Griffith keluar dari kamar dan menghela napas. Masih pagi, tapi dia sudah mendapati kedua adiknya membuat kegaduhan. Damy terjebak dalam pitingan kaki Kevin, mengaduh kesakitan sambil ceruk bahunya dipijit dengan tekanan yang dijanjikan “istimewa”.
Istimewa menyakitkannya.
Menurut pengakuan, semua bermula dari keluhan pegal-pegal di sekujur tubuh yang diderita si bungsu sejak bangun tidur.
Adiknya cuma dua. Tapi Griffith kadang merasa membesarkan dua puluh adik sekaligus. Dia mempermudah paginya dengan langsung berjalan ke dapur. Dia menyapa Bang Ilya, asisten rumah tangga mereka, yang datang hanya setiap pagi dan sore untuk mengurus rumah. Bang Ilya baru mengeluarkan ember berisi sikat-sikat dari kabinet di bawah wastafel. Sementara Griffith sendiri menyalakan mesin pembuat kopi.
Keributan di ruang keluarga diakhiri dengan teriakan keberhasilan Kevin dan raungan kesal Damy. Beberapa menit kemudian, Kevin muncul dengan riang di dapur.
“Adeknya jangan dinakalin, Kevin,” kata Griffith, setengah bersenandung. “Adekmu cuma ada satu di dunia ini.”
Bang Ilya pamit untuk mulai bekerja.
“Dikit aja, Kak,” Kevin tertawa dan mengeluarkan sebotol air dari kulkas. “Ada kabar apa dari Papa?”
Papa. Ya, mereka masih punya seorang ayah.
Papa seorang pemilik jaringan hotel dan kawasan pariwisata pantai. Sejak Mama meninggal, Papa menghabiskan hidupnya untuk pekerjaan. Berpindah dari hotel ke hotel miliknya. Bahkan walau ada rumah, Papa lebih memilih di hotel. Hanya pulang untuk hal darurat. Dibanding Damy dan dirinya, Kevin memang lebih dekat dengan Papa.
Griffith mengeluarkan bubuk kopi dari kulkas. “Dia baik-baik saja.”
“Ketempelan lagi?”
“Sedikit.”
“Sedikit itu berapa? Terakhir Kakak bilang lima puluh biji setan itu sedikit,” Kevin mendengus.
Griffith menimbang bubuk kopi langsung di atas portafilter. Biasanya dia pakai sekitar 18 gram. Terkekeh, “Ya, buatku segitu tuh sedikit.” Buat Damy mungkin malah tidak ada apa-apanya. Dia pernah menyaksikan Karangga termuda itu menghabiskan satu koloni hantu di sebuah ruko seorang diri. Di dalam koloni itu, ada hantu kerbau dan punggawa-punggawanya yang cukup kuat, sampai membuat Griffith bergidik setiap kali teringat. Itu Damy lakukan di usia lima tahun, saat energi spiritualnya baru terbangun. Maka bayangkan apa yang dapat dia lakukan sekarang?
Bicara tentang ruko berhantu tempat Damy tersesat dulu, ruko itu terjual. Energi spiritual Damy bukan hanya melebur hantu-hantu di sana. Namun juga membersihkan residu energi yang membuat ruko itu terkesan "gelap". Sekarang, ruko itu beralih menjadi minimarket, coffee shop, warung sayur dan daging, dan bengkel yang selalu ramai.
“Sombong!”
“Siapa sombong? Pasti Kak Kevin.”
Dua bersaudara itu menoleh. Si bungsu datang, sudah berseragam lengkap putih-abu. Pemandangan itu sejenak menyelipkan perasaan aneh yang hangat di dada Griffith. Akhirnya, adiknya menanggalkan putih-biru. Mungkin ini yang dirasakan induk burung sebelum menyadari anaknya sebentar lagi akan meninggalkan sarang dan hidup mandiri sebagai burung dewasa.
Anak tengah keluarga Karangga itu langsung melingkarkan lengan kekarnya ke leher si bungsu dan menariknya ke ketiak. “Siapa maksudmu yang sombong, ha?”
“Ahhhh! Kakaaaak! Pasti Kak Kev belum mandi!”
Kevin terbahak seperti penjahat, sementara Damy terus meronta.