TUAN BROJO
Rumah joglo yang luas, balutan tamannya yang apik dengan hiasan dinding, di sela-sela kolam ikan, menambah asrinya rumah Tuan Brojo. Zulaikha pelan-pelan menginjakkan kakinya menuju rumah kuno tersebut. Suasana hening, walaupun burung kutilang yang bertengger bernyanyi bersahutan menyambut pagi yang cerah itu.
Sesampainya di pintu, Zulaikha memberanikan diri menyapa si tuan rumah.
“Kulo nuwun, pak ...”
Zulaikha celingukan ke samping rumah, siapa tau ada orang yang mendengar suaranya. Sekali lagi Zulaikha mengucap kata “Kulo nuwun ...”
“Yo ... sebentar,” suara bariton terdengar dari dalam rumah. Suara khas Tuan Brojo.
Terdengar pintu dibuka lebar. Zulaikha terperanjat kaget dan gemeteran.
“Ayo masuk, jangan sungkan kowe,” kata Tuan Brojo. Senyum tipis tersungging di bibir laki-laki paruh baya itu, sambil sesekali melirik ke tubuh Zulaikha.
“Matur nuwun sanget, pak, saya diijinkan bisa bekerja di sini,” kata Zulaikha sambil menunduk. Ia tak berani menatap mata tajam Pak Brojo.
Pak Brojo berdehem sebentar. “Rasah takut kamu nduk ... di sini tempatmu, tugas kamu melayaniku dan merawat rumah ini dengan baik,paham...”
“Njeh pak ...”Zulaikha menunduk menatap lantai beralaskan keramik itu.
“Oh iya nduk, mungkin kamu bertanya-tanya istri saya tidak terlihat dari tadi.” Sepertinya Tuan Brojo menangkap jalan pikiran Zulaikha.
“Oh, iya pak ... maaf kalo boleh saya tau, ndoro putri kemana?”
“Istri saya baru berkunjung ke rumah orangtuanya di desa sebelah, pamitnya 3 hari di sana.”
“Oh..kata Zulaikha pendek. Bergetar, ketakutan, sepertinya rumah ini hanya dihuni Pak Brojo dan istrinya. Jika istrinya tidak ada berarti hanya mereka berdua di rumah itu.
Pak Brojo adalah orang asli Jawa yang sudah lama menetap di Jakarta. Ia adalah pemilik hotel yang berada di sekitar pelabuhan ratu di bilangan Jakarta. Konon ia adalah salah satu orang terkaya di Indonesia. Pak Brojo mempunyai tukang kebun laki-laki tetapi tidak setiap hari tukang kebun itu datang. Ia hanya datang, kalau kebun perlu dibersihkan.