka pergi ke kandang, hari minggu seperti itu anak lain bersenang-senang. Berbanding terbalik dengan mereka, ke kandang turun langsung ke lapangan, belajar.
"Lihat peternakan ini, sistem dan perawatannya moderen dan bersih."
Komang menunjukkan seluruh sistem dan cara kerja. Itu terlihat mudah secara sistem, tetapi tersa berat bagi mereka.
"Tapi, Pe .. apa kami bertiga benar-benar sanggup?" ucap Luh menatap deretan kandang yang berjejer rapi di hadapan mereka.
"Ayam aduan ekspor itu beda. Perawatannya rumit, pakan dan jamunya ketat, belum lagi soal mental dan katuranggan tiap ayam yang harus dibaca satu per satu."
Putri keduanya memotong dengan matanya yang berbinar penuh rasa ingin tahu. "Justru itu tantangannya, Mbok. Kalau sudah tembus pasar luar negeri, artinya kualitas ayam aduan dari peternakan kita ini diakui dunia."
Antusias tumbuh, "Aku mau belajar dari Bape, terutama soal cara melatih dan memilih bibit unggulnya."
Sementara itu, si bungsu, Komang bocar perempuan merapat dekat ke Komang, menatap sang ayah dengan raut khawatir.
"Bape jangan ngomong seolah-olah mau pergi jauh. Kami mau belajar, tapi kami tetap butuh Bape di sini buat ngajarin kami pelan-pelan."
Komang tersenyum tipis melihat beragam tanggapan dari anak-anaknya.
"Bape tidak ke mana-mana sekarang. Tapi belajar itu butuh proses, dan Bape mau kalian mulai memegang kendalinya dari hari ini."
Komang berjalan mendekati salah satu kurungan lipat yang berisi jago bangkok pilihan. Ia mengangkat ayam jantan itu dengan kedua tangannya, lalu memanggil anak-anaknya merapat.
"Sini mendekat."
Ketiga putrinya mendekat.
"Langkah pertama, kalian harus paham apa yang dicari oleh pembeli luar negeri," kata Komang sambil memegang bagian dada dan paha ayam tersebut.