Dunia berputar.
"Eh, eeehhh—" Mada dan Bintang berebut mendekat, mencegah Damy ambruk kedua kalinya hari itu. “Daaamm, serius, lo kalau gak enak badan banget, izin pulang saja.”
Damy menggeleng. “Gue merem dulu aja.”
Meski bukan hal yang pantas dibanggakan, migrain adalah hal biasa bagi Damy. Dalam artian, sudah sering mengalami. Bukan bermaksud meremehkan rasa sakitnya. Setiap kali mimpi itu datang, Damy selalu terbangun dengan tusukan di salah satu sisi kepalanya—kalau tidak kiri, ya, kanan. Tubuhnya serasa babak belur usai diamuk warga. Pada intensitas tertentu, dia juga mengalami mimisan—seperti semalam—atau mual dan muntah—seperti yang baru saja dia alami.
Biasanya ada Kak Grif yang mengiriminya energi Prana¹, sehingga pemulihannya tidak lama. Namun kali ini tidak ada Kak Grif. Damy membutuhkan waktu lebih untuk menata diri. Kak Grif mengajarinya cara sederhana untuk menyeimbangkan Prana yang kacau—karena sakit atau kelelahan. Damy berbaring di sisi kanan dan perlahan mengatur aliran napasnya.
Sedikit demi sedikit tenaganya terkumpul. Namun tidak banyak.
Prananya terkuras.
Makhluk yang mengikuti Arsa memiliki energi yang besar dan berat. Tubuh Damy tidak kuat menahan benturan energi yang terjadi tadi. Sehingga Prananya dan energi makhluk itu meledak.
Padahal mereka hanya bertemu pandangan.
Lalu setelah ini, Damy harus duduk sebelahan dengan Arsa selama setahun penuh. Dimana ada Arsa, makhluk itu juga pasti ada di sana.
Mantap betul, sarkasnya dalam hati.
***
Damy merengut. Kepalanya tidak berdenyut lagi kecuali kalau dia banyak bergerak. Sementara si bongsor di sebelahnya tersenyum tanpa rasa bersalah. Lesung pipi itu berhasil memikat anak-anak perempuan di sisi lain ruang kelas. Namun Damy tidak terpengaruh.
“Namaku Arsa,” celetuknya begitu Damy meletakkan pantat di kursinya.
Kalau bukan karena norma sosial, Damy tidak bakal menyahut. “Damian.”
“Kata temenmu, namamu Damy.”
“Cuma mereka yang boleh manggil gue gitu.”
“Ohhh ….“
Damy tidak tahu apa Arsa paham dengan sekat yang dia bentangkan itu. Damy tidak ingin berteman dengannya. Damy tidak ingin duduk sebelahan dengannya. Damy tidak ingin bicara dengannya.
Bukan karena dia tidak suka Arsa.
“Lo gak merasa gerah?” Damy melirik kepulan asap hitam di balik bahu Arsa. Serigala itu memicingkan mata semerah magma ke arahnya dan membuat pelipis kanan Damy kembali berdenyut.
Dia sudah menggunakan nada sugestif, tapi yang ditanya hanya mengerjap bodoh dan menengok ke AC yang menyala di dinding, dekat eternit. “Gak, sih. Kamu gak kepanasan, kan?”
Bukan gerah itu yang Damy maksud.
Damy cepat-cepat menggeleng pada pertanyaan Arsa. “Lo gak—” Bagaimana caranya mengetes anak itu bisa Lihat atau tidak dengan pertanyaan yang tidak mencurigakan? “—pegal bahunya?”
Mendengar itu, Arsa sontak menegakkan punggung dan memiring-miringkan kepala ke kiri dan kanan. Kemudian dia melebarkan senyum ke arah Damy, “Gak sih, mungkin karena belum disuruh bawa buku pelajaran, ya? Haha.”
Damy menghela napas panjang. Bocah ini gak bisa Lihat. Pantas saja, dia terlihat abai meskipun ada makhluk sebesar itu bergelayut kepadanya. Untung hanya satu.
Sebenarnya, karakter Arsa cukup positif. Sopan dan tahu cara menyenangkan lawan bicaranya. Agak canggung, tetapi dia tidak pernah berhenti tersenyum.
Yang dia permasalahkan itu si "anjing" hitam. Serigala sih, tetapi Damy malas menyebut spesies sejatinya.
Anjing itu terus-terusan memicing ke arahnya. Seakan dia memperingatkan Damy, kalau Damy kelepasan bicara tentangnya sedikit saja, dia bakal berbuat sesuatu yang tidak-tidak. Entah kepada anak itu atau kepada Damy. Sebenarnya Damy tidak rugi apa-apa kalau anak itu yang celaka ….
Jleb!
Sesuatu yang tajam terbang entah dari mana. Tiba-tiba terbang ke meja Arsa, menancap persis tiga senti di sebelah tangan Damy yang sedang diletakkan di mejanya sendiri—yang memang menempel dengan meja Arsa.
Jangkar besi. Alat ukur matematika.
Damy melotot.
“Ah, maaf!” kata anak yang duduk di kiri Arsa, di seberang lorong meja.
“Hahaha ... gak apa-apa,” kata Arsa, yang tangannya terluka sedikit karena tadi menangkis arah terbangnya jangkar, tapi malah membuatnya mendarat di dekat tangan Damy.