2 PILIHAN
Zulaikha mengemasi baju-baju yang berserakan di tempat tidurnya. 2 hari yang lalu ia belum sempat membereskan baju-bajunya, karena sibuk mencari-cari kerja. Lek Jono yang ia tunggu-tunggu kabar baik tak kunjung datang. Baju ala kadarnya yang diberikan Lek Jono hanya beberapa helai. Ia maklum atas bantuan Lek Jono. Tetapi ia tak habis pikir, apa tujuan Lek Jono membawanya ke kota yang serba semrawut ini? Kadangkala jerit hatinya ingin berontak dan melarikan diri dari belenggu Lek Jono. Tetapi entah kenapa ia tak kuat melakukan itu.
Detak jarum di dinding menambah kesunyian di malam kamar itu. Siang harinya, tetangga kontrakan kerja semua. Mereka bekerja berbagai macam karirnya. Ada yang pedagang di pasar, kerja di bank, pengkreditan, ada pula yang jadi karyawan PT. Mereka berbaur jadi satu di lingkungan kontrakan Zulaikha. Banyak diantara mereka seolah tak kenal jika bertemu di jalan, nampak mereka sungkan. Bicara seperlunya, seperti dunia milik sendiri. Tak ada rasa empati terhadap sesama. Apa mungkin karena perbedaan ras dan daerah asal mereka. Zulaikha kadang merasa asing jika berpapasan dengan tetangga kontrakan. Hanya satu yang agak simpati pada Zulaikha yaitu Marini. Ia seorang wanita berasal dari suku Sunda, parasnya cantik dan ramah orangnya. Banyak juga yang naksir, atau sekedar menggodanya jika ia berjalan keluar kontrakan.
“Tumben siang-siang begini di rumah, Mar?” tanya Zulaikha.
“Ya le ... badanku lagi gak enak, kayaknya masuk angin ini. Nanti aku gak masuk kerja aja ya ...” jelasnya tanpa disuruh.
“Iya Mar ... mending buat istirahat saja, semoga besok sehat kembali. Sudah minum obat belum Mar?”
“Sudah tadi ... ni agak mendingan sekarang.”
“Kalau perlu apa-apa jangan sungkan, minta tolong saja ma aku.”
“Iya le ... makasih kamu dah peduli ma aku.”
“Iya sama-sama ... semoga kita tak seperti mereka ya Mar, jalan aja tak tegur sapa.”
Marini mengangguk sambil tersenyum. Ia rebahan di kasur sementara Zulaikha duduk di sampingnya.
“Kamu istirahat saja ... aku pulang dulu ya..”
“Ok ... sekali lagi terimakasih.”
Zulaikha melangkah keluar kontrakan Marini. Sejenak ia tertegun melihat di depan pintu kontrakannya sudah berdiri Lek Jono dan Seto.