Komang menghentikan langkahnya sejenak saat rombongan mereka beristirahat di pelataran alun-alun. Membiarkan pandangannya tertuju lurus pada tugu yang menjulang gagah di hadapan mereka.
Di bawah bayang-bayang megah patung singa bersayap itu, ia memanggil kedua putrinya, Luh dan Kadek agar mendekat.
"Kalian tahu kenapa tugu ini begitu dihormati di tanah Utara?" tanya Komang, nadanya berubah tenang dan dalam.
Kedua putrinya menggeleng pelan, mendongak memperhatikan detail tugu yang tampak kian memukau di bawah terpaan sinar matahari sore.
"Tugu ini bukan cuma ukiran batu atau hiasan kota," lanjut Komang dengan gestur tangan yang mantap.
"Awal mulanya, simbol ini berakar dari kisah kejayaan seorang pemimpin dan leluhur Utara. Singa bersayap ini dilambangkan sebagai kekuatan, keberanian, dan kewibawaan seorang pemimpin yang tidak pernah gentar melindungi rakyat serta tanah kelahirannya. Jagad Utara dibentuk oleh keberanian seperti ini-, berani mengambil keputusan, berani berdiri di depan, dan berani menghadapi badai."
Luh dan Kadek, menyimak cerita itu dengan mata berbinar-binar. Sorot kekaguman memancar jelas dari wajah mereka. Menyerap setiap patah kata sang ayah yang menyambungkan sejarah besar tanah kelahirannya dengan perjuangan hidup mereka sehari-hari.
Wayan, istri Komang yang sejak tadi berdiri di sampingnya sembari memegang Komang anak paling bungsu, memperhatikan suaminya yang begitu bersemangat. Ia terkekeh kecil, lalu mencubit pelan lengan Komang untuk menggoda.
"Aduh, Bapenya anak-anak ini..." goda Wayan sambil tersenyum lebar, membuat ketiga putrinya ikut tertawa.
"Bisa saja ya kalau sudah bicara. Muka biasa, tapi kalau cerita sejarah langsung sok filosofis begini di depan tamu dan anak-anak."
Komang tertawa terkekeh sembari mengelus lengannya yang dicubit. Sementara para eksportir dan penerjemah di samping mereka ikut tersenyum melihat kehangatan keluarga kecil tersebut.
Suasana di pelataran Titik Nol Kota sore itu terasa begitu hidup, dipenuhi gelak tawa, kebanggaan akan sejarah, dan ikatan keluarga yang makin erat.
* * *
Sesampainya di rumah malam itu, rasa lelah yang menggelayuti tubuh membuat mereka tak lagi memedulikan suasana sekitar. Yang ada di pikiran Komang dan keluarga malam itu hanyalah memastikan pintu serta jendela terkunci rapat. Lalu langsung merebahkan diri dan tertidur lelap.
Esok paginya, suasana desa terasa sangat tenang. Hari itu kebetulan tanggal merah, sehingga seluruh sekolah diliburkan. Tak ada keriuhan seragam atau jadwal terburu-buru.
Semua berkumpul di sekepat, ayam yang mereka ternak di pekarangan. Dikeluarkan dari kangang, yang di tutup oleh kurungan besar
Komang memperhatikan ketelitian anak-anaknya sejenak, lalu membiarkan pandangannya tertahan pada seekor anak ayam yang sedang mengais tanah secara alami.
"Kalian perhatikan cara ayam-ayam ini mengais pakan?" buka Komang lembut, memecah keheningan pagi.
Ketiga putrinya menoleh, menghentikan sapuan kuas pada wadah pakan.
"Ayam itu binatang yang luar biasa," lanjut Komang seraya menunjuk.
"Dalam kondisi apa pun—mau di tanah subur, tanah berbatu, atau di tengah hujan gerimis—mereka selalu bersedia mengais dan mencari makan sendiri. Mereka tidak pernah menyerah pada keadaan."
Luh dan Kadek mengangguk-angguk kecil, mulai menyimak arah pembicaraan sang ayah.
"Tapi bukan cuma soal rajinnya," tambah Komang, tatapannya beralih menatap ketiga putrinya satu per satu.
"Perhatikan saat paruhnya menyambar tanah. Dari sekian banyak kotoran, batu, dan kerikil yang mereka ceker, paruh ayam itu sangat jeli. Mereka tahu persis mana biji pakan yang bergizi untuk dimakan, dan mana batu atau racun yang harus dibuang."