10 tahun yang laluโ
"๐ฏ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ... "
"๐ต๐๐๐๐๐๐ ๐ ๐ ๐๐๐๐, ๐ซ๐๐ ...? ๐ฏ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ... "
"๐ด๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ...."
"๐ฎ๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ... ๐บ๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ...."
Ada kompleks ruko tak jauh dari area perumahan elit, tempat keluarga Karangga tinggal. Ruko itu sebenarnya mudah diakses. Hanya terpisah oleh lahan kebun kering warga, yang kebetulan pada tahun itu situasinya kurang terawatโdijual pemilik aslinya, belum menemukan pembeli baru. Bagian depan ruko sering dipakai berjualan abang nasi goreng kalau malam, mulai jam delapan.
Rukonya sendiri sebenarnya justru terbaikan, menjadi latar estetik bagi atraksi api abang nasi goreng di kala memasak. Gagal terjual, katanya. Pemilik sudah telanjur merugi.
Sore itu, Damy kecil bermain terlalu jauh mengikuti temannya. Biasanya hanya di sekitar rumah, tapi kali itu "temannya" mengajak main sampai ke ruko. Anak umur lima tahun mana saja tidak mungkin berpikir panjang. Bagaimana kalau dicari keluarganya? Bagaimana kalau terjadi sesuatu sedang dia di luar kompleks perumahan? Demikian pula Damy.
Yang dia tahu, dia mengikuti temannya, seorang gadis seumuran. Berkepang dua. Rok lipitnya kotor. Kulitnya pucat, nyaris keabuan. Dia tidak bicara sepatah katapun. Hanya tersenyum dan tertawa dari pinggir jalan perumahan tempat Damy sibuk mengamati tanaman liar. Dia melambai pada Damy, mengajaknya mendekat. Lalu berlari, memimpin ke arah ruko tersebut.
Yang semula tampak di mata Damy bukanlah ruko kosong. Melainkan sebuah rumah yang sangat megah dan terang seperti istana. Lampu-lampu gemerlapan di seluruh permukaannya. Orang-orangnya ramah. Tampak wajar, dengan segala busana yang mereka kenakan. Hanya kok, agak ketinggalan zaman sedikit. (Tapi apa yang anak kecil tahu tentang mode?) Semua menyapanya. Semua mengajaknya mendekat.
Damy kecil berkejaran dengan anak-anak sebayanya. Sampai tiba masa Damy tersandung kakinya sendiri. Dia terjerembab. Sebelah sandalnya terlepas. Hidungnya menabrak permukaan lantai yang keras.
Cahaya-cahaya cantik yang benderang itu lenyap.
Digantikan kegelapan. Dan kesunyian yang mencekam.
Angin dingin berembus, padahal tak ada jendela terbuka. Tubuh kurusnya menggigil.
Bulu kuduknya meremang. Damy kecil tertatih, memeluk lutut. Tubuhnya belepotan debu. Dia tak tahu dia dimana. Tak ada cahaya. Hanya ada ruang kosong dan kesunyian yang senyap.
Sendirian dan ketakutan, tangan mungil Damy meremas celananya yang kotor dan terisak.
Bisik-bisik memasuki telinganya. Awalnya lirih, hanya lebih keras dari angin. Lama-lama dia mendengar sesuatu bicara.
โ๐พ๐๐, ๐๐ ๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ....โ
โ๐ฏ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ... ๐๐๐ ๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐ ๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ....โ
โ๐ฑ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ... ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ....โ
Damy kecil menangis kencang. Dia benci sendirian. Sendirian mengingatkannya pada saat Papa meninggalkannya sendiri di kamar, tanpa menoleh dua kali ke arahnya dan tanpa kata. Damy tak boleh menyusulnya. Dia menghampiri pintu, memanggil Papa, memohon agar dibukakan. Namun Papa tak pernah menjawab dan pintu tak pernah terbuka untuknya.
Damy ingin pulang.
"Hiks, hiksโMama ...." Damy ingin Mama.
Kata Kak Grif, Mama bisa mendengar Damy kapan saja. Mungkin Mama tidak dengar.
"Mamaaa!" Damy memeluk lutut lebih erat. Wajahnya basah air mata bercampur ingus.
Dia tak peduli rasa asin yang masuk ke mulutnya. Dia hanya ingin Mama.