KARMA KITA

Novia dewi
Chapter #19

Epilog

Beberapa bulan telah berlalu sejak malam kelam yang merenggut nyawa Komang. Rumah yang dulunya riuh oleh gelak tawa dan lelucon hangat sang ayah kini menjelma menjadi saksi bisu perjuangan empat perempuan tangguh. Wayan dan ketiga putrinya.

Aroma bumbu rempah dan kaldu ayam yang gurih kembali menyeruak dari area dapur. Namun kali ini, bukan Komang lagi yang berdiri di dapur. Luh dan Kadek, dengan cekatan mengolah setiap bahan, menuangkan seluruh niat, rasa tulus, dan cinta ke dalam setiap masakan. Tepat seperti apa yang diwariskan oleh ayahnya.

Di sudut lain pekarangan, Komang si anak bungsu, tampak telaten merawat kandang ayam peninggalan sang ayah. Setiap kali rasa rindu itu datang membuncah, ia hanya perlu menatap langit sore atau mencium aroma sup ayam buatan kedua kakaknya. Di sana, di dalam resep rahasia dan nilai-nilai kebaikan yang ditinggalkan, keberadaan Komang sang ayah tidak pernah benar-benar hilang.

Mereka tidak membiarkan amarah dan dendam menghancurkan masa depan. Seperti pesan sang ibu, mereka memilih untuk menjadi anak singa, tumbuh berani, berdiri tegak di atas kaki sendiri. Membuktikan bahwa warisan seorang ayah terbaik bukan sekadar harta, melainkan jiwa yang pantang menyerah.

Roda kehidupan dan Karma terus berputar. Manusia boleh pergi meninggalkan jasad kasarnya, namun kebaikan, ilmu, dan cinta yang tulus. Akan hidup selamanya, menuntun mereka yang ditinggalkan melangkah menembus kegelapan menuju cahaya.

Lihat selengkapnya