Pengiriman kargo ayam aduan kualitas ekspor minggu itu bertepatan dengan sebuah perhelatan besar di wilayah Utara. Mr. Chen, yang datang bersama mitra bisnisnya dari Tiongkok, tidak langsung memboyong ayam jago pilihan dari peternakan Komang.
Hari itu, Kota Utara tengah bersolek dan menggelar acara peresmian Wajah Baru Titik Nol Kota, sebuah momen bersejarah yang sayang untuk dilewatkan.
Atas undangan khusus dan rasa hormat, Komang memboyong seluruh keluarganya, untuk mendampingi para tamu mancanegara tersebut menghadiri peresmian.
Suasana di pusat kota begitu meriah. Warga menyemut di sekitar alun-alun, diiringi alunan tabuhan balaganjur yang bergema megah membakar semangat.
Di tengah pusaran keramaian itu, Tugu yang berdiri gagah, megah, dan memikat mata siapa pun yang memandang.
"Luar biasa..." gumam Mr. Chen dengan mata berbinar-binar.
Mitra bisnisnya asal Tiongkok tak henti-hentinya mengagumi detail ukiran dan gestur gagah patung singa bersayap tersebut.
Kamera gawai di tangan mereka berkali-kali mengabadikan kemegahan ikonik yang kini tampil lebih modern namun tetap kental dengan pusaka budaya Buleleng.
"Ikon Tunggu ini adalah lambang keberanian, ketangguhan, dan kejayaan daerah kami," terang Luh dalam bahasa Inggris yang fasih.
Mendampingi para tamu seraya menjelaskan makna sejarah di balik tugu titik nol tersebut. "Sama seperti karakter ayam-ayam aduan yang kami rawat di peternakan—tangguh, berani, dan membawa nama harum tanah ini ke luar negeri."
Mitra dari Tiongkok itu tersenyum lebar seraya mengangguk-angguk kagum. "Tidak heran ayam-ayam dari tempat Anda memiliki mental petarung yang dingin dan kuat. Rupanya mereka dibesarkan di tanah yang sarat dengan semangat dan keberanian seperti tugu ini!"
Komang berdiri di antara kedua putrinya, menyaksikan bagaimana anak-anaknya dengan percaya diri berbaur dan membimbing para tamu internasional di tengah perayaan titik nol Tugu.
Hatinya kembali berdesir hangat.
"Ternyata, putriku punya keberanian, layaknya singa," batin Komang.
Wayan merangkul Komang, "Bli, ternyata tidak sia-sia anak kita sekolahkan sederajat."
Komang hanya tersenyum. Perjalanan ini bukan lagi sekadar tentang bisnis ayam aduan ekspor. Melainkan tentang bagaimana warisan, budaya, dan keluarga saling bertaut membawakan kebanggaan yang nyata.
Di antara lautan warga yang memenuhi alun-alun, tiga pasang mata menatap ke arah panggung utama dengan raut wajah yang membiru oleh rasa dengki. Mansu, Wayan, dan Ming berdiri terdesak di barisan belakang kerumunan, tertutup oleh riuhnya warga yang sibuk mengabadikan Tugu.
Mata mereka tertuju lurus pada keluarga Komang.
"Kali ini kamu bisa tenar, tapi tidak nanti," ucap Mansu geram
"Ya Man, dia harus disingkirkan," ucap Wayan
""Caranya?" Ming mempertanyakan
Tatapan jahat Mansu terlihat, Wayan paham, tetapi Ming bingung dengan isyarat itu
Di sana, di barisan tamu kehormatan, Komang dan ketiga putrinya tampak begitu luwes mendampingi Mr. Chen dan mitranya dari Tiongkok.