Setelah sup ayam itu sudah sesuai kematangannya, Komang menginstruksikan agar menyajikannya di mangkok kaca besar itu.
"Dek, kalau itu tuh, eh, angkat dari tungku dan kamu sajikan ya. Oh ya, Luh, siapkan juga nasi dan juga lauk yang dibuat sama ibumu dari pagi. Sayang tuh kalau tidak dimakan."
Tanpa kata mereka melakukannya. Komang keluar mendekati Wayan yang tengah sibuk menganyam bambu untuk membuat keranjang. Komang terlihat menghitung keranjang yang sudah dihasilkan oleh ibunya dari dua hari yang lalu. Terdengar jelas bocah itu menghitung.
"Enamnya berapa kali, Me?" tanya Komang.
"Enamnya itu kali empat. Berarti kamu tumpuk enam, hitung enam-enam dulu, tumpuk dulu, hitung sampai empat kali."
Sesuai instruksi Wayan, bocah perempuan itu melakukannya. "Sudah, Me."
"Jadi kalau enamnya dikali empat, jadi berapa semuanya?" tanya Komang si anak bungsu
"Kalau enamnya empat kali, berarti 24."
"Oh, berarti yang pesan keranjang ini 24 biji ya, Me?"
"Tidak, dua puluh lima."
"Kok cuma minta enamnya empat kali? Kan baru dua puluh empat," ucap bocah itu polos.
"Iya, ini yang dibuat lagi satu ini yang menilai, eh, tambah lagi satu kan jadi 25," sahut Wayan.
Dari arah belakang Komang, sang ayah memperhatikan. "Ternyata sambil kerja Wayan juga bisa mengajari anak juga," batinya
Komang mendekati Wayan. Wayan menoleh, "Ada apa, Bli?"
"Eh, kamu bisa, berhenti saja deh dulu, nanti lanjutin, kita makan dulu ya," ajak Komang.
Komang, anak paling bungsu, mendekat.
"Sudah waktunya jam makan? Bukannya ini baru jam sebelas?" tersenyum sambil merangkul putrinya.
"Harus nunggu jam dua belas ya? Kalau sudah siap, kenapa tidak makan? Coba deh kamu nilai, apakah masakan Mbok kalian berdua itu sudah enak apa belum."
"Oh, yang masak Mbok Luh sama Mbok Kadek ya?" ucap bocah itu lugu.
"Iya lah, mau testimoni seberapa sih mereka paham ilmu yang Mbok berikan."
Komang, anak paling bungsu, tersenyum menatap ayahnya. "Bape, kalau aku boleh tidak minta ilmu yang sama seperti Mbok Luh sama Mbok Kadek?"
Komang mengusap dan membelai rambut bocah itu. "Belum, kamu itu masih baru umur tujuh tahun. Jangan main-main dulu sama yang namanya api, nanti bisa kebakaran jenggot."
Komang berpikir. "Bape, kan tidak mungkin kebakaran jenggot, kita semua di sini tidak ada yang berjenggot."
Mendengar lelucon itu, seketika Wayan tertawa sampai tersedak.
"Eh eh eh, sudah sudah. Kalian ini mau makan apa mau komedian di sini?" ucap Wayan.
"Ya sambil menyelam minum air loh, Yan. Kita makan nanti, kita tertawa dulu biar senang hati ini."
"Ah, kebiasaan."
Tidak biasanya Komang merangkul istrinya, Wayan.
Wayan pun jadi merasa aneh. "Ada apa sih dengan Bli Komang hari ini? Kalau dulu dia seperti ini aku merasa senang, tapi sekarang kenapa aku merasa dia tidak akan bisa melakukan hal ini lagi," batin Wayan.
Komang tersenyum ketika Wayan melirik. "Mikirin apa? Sup ayamnya ya?" ucap Komang tersenyum lebar.
"Iya sih. Yakin buatan anak kita itu seenak buatan kamu?"
Mereka terus berjalan menuju area dapur.
"Iya, latihan dulu. Pasti bisa. Yang penting resep rahasianya sudah aku berikan kepada mereka."
Ucapan itu semakin membuat perasaan Wayan tidak tenang, namun ia tetap menampakkan diri terlihat baik-baik saja.
"Aku tidak selamanya bisa membuatkan mereka makanan. Jadi setidaknya tahulah bagaimana cara membuatnya. Kita kan tidak tahu yang namanya hidup berapa lama. Nah, setidaknya sebelum pergi harus bisa memberikan ilmu rahasia kepada generasi berikutnya."