Banyak kejadian yang dialami membuat Komang merasa was-was. Mengingat sekian lama perjuangan Komang sebagai seorang ayah untuk membeti rahasia besar kepada putrinya. Bagi Komang, perempuan harus mendengarkan nasihat laki-laki. Karena tidak memiliki banyak harta untuk diwariskan, setidaknya ia ingin memberikan sedikit bekal hidup.
Ia memiliki satu resep rahasia, resep masakan yang tidak bisa ditiru oleh orang-orang di desanya. Komang cukup jago membuat sup ayam raun dari ayam jundang, yaitu ayam yang kalah dalam laga aduan.
Pagi itu, sekitar pukul 08.00, ketika semua pekerjaan rumah dan persiapan sekolah sudah selesai, ia memanggil Luh dan Kadek.
"Luh, Kadek, sini sebentar!"
Mereka segera mendekati ayahnya.
"Ada apa, Bape? Tumben pagi-pagi panggil, seperti dapat jackpot besar saja," goda Kadek.
"Tidak ada jackpot besar. Cuma sepertinya saat ini adalah waktu yang tepat untuk memberikan warisan kepada kalian."
Luh terlihat bingung. Setahunya, ayahnya sama sekali tidak memiliki sebidang tanah pun, hanya sepetak tanah yang ditempati rumah mereka saat ini.
"Warisan apa, Bape? Jangan terlalu membesar-besarkan," ucap Luh dengan nada datar.
"Tidak mesti harta kok yang harus diwariskan. Coba pikir deh, Bape kalian ini kan terkenal dengan sup rawon cundangnya di desa ini."
Melihat ayahnya yang terkesan agak sombong, Kadek mulai menyindir. "Oh ya? Chef Juna jauh lebih hebat dari Bape."
"Ya, memang Chef Juna paling keren dan top sebagai seorang chef. Tapi kejauhan kalau kalian mau belajar sama dia," ucap Komang tertawa kecil.
Luh menimpali, "Terus, maksud Bape ngomong begini apa?"
"Mmm... begini. Kalian kan sudah masuk usia transisi, jadi harus menambah wawasan. Yang dicari dari sosok perempuan itu, selain bisa mengurus diri sendiri, membereskan pekerjaan rumah, dan menjadi penyambung lidah suami, yang terpenting adalah bisa memasak."
Mereka menyipitkan mata mendengarnya." Terlebih lagi, kalian harus bisa mengolah bahan yang kelihatan tidak mungkin enak menjadi masakan yang lezat."
Mendengar pernyataan ayahnya, mereka makin penasaran. Warisan apa yang sebenarnya ingin diturunkan, dan hubungannya dengan kehidupan mereka, khususnya dalam hal masak-memasak.
Mereka kini beranjak ke dapur tungku yang berada di sebelah rumah. Di sana, Komang sudah menyediakan sejumlah bumbu dan ayam cundang yang diberikan oleh kawannya, Ketut, kemarin malam.
Tugas pertama mereka adalah mencabuti bulu-bulu ayam tersebut.
"Luh, tolong nanti rebus air, dan Kadek nanti yang mencabuti bulu ayamnya," perintah Komang.
Mendengar itu, Kadek langsung bertanya, "Loh, kita akan buat rawon cundang lagi?"
"Iyalah, kita bikin rawon cundang. Kan tidak mampu beli ayam. Lagian ayam cundangnya gratis dari Paman Ketut," jawab Komang.
Luh sudah menduga hal itu sejak awal. "Ya... Bape dan Paman Ketut memang sudah seperti saudara. Ada lebih sedikit pasti saling berbagi."
Komang hanya tersenyum mendengar perkataan putrinya.
Setelah menuruti instruksi awal sang ayah, kini mereka dihadapkan dengan berbagai jenis bahan bumbu.
"Nanti kalian tolong kupas bawang putih sama bawang merah. Masing-masing bawang merahnya sepuluh biji, bawang putihnya lima biji," lanjut Komang.
Luh dengan cepat memilih untuk mengupas bawang putih, sedangkan Kadek terpaksa mengupas bawang merah.
"Mbok Luh curang! Sudah tahu bawang merah bikin mata perih, pintar banget memilihnya," protes Kadek.
Luh hanya tersenyum tipis. "Sudah, kerjakan saja bagianmu."
Setelah mengupas bawang, Luh ditugaskan menumbuk halus berbagai jenis rempah lainnya.
"Ini ada jinten, ketumbar, merica, dan cabai jawa. Ini juga ada lengkuas, tolong kamu tumbuk dulu. Ini bahan paling keras untuk membuat bumbu rawon. Oh iya, jangan lupa diisi sedikit garam," pinta Komang.
Sebuah lesung batu kecil ditarik dari bawah meja, lengkap dengan alunya yang sebelumnya tergantung di sudut ruangan. Sesuai instruksi, Luh mulai menumbuk bahan-bahan tersebut.