KARMA KITA

Novia dewi
Chapter #10

Saingan Yang Manis

Kabar tentang suksesnya kesepakatan ekspor bersama Mr. Chen menyebar cepat di antara para peternak lokal. Pagi itu, tiga sosok pria berjalan menyusuri jalan setapak menuju peternakan Komang dengan senyum ramah yang mengembang lebar di wajah masing-masing.

Mereka adalah Mansu, Wayan Gede, dan Ming, tiga peternak pesaing yang selama ini menyimpan dengki di balik wajah hangat mereka.

"Wah, selamat ya, Mang!" seru Mansu paling nyaring sambil merangkul pundak Komang hangat.

"Dengar-dengar sepuluh ekor jago grade A langsung diborong pasar Thailand. Luar biasa memang perjuanganmu selama ini."

"Betul itu," timpal Wayan Gede dengan kekehan bass yang dibuat-buat. "Karakter dan ketekunanmu memang tidak ada tandingannya. Pantesan Pak Made dulu begitu percaya sama kamu untuk pegang trah ayam unggulan ini. Hasilnya nyata!"

Ming mengangguk-angguk anggun, matanya bergerak melirik ke arah deretan kurungan besi berteknologi di belakang area penangkaran. "Memang jempolan. Usaha bertahun-tahun tidak mengkhianati hasil, ya."


Komang menyambut pujian-pujian manis itu dengan senyum ramah dan anggukan sopan. Namun, di balik keramahtamahan basa-basi mengenai perjuangannya dan kepercayaan Pak Made, Komang tetap bergeming.

Komang sangat mengenali tabiat mereka bertiga lamanya itu. Pujian mereka terlalu manis, seolah ada madu yang membalur mata pisau.

Selagi berpura-pura kagum dan menanyakan perkembangan pakan, mata ketiga saingan itu cermat meneliti setiap sudut tempat penyimpanan jago-jago siap ekspor.

Mereka mengincar ayam-ayam kualitas teratas, bibit-bibit unggul yang harganya bisa mencukupi kebutuhan hidup bertahun-tahun jika berhasil dicuri.


Malam harinya, ketika kegelapan gulita membungkus ladang, ketiga saingan itu melancarkan siasat rahasia yang telah mereka susun rapi. Berbekal gunting kawat tebal dan kain penutup kepala, Made Suardana, Wayan, dan Nyoman menyelinap lewat benteng belakang peternakan.

"Pelan-pelan," bisik Ming. "Kita ambil dua jago trah utama saja. Yang penting jangan sampai ketahuan."

Mereka bergerak merayap menuju kandang isolasi khusus ekspor. Namun, yang tidak mereka ketahui, Komang dan putrinya merasa aman karena sistem sudah di upgrade.


Wayan Gede mengulurkan tangannya yang bersarung hitam, mencoba memotong kabel panel listrik utama untuk mematikan penerangan dan menyabotase kunci elektronik pada pintu kandang.

KREK.

Begitu pemotong kawat menyentuh saluran fisik panel, sistem pintar peternakan mendeteksi penurunan arus dan pembukaan paksa yang tidak sah.

NGUUUUNG! NGUUUUNG! NGUUUUNG!

Sirene bervolume tinggi melengking memecah keheningan malam, bergema ke seluruh penjuru ladang. Bersamaan dengan itu, lampu sorot otomatis berkekuatan tinggi dari empat sudut atap langsung menyala terang.

Mengunci posisi ketiga penyusup yang masih memegang pemotong kawat di depan panel.

"Sial! Ada alarm otomatis!" teriak Mansu panik, matanya kesakitan disiram cahaya silau lampu sorot.

Belum sempat mereka melangkah mundur untuk melarikan diri, pintu kandang utama terbuka. Komang berjalan keluar memegang lampu senter besar dan tongkat pengaman.


Siasat manis dan pura-pura baik itu hancur berantakan dalam hitungan detik, meninggalkan ketiga pesaing itu berdiri membeku di bawah sorotan lampu keamanan.

" Bisakah tidak, tidak berbuat jahat," ucap Komang halus

Lihat selengkapnya