Hari itu hari Senin. Ketiga putrinya seperti biasa bersekolah. Namun kali ini, Komang enggan mengantar putrinya yang paling bungsu ke sekolah. Ia meminta Luh untuk mengantar adiknya.
Terdengar telepon masuk dari HP-nya.
"Bli Komang, nanti malam tolong bawakan pesanan ayamnya ya. Itu ayam untuk buat bantennya. Nanti saya kirim alamatnya," ucap seorang perempuan dari balik telepon.
"Iya, Mbok, saya akan siapkan."
Setelah itu, Komang meminta istrinya untuk memilih ayam mana yang akan dijual.
"Yan, tolong nanti pilihin ayamnya ya. Ada yang pesan ayam lima ekor. Eh, yang cocok ukuran buat pelengkap banten itu berapa ukurannya? Kamu yang paling tahu itu."
"Ya, Bli."
Setelah selesai, ayam-ayam yang terpilih itu dimasukkan ke dalam keranjang.
"Ini, Bli, sudah. Nanti tinggal bawa pergi saja."
"Memang siapa sih yang pesan?"
"Ada sih, sepupunya bos kita, Bli Made. Katanya mau bikin upacara, perlu ayam kampung lima ekor."
"Oh, sepupunya Bli Made. Ya sudah. Memang kapan sih bakal dibawa?"
"Nanti malam. Katanya nanti malam itu baru dia pulang dari Selatan. Acaranya lagi empat hari dari besok," jelas Komang.
"Oh, begitu. Ya, ya."
Waktu berlalu. Sekitaran jam sembilan malam, Komang bersiap keluar. Ayam yang telah dipilih dari pagi itu sudah dimasukkan ke dalam tas ayam. Terdengar jelas suara ayam yang protes dari dalam tas tersebut.
Perasaan Wayan mendadak merasa tidak enak. "Bli Komang, sebaiknya besok saja ya. Aku merasa kok enggak enak gini kalau Bli keluar malam-malam."
Komang hanya menatap. "Tidak apa-apa, kan sesuai janji jam sembilan malam bakalan diantar ke rumahnya. Ini kan sudah jam sembilan," ucap Komang dengan wajah lesu.
Tanpa berkata-kata lagi, Komang segera berangkat mengenakan kelengkapan berkendara.
Setelah suaminya keluar dari pekarangan rumah, rasa cemas menggelayuti Wayan.
"Kok aku jadi tidak tenang ya? Semoga saja Bli Komang tidak apa-apa. Tapi mana mungkin sih kenapa-napa? Motornya kan baru dua hari yang lalu diservis. Samsat juga sudah, SIM/KTP juga ada. Performa kendaraan oke. Nah, orangnya ini yang bikin khawatir. Oh Sang Hyang Widhi, lindungilah suamiku," doa Wayan dalam hati.
* * *
Dalam perjalanan memang tidak ada kendala apapun. Komang sudah sampai di tempat tujuan dan transaksi pembayaran telah selesai dilakukan.
Kini Komang melaju santai dengan motor maticnya. Tidak jauh dari tempat itu, terdapat sebuah arena sabung ayam. Karena merasa kebelet, Komang pun kencing di seberang jalan.
Entah apa yang terjadi, sejumlah orang tiba-tiba langsung menyerang dan menghajarnya tanpa ampun. Komang tidak berdaya karena kalah jumlah, terlebih kondisinya memang sedang tidak baik.
Ada satu orang yang berteriak, "Ini nih yang nyebarin blolong yang menyebabkan kita selalu kalah!"
Blolong adalah tipe ayam aduan yang buruk dan tidak layak lagi untuk dijadikan aduan.
"Bunuh saja dia, bunuh! Gara-gara perusak ini kita selalu rugi!" teriak seseorang memprovokasi.
Salah satu di antara pengeroyok itu memecahkan botol kaca dan menusukkannya ke arah punggung Komang. Seketika darah keluar dari mulutnya, dan tak berselang lama, napas Komang pun terhenti.
Kerumunan yang lain segera melerai dan terkejut melihat korban sudah bersimbah darah.
Salah satu dari mereka berteriak, "Bodoh kalian, bodoh! Bukan dia! Lihat, di tasnya kosong!"
Setelah tubuh Komang dibalikkan, mereka terperanjat. Nengah, teman Komang, begitu kaget melihat sosok itu.
"Komang! Komang!" teriak Nengah histeris. "Kenapa ini terjadi sama kamu, Mang? Komang!" ucapnya lirih.
Namun, tidak ada satu pun yang bisa berbuat banyak di sana. Nengah segera menelepon Ketut dan beberapa warga.
"Tolong aku, tolong! Komang diserang! Tolong ya, Teboan! Kalian tahu Teboan di mana? Tolong!"
* * *
Tak berapa lama kemudian, bantuan datang. Namun sangat disayangkan, ketika sampai di rumah sakit, nyawa Komang sudah tidak tertolong lagi.
Di rumah, perasaan Wayan semakin tidak tenang. Ketiga putrinya pun tidak bisa tidur malam itu.
"Kliwon... Bli Komang ke mana sih? Ini sudah mau jam dua belas, kok belum nongol-nongol juga? Apa ban motornya kena paku? Kok enggak telepon-telepon juga?"
Wayan berinisiatif ke kamar Luh dengan niat meminjam telepon genggam. Saat masuk, ia melihat kedua putrinya ternyata masih terbangun.
"Eh Luh, coba deh telepon Bapa dulu. Kok perasaan Ibu jadi enggak tenang begini ya..." ucap Wayan.
Luh coba menghubungi nomor ayahnya, namun tidak tersambung. Dalam penyerangan tadi, telepon genggam yang dibawa oleh Komang sudah terinjak-injak dan hancur.