Gelap.
Derap langkah kaki mengusik syahdunya suatu gang sempit malam itu di kala hujan mendera. Sol sepatu sneakers bergerilya di atas permukaan konblok, sebagian menabrak genangan air di permukaan yang tak rata. Siluet anak laki-laki berlarian seorang diri dan melompat-lompat, menghindari genangan air. Kadang dengan mudah, tetapi kadang juga tak ada pilihan lain. Satu tangan menenteng tas kresek. Udara dingin mengakibatkan uap panas tipis menembus pori-pori plastik. Tangan lainnya terangkat di atas alis, menghalangi air hujan masuk ke mata.
"Hiyaaaa—ahahahah!" Meski kuyup sebadan-badan, dia tampak antusias.
Di tengah jalan, malang merintangi. Sekonyong-konyong, kakinya terpeleset. Terjatuhlah anak itu. Bokong mencium bumi duluan, disusul siku. "Aaaahhh!"
Tawanya padam. Tersisa kekecewaan di wajahnya. Cilok hangat yang dibelinya dari ujung gang tadi berhamburan ke jalan. "Yaaahh, cilokkuuu!" raungnya, bukan kepada siapa-siapa.
Hujan semakin deras dan dia, yang merindukan rasa kudapan hangat dalam perut, kini hanya bisa memunguti ciloknya yang kotor dengan wajah sedih. Padahal kedua sikunya terluka. Pantatnya juga pasti masih panas. Namun, dia seakan tidak terpengaruh.
Dia bisa saja menyalahkan genangan air, sepatunya yang licin, malam yang menggelapkan pandangannya, atau keteledorannya sendiri. Namun—dari sudut pandangnya, agak jauh dan sedikit di atas kepala anak itu—Damy melihat apa yang luput dari mata anak itu. Dan mata sebagian besar manusia di bumi ini.
Sesosok asap hitam—sehitam arang, yang jika kau mampu melihatnya, kau akan mual—sangat besar. Ukurannya mendominasi anak itu, yang padahal lebih tinggi dari anak-anak pada usianya. Di puncaknya adalah kepala seekor serigala. Matanya menyala bagaikan bulan berdarah kembar. Pandangannya membuat Damy tersentak dan menggigil hebat. Moncongnya terbuka, menampakkan deretan gigi keseluruhannya adalah taring. Taring yang terbesar mengingatkan Damy pada gading gajah Afrika. Dari celah moncong itu, dengkuran menggema. Serigala asap itu tadi memanjangkan tubuh asapnya ke arah kaki anak itu ... dan melecut! Anak itu pun terjungkal.
Anak itu, tidak ingin berlama-lama di tengah jalan, segera berdiri dan meneruskan perjalanannya.
Serigala asap itu tinggal di posisi yang sama. Membelakangi arah larinya anak tadi. Mengambang di tubuh yang tak memiliki wujud hakiki. Hanya asap—pekat dan hidup. Di tengah hujan yang kian deras, dengkurannya menggetarkan sanubari Damy. Mata merahnya terpancang ke satu-satunya entitas selain dirinya—Damy, yang ragu-ragu dan mengambil satu langkah ke belakang. Moncong serigala itu menyeringai, menampakkan taring-taringnya yang perkasa. Jika dia punya air liur, sudah pasti jalanan itu becek terkena tetesannya.
Tepat saat segaris petir membelah langit, serigala itu membuka moncongnya. Dalam detik-detik pikiran Damy lumpuh karena kaget, serigala itu telah menyambarnya. Taring-taring menancap di kepalanya sampai ke dada hingga tembus ke sisi di sebaliknya.
Di bagian lain kota, seorang anak remaja berusia lima belas tahun terbangun dari tidur dengan teriakan yang membakar tenggorokan.
***
Damy memijit pelipis kanannya.
"Masih migrain?" Kak Grif melewati kursinya. Matanya tidak lepas dari layar tab di tangan kiri. Secangkir kopi, yang masih mengepulkan asap tipis, di tangan kanan. Dia bicara seolah migrain adalah hal biasa di meja makan itu.
Damy menurunkan tangan, dan berganti mengangkat wajahnya yang kusut. Bibirnya mencebik, "Kakak, tolong akuuu! Masa aku migrain terus setiap pagiii?"
Roti oles di dalam mulutnya tersembur saat dia bicara.
Di seberang meja, yang menyaksikan itu sekaligus yang terkena cipratan dari semburan itu—Kak Kev—mengernyit dan berkelit. "IH, JIJIK!"
Kak Grif tertawa. Griffith Adirda Karangga—sulung tiga bersaudara itu berambut cokelat, berwajah lembut, mengenakan sepasang kacamata oval yang melapisi iris mata cokelatnya. Kalau dia tersenyum, matanya langsung hilang, tinggal segaris. Dia meletakkan cangkir kopinya dan duduk di samping kanan Damy. Tab berada di kedua tangan sekarang. Kecerahan layarnya terpantul di lensa kacamata. Dia menggulirkan layar dengan lambat. Rautnya berubah serius. Dia adalah seorang pebisnis, tangan kanan Papa.
Kak Kev mengambil tisu dari tengah meja dan mengelap wajahnya. Kevin Marvelio Karangga—si anak tengah badannya paling besar di antara mereka. Rambutnya diwarnai jadi silver. Wajahnya garang, kedua alis tebalnya selalu bertautan. Bahunya lebar, tebal dan keras. Dia mengenakan jaket jeans di atas kaos oblong putih. Celana itu awalnya sobek-sobek. "Trendy," katanya. Lubang-lubang yang sempat memamerkan warna pahanya itu sekarang rapat. Kak Grif memaksanya menjahit dengan tangan sampai tidak ada celah lagi bagi angin untuk masuk. Sama sekali tidak mengizinkannya istirahat sebelum selesai. Dia baru lulus kuliah tahun lalu. Belum lama ini, dia merintis usaha kuliner bersama sejumlah teman terpilihnya.
Terakhir, si bungsu Damy—Damian Anggaraksa Karangga. Baru lulus SMP. Garis wajahnya tajam. Wajahnya yang paling mirip dengan ibu mereka. Matanya intens. Dia yang paling mirip ibu. Kini wajahnya berkerut, menahan denyut yang menggelenyar di batok kepala sebelah kanannya. Hari ini hari pertamanya masuk SMA, tetapi migrain telah menyambutnya sejak bangun tidur.
Sungguh cara terbaik untuk mengawali sekolah, sarkasnya dalam hati.
Kak Grif menghela napas dan mengulurkan tangan. Meraih sisi kepala Damy yang sakit. Dari pusat telapak tangannya, muncul seberkas cahaya keperakan yang membungkus separuh kepala adiknya.
Damy memejamkan mata dan menikmati kehangatan itu. Rasanya seperti terapi moksa di titik yang tepat. Perlahan, migrainnya mereda. Tinggal denyut lemah di pelipis yang tersisa.
"Enakan?" Kak Grif tersenyum.
Kak Kev mendengus, seraya menyogokkan gulungan roti selai ke mulutnya. "Dasar manja."
"Makasih Kak Grif!" sambut Damy, senang. Dan kepada kakak tengahnya, dia menjulurkan lidah.
"Eh, awas lo—gak bakal gue jemput nanti pulang sekolah!"