KARMA KITA

Novia dewi
Chapter #13

Bercanda Yang Berbobot

Sore itu, perjalanan pulang terasa menenangkan. Luh mengendarai sepeda motor membonceng kedua adiknya, Kadek dan Komang si bungsu, sementara ayah mereka melaju santai tak jauh di belakang.

Namun di tengah jalan, segerombolan pria tampak melambaikan tangan, meminta Komang berhenti. Mengenali wajah-wajah familiar itu sebagai teman-teman baiknya.

"Woi Mang," sapa seseorang

Komang memperlambat laju motornya.

Mereka berhenti.

"Luh duluan saja," ucap Komang

"Wih bakalan lama nih," goda Kadek

"Ya Pe," ucap Luh singkat, lalu melaju.

Komang melambai pada anak-anaknya, Komang anak paling bungsu melambaikan tangan.

Di antara kerumunan itu, tampak Ketut dan Nengah. Melihat perubahan hidup dan kesuksesan peternakan Komang saat ini, pujian tulus pun mengalir dari mereka.

"Hidup nyaman nih," goda Ketut

Disambung oleh Nengah, "Sudah jadi bos sekarang... buset...!"

"Jangan sampai keseleo ngomong Ngah," goda Ketut

"Memang kalau keseleo, akan kenapa?"

"Bahasa bisa terpeleset, jatuh lah."

Yang lain berseru, "Wuu... aneh gati cai.."


Komang merasa bercandaan kawan-kawan lamanya ini selalu punya bobot dan kehangatan tersendiri.

"Iya," kelakar Komang sambil tersenyum. "Kita kan pengusaha. Kalau tidak berusaha, ya tidak bakal ada usaha. Makanya yang namanya pengusaha itu pasti selalu mengusahakan."


"Iya benar, mengusahakan sih..." sahut Nengah sambil terkekeh. "Tapi ya sudah kelewatan kalau dibandingkan sama kita-kita ini. Kita mah masih mentok di perjudian."

Ketut langsung menepuk pundak Nengah sambil tertawa lepas. "Ah, kamu Nengah! Ayam yang kamu urus sampai istrimu ngomel," Ketut cengengesan

"Nanti malam tidur sama ayam saja, tidak usah sama aku!" Ketut menirukan suara perempuan

"Eh, diam kamu, Tut! Bercandaanmu tidak lucu!" potong Nengah dengan raut bersungut-sungut.

Teman-teman yang lain langsung menyaut riuh, "Lucu kok! Berarti ayammu lebih berharga daripada istrimu, Ngah!"

"Eh, kalian malah ikut-ikutan!" seru Nengah makin sewot.

Komang menggerakkan tangannya pelan, menengahi sambil tersenyum bijak. "Ye... hargailah perempuan, biar kamu itu juga dihargai."

Nengah menyeringai santai, "Sudah tak kasih uang kok, kan aku sudah kasih harga!"

Seketika teman-teman yang lain menatap Nengah dengan pandangan datar.

"Eh, dasar!" celetuk Ketut menggeleng-gelengkan kepala. "Bukan cuma uang, Beli Nengah! Istrimu itu butuh kasih sayang dan belaianmu!"

"Wah, mulai ini kumat..." gumam Nengah menahan malu.

Komang tertawa terkekeh melihat tingkah kawan-kawannya, lalu melambaikan tangan. "Ah, sudahlah kalian ini, jangan bertengkar. Kita ini sudah pada tua, bukan anak SD lagi. Malu-maluin!"

Gelak tawa pecah seketika di tepi jalan sore itu. Candaan dan godaan ramah antar sahabat lama itu pun terus berlanjut hangat, mencairkan segala penat setelah seharian beraktivitas.

Lihat selengkapnya