KARMA KITA

Novia dewi
Chapter #15

Romor Peneror

Kegagalan sabotase malam itu tidak lantas memadamkan kebencian di hati Mandu, Wayan dan Ming. Malah sebaliknya, rasa malu karena terpergok basah dan kabur terbirit-birit membuat harga diri mereka terasa makin terinjak-injak.

Dendam yang merintih di dalam dada kini berubah bentuk menjadi racun yang lebih halus, namun tak kalah mematikan, fitnah.

"Mana mungkin si Komang yang dulu miskin melarat itu tiba-tiba bisa sekaya sekarang?" desis Mansu saat mereka bertiga berkumpul di warung

Mencoba memprovokasi warga yang sedang duduk santai. "Semua orang juga tahu, beternak ayam itu butuh waktu bertahun-tahun kalau mau sukses. Ini? Baru sekejap mata sudah dipercaya bos besar, bahkan katanya ayam-ayamnya dikirim sampai ke luar negeri!"

Wayan menimpali dengan nada berbisik yang dibuat-buat mistis, "Iya, benar itu. Jangan-jangan dia pakai 'ilmu'. Mana ada rezeki baik mengalir sederas itu untuk orang yang dulunya cuma buruh harian?"

"Betul!" tawar Ming seraya menyeruput kopi.

"Aku pernah lewat malam-malam di depan rumahnya, dia sering berdiri sendirian di pekarangan seperti sedang komat-kamit melakukan ritual. Pas dipanggil, malah kaget. Jelas sekali dia main pesugihan!"


Rumor itu menyebar seperti api menyambar jerami kering di musim kemarau. Dari warung , cerita bergeser ke pasar tradisional, lalu berhembus di antara ibu-ibu yang sedang mengobrol di pancuran air desa.

Narasi busuk bahwa kesuksesan Komang diperoleh melalui jalan pintas gaib dan pesugihan mulai menggoyahkan pandangan sebagian warga yang mudah terpengaruh.

Ketika Komang berjalan menuju pasar desa di pagi hari, ia mulai merasakan perubahan suasana. Tatapan warga yang biasanya hangat dan ramah kini berubah menjadi dingin, penuh curiga, dan diiringi bisik-bisik kasak-kusuk dari balik punggungnya.

Aroma fitnah itu akhirnya sampai juga ke telinga keluarga Komang. Bukan dari hembusan angin, melainkan lewat goresan luka di hati anak-anak mereka.

Siang itu, Luh dan Kadek pulang sekolah lebih awal dari biasanya. Tidak ada canda gurau atau tawa renyah yang biasa membahana di pekarangan.

Kadek berjalan menunduk dalam-dalam dengan mata sembab berair, sementara Luh menggenggam erat jemari adiknya dengan raut wajah menahan amarah yang membakar dada.

Wayan yang sedang menjemur pakaian di halaman langsung menghentikan kegiatannya. Firasat seorang ibu seketika berdesir tajam.

"Luh... Kadek... Kenapa pulang-pulang mukanya muram begitu?" tanya Wayan cemas, mendekati kedua putrinya.


Kadek tak mampu lagi menahan bendungan air matanya. Ia terisak keras di pelukan sang ibu.

"Me... teman-teman di sekolah... mereka tidak mau mendekati kita lagi. Katanya... katanya uang yang dipakai Bape untuk beli baju dan sepatu sekolah kita itu uang tidak baik! Katanya Bapak pakai pesugihan dan pelihara makhluk halus di kandang ayam!"

Wayan bagai disambar petir di siang bolong. Dadanya sesak mendengarnya.

Luh mengepalkan tangannya rapat-raptap. "Tadi di jalan pulang, orang-orang di warung juga menatap kita aneh, Bu. Mereka bilang kesuksesan Bape tidak wajar. Orang miskin seperti kita mana bisa tiba-tiba dipercaya bos besar dan ekspor ayam kalau tidak pakai ilmu hitam... Begitu kata mereka!"


Di saat yang sama, Komang berjalan keluar dari dalam rumah. Ia menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu teras, menyimak setiap patah kata yang keluar dari bibir anak-anaknya.

Raut wajah Komang melayu. Rasa sakit yang terpancar dari matanya jauh lebih hebat daripada rasa lelah saat ia berjaga semalaman. Ia tidak peduli jika dirinya dihina atau dituduh yang tidak-tidak oleh Mansu dan kawan-kawannya. Tetapi melihat anak-anaknya dihina dan diasingkan di sekolah karena fitnah keji itu. Itu benar-benar merobek harga dirinya sebagai seorang ayah.


Wayan menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. "Bli... dengar sendiri kan apa yang mereka perbuat? Mereka tidak cuma mau merusak kandang kita, Bli... mereka mau menghancurkan nama baik dan masa depan anak-anak kita!"


Komang menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan. Ia melangkah mendekati Kadek dan Luh, lalu berlutut di hadapan kedua putrinya. Dihapusnya air mata di pipi Kadek dengan ibu jarinya yang kasar.

"Luh... Kadek... dengarkan Bape," ucap Komang dengan suara tenang, dalam, namun penuh penekanan. "Tatap mata Bape."

Kedua putrinya menatap lurus mata sang ayah yang jernih dan jujur.

"Apakah kalian pernah melihat Bape memberi makan hal-hal aneh di rumah ini? Apakah kalian pernah melihat Bape menyembah selain Ida Sang Hyang Widhi Wasa?" tanya Komang lembut.

Luh dan Kadek menggeleng cepat.

"Setiap rupiah yang kita nikmati hari ini adalah hasil keringat, mandi peluh, dan doa ibu kalian setiap pagi," lanjut Komang

"Tangan Bapak memang tidak mulus, tapi hati Bape tidak rusak. Jangan pernah menundukkan kepala kalian hanya karena kebohongan yang diucap berulang-ulang oleh orang yang iri."


Wayan merangkul bahu Komang dan anak-anaknya. Meski hatinya perih, keteguhan sikap suaminya memberi kekuatan baru bagi mereka untuk berdiri tegak menghadapi badai fitnah di desa mereka.


* * *

Lihat selengkapnya