KARMA KITA

Novia dewi
Chapter #14

Sikap Sikap Aneh

Keceriaan yang biasanya memenuhi rumah itu perlahan memudar, berganti dengan keheningan yang membingungkan. Beberapa hari terakhir, Komang menunjukkan perubahan sikap dan gelagat yang makin aneh.

Wayan, yang mengenal setiap inci tabiat suaminya, merasa ada sesuatu yang tidak beres. Sekalipun Komang sudah mandi dua kali sehari, penampilannya tetap tampak kusam dan lesu. Seperti orang yang kelelahan hebat dan tak pernah menyentuh air.

"Apa Bli Komang lagi sakit ya? Tapi dia masih beraktivitas normal," batin Wayan seraya memerhatikan suaminya dari balik pintu dapur.

Komang masih pergi ke kandang, masih mengurus pakan, dan bergerak seperti biasa. Namun, jiwanya seolah melayang di tempat lain.

Komang yang biasanya hangat, suka bergurau, dan selalu punya celoteh filosofis kini berubah menjadi sangat pasif. Bicaranya amat terbatas, hanya menjawab seperlunya dengan tatapan mata yang kosong.


Kejanggalan itu kian hari kian menebal, menancapkan tanda tanya besar di hati Wayan yang tak tenang.

Wayan memberanikan diri untuk bertanya.

"Bli Komang... Bli Komang capek? Kalau capek istirahat saja. Nanti biar aku saja yang mengurus ayam-ayam itu."

Komang tersenyum, namun tatapannya lesu. "Tidak, aku tidak capek. Aku masih kuat."

Namun Wayan tetap merasa aneh. "Tapi Bli kelihatan seperti kurang istirahat."

Komang hanya tersenyum tipis. "Kan sudah istirahat. Kan sudah istirahat lebih di awal, dan tadi bangunnya kesiangan juga. Kan sudah lebih dari cukup istirahatnya," ucap Komang mencoba ngeles.


Namun tetap saja, batin sebagai seorang istri membuat Wayan merasa curiga. Apa sebenarnya yang membuat suaminya terlihat seperti itu?

Kecurigaan Wayan bukanlah tanpa alasan. Sebagai wanita yang mendampingi Komang bertahun-tahun, ia tahu betul perbedaan antara lelah fisik seusai bekerja dengan lelah batin yang menggerogoti dari dalam. Senyum suaminya pagi ini terasa terlalu tipis, bagai topeng rapuh yang siap retak kapan saja.

Wayan tidak membalas lagi dengan kata-kata. Ia hanya mengamati jemari Komang yang gemetar halus saat memegang cangkir kopi. Lalu menyipitkan mata memperhatikan lingkaran hitam di bawah mata suaminya yang kian menebal.

Ada yang disembunyikan Bli Komang, batin Wayan, dadanya mendadak terasa berdebar kencang.

"Apakah tiga orang itu Mansu dan kawan-kawannyasudah mulai menjalankan niat jahat mereka? Atau ada beban lain yang sengaja Bli tanggung sendirian agar aku dan anak-anak tidak panik?" batin Wayan


Sambil pura-pura merapikan letak piring di atas meja, pikiran Wayan melayang pada kejadian kemarin. Ia teringat tatapan mengintai dari balik semak kandang, serta doa pasrah yang sempat ia panjatkan.

"Mungkinkah Bli Komang sebenarnya sudah tahu kalau mereka bertiga terus mengintai? Atau mungkinkah Bli Komang diam-diam menjaga kandang sepanjang malam tanpa tidur, demi memastikan keselamatan kepercayaan dan masa depan keluarga?" pikiran Wayan berspekulasi


Komang yang merasa terus diawasi akhirnya berhakap menatap istrinya. Ia berusaha tertawa kecil untuk mencairkan suasana.

"Kenapa melihat aku seperti melihat hantu begitu, Yan? Aku ini cuma agak masuk angin sedikit. Nanti kalau sudah kena sinar matahari di kandang juga segar lagi."

Komang berdiri, menepuk-nepuk celananya, lalu melangkah perlahan menuju halaman samping. Langkah kakinya tak selincah biasanya, agak terseret dan berat.

Wayan berdiri mematung di ambang pintu, menatap punggung suaminya yang kian menjauh. Rasa khawatirnya kini bertransformasi menjadi tekad.

Ia tidak bisa lagi diam dan pura-pura tidak tahu. Jika Komang memilih untuk memikul beban itu sendirian, maka sebagai istri, Wayan yang harus mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya terjadi di balik keheningan suaminya.


* * *


Di balik bilik dapur yang beraroma asap kayu bakar. Luh dan Kadek sedang mengiris bumbu ketika pandangan mereka tak sengaja tertambat pada Komang.

Sang ayah tampak sedang berdiri termenung di samping dapur. Memegang kayu tanpa bergerak selama beberapa menit. Tatapannya kosong memandangi tanah.

Kadek memelankan irisan pisau pangkasnya, lalu menyenggol lengan Luh dengan siku. "Mbok Luh... perhatikan Bapak dari tadi."

Luh menoleh, mengamati lekat-lekat raut wajah ayahnya dari celah jendela dapur.

"Iya, Kadek. Dari kemarin Bape aneh sekali. Biasanya kalau jam segini sudah ramai bersiul atau menggoda kita, ini bicaranya irit sekali. Matanya juga sembab."

"Bukan cuma matanya," timpal Komang, Si Bungsu yang tiba-tiba muncul dari balik pintu membawa gelas kopi. Ia menyandarkan dagunya di tepi meja.

"Kemarin malam waktu aku terbangun mau buang air kecil, aku tidak melihat Bapr di kamar. Tapi pas aku tengok luar, pintu depan dikunci rapat. Wajah Bapak juga kusam terus, seperti tidak pernah mandi."


Wayan yang baru saja masuk melangkah pelan membawa baskom beras, menghentikan langkahnya tepat di tengah ruangan dapur. Mendengar celotehan anak-anaknya, dada Wayan makin terasa bergemuruh.

Luh langsung memutar badan menghadap ibunya. "Meme tahu tidak Bape sebenarnya kenapa? Apa Bape sedang ada masalah berat? Atau bisnis ayam aduan ini sedang kena masalah dengan Pak Made?" ucap Luh


Wayan menarik napas panjang, meletakkan baskom berasnya di atas meja kayu dengan gerakan perlahan. Ia menatap ketiga putrinya satu per satu. Mata Luh yang penuh rasa cemas, Kadek yang menuntut jawaban, serta Si Bungsu yang menatap polos menanti kepastian.

"Ibu juga tidak tahu pastinya, Luh," jawab Wayan dengan suara rendah. Berusaha agar getaran di tenggorokannya tifak terdengar hingga keluar.

"Tadi Meme sudah coba tanya langsung. Tapi Bapemu ngeles. Katanya cuma masuk angin dan kurang tidur."


"Kurang tidur bagaimana?" cetus Kadek tidak percaya. "Nak kemarin bangunnya saja kesiangan. Tapi kok malah tambah layu seperti tanaman tidak disiram begitu?"


Lihat selengkapnya