KARMIC

raresha
Chapter #3

Serigala Tanpa Tubuh dan Anak Malang—1

“Kabarin kalau sudah selesai sekolahnya!”

“Iyaaa.”

“Hapenya jangan mati—hei, jangan lari!”

Sebelum kalimat Kak Kev selesai, Damy berlari meninggalkannya. Dia menyelip di antara kendaraan-kendaraan pengantar lain dan menyeberang jalan bersama sekelompok anak lain. Sampai di gerbang sekolah, dia menjulurkan lidah pada kakak tengahnya itu, sebelum masuk. Kak Kev mengangkat kepalan tangan sebagai balasannya dan berlagak seolah meninju dari jauh.

Ini hari pertama Damy masuk SMA. Dia dan semua anak kelas X lainnya masih memakai seragam putih biru. Setidaknya hanya pada minggu pertama, sambil menunggu seragam sekolah mereka selesai dijahit. Selama itu pula, mereka menjalani masa orientasi sekolah. "Tanpa kekerasan, tanpa perploncoan," tegas Kepala Sekolah pagi itu saat upacara bendera.

Usai upacara bendera, Damy masuk kelas bersama rombongan anak kelas X-C—kelas yang akan menjadi rumah belajarnya selama setahun ke depan. Mereka belum punya tempat duduk permanen. Damy meletakkan tas di meja paling belakang, sebelah jendela. Damy yakin tempat itu kosong sampai ketika bel upacara berbunyi.

Namun kini, ada yang menempati kursi itu.

Anak perempuan. Rambut hitam sebahu. Air menetes-netes dari ujung rambutnya. Kulitnya abu-abu, sedikit berkeriput—seperti kulit yang terlalu lama berendam. Dia menunduk begitu dalam, sehingga seluruh wajahnya tertutup rambut. Kedua tangan kurusnya bertumpuk di pangkuan. Seragam putih abu yang melekat di tubuhnya kuyup.

Damy melambatkan langkah. Keningnya berkerut.

Murid kena bully? Haruskah aku pindah kursi?

“Kenapa berdiri saja?”

“Ahhh kaget!” Damy terlonjak dan mencengkeram jantungnya.

Bintang latah melompat—sama kagetnya—dan menampar lengan Damy.

Damy tidak sadar ada Bintang di dekatnya. Bintang adalah teman yang duduk di depan Damy. Mereka tadi bersepakat dengan formasi itu karena Damy lebih tinggi dari Bintang. Dia khawatir Bintang akan kesulitan melihat papan tulis.

“Duduk, gih. Bentar lagi guru datang."

Damy menghela napas dan menyisir meja-meja yang telah penuh dengan pandangannya. "Ada kursi yang masih kosong, gak?" Mungkinkah dia tidak kebagian tempat?

"Ngapain?! Memang di sini kenapa?" protes Bintang, seolah dia yang kehabisan kursi dan harus bersusah payah mengambil dari gudang sekolah.

"Lah, itu—" Damy menoleh lagi ke mejanya. Kosong.

Hm?

Tertegun sesaat, sampai sebagian besar teman-temannya sudah duduk, Damy celingukan. Matanya menelurusi satu demi satu sosok temannya, mencari sosok anak perempuan yang barangkali jadi korban perundungan. Namun, nihil. Tidak mungkin dia tidak menyadari anak itu pergi. Satu-satunya jalan yang dilewati tertutup olehnya. Bintang bahkan menghadapkan badan sepenuhnya ke arah yang pasti bisa melihat pergerakan anak perempuan tadi. Tidak mungkin pula tidak ada yang berkomentar tentang sosok yang kebasahan di kelas.

Ah. Jadi ... ada yang tidak mau kalah menyapa ternyata. Hanya itu satu-satunya penjelasan.

Anak perempuan tadi bukan manusia.

Damy menghela napas. Dia mengibas-ngibas kursinya sebelum duduk, seolah membersihkan debu, padahal demi ketenangan batin. Siapa juga yang nyaman menempatkan pantat di bekas duduknya hantu?

Bintang memutar badan di atas kursi, dengan cara yang bakal membuat setiap guru berkata, "Jangan duduk begitu, nanti tulangmu geser." lalu melanjutkan obrolan mereka sejak di lapangan upacara. Teman sebangku Bintang bergabung. Namanya Mada. Tahun ini keluar lumayan banyak judul film. Rupanya selera film mereka bertiga sama.

Damy memang lebih mudah akrab dengan Bintang daripada Mada. Karena Bintang pandai ice-breaking, sementara dirinya sendiri canggung. Mada agak pendiam, tetapi juga tahu banyak tentang film, bahkan buku-buku atau pop culture yang jadi referensi. Mereka bertiga berasal dari SMP yang berbeda.

Jam-jam pertama sekolah tidak diisi pelajaran. Baru diisi perkenalan wali kelas dan anak-anak bergiliran menyebutkan nama, asal sekolah, dan hobi atau cita-cita.

Damy berdiri setelah Mada, lalu Bintang. Dia baru akan membuka mulut, ketika pintu kelas diketuk dari luar. Seorang anak laki-laki muncul, tersenyum kikuk. Lesung pipinya asimetris—dia hanya punya satu, di pipi kanan. Perhatian seluruh kelas teralih kepadanya. Begitu pula Damy. Namun, bukan wajah semanis gula atau sopan santun sesejuk ubin masjid yang mencuri perhatian Damy. Bukan juga tinggi badannya yang di atas rata-rata, yang membuatnya harus menunduk agar kepalanya tidak terbentur ambang pintu. ("Berapa tingginya?!" Bintang berkomentar, takjub.)

Lihat selengkapnya