KARMIC

raresha
Chapter #6

Serigala Tanpa Tubuh dan Anak Malang—4

Hari ini resmi menandai dimulainya pelajaran. Arsa dan Damy bertukar tempat duduk. Damy memaksa gara-gara kejadian jangkar kemarin, yang hampir saja melubangi tangannya. Dia pikir, menjauhkan Arsa dari seisi kelas akan mengurangi potensi melebarnya tingkat kemalangan yang terjadi.

Arsa tampak bingung, tapi dia menurut-menurut saja.

Yah, idenya terasa brilian di jam-jam pertama sekolah. Pagi berlalu dengan tenang. Sampai-sampai Damy lupa dia duduk di samping anak yang dihantui serigala—kepalanya saja sih—kalau tidak menoleh. Hari ini, "si Anjing” menyimpan energinya. Jadi Damy tidak sampai migrain. Sepertinya kemarin memang acara sapa menyapa. Makanya dia galak begitu? Atau … dia sedang kehabisan ide mau menciptakan kemalangan apa lagi? Apakah menempatkan Arsa di pojokan keputusan yang tepat?

Bel istirahat berdentang.

“Ke kantin yuk!” Bintang berbalik dan menepuk meja Damy.

“Bentar.” Damy menyelesaikan baris terakhir catatan yang dia salin dari buku Mada.

“Gimana nyokap lo, Sa?” Yang punya buku menoleh ke teman sebangku Damy.

“Aman, Da,” Arsa terlihat senang dilibatkan dalam percakapan mereka.

“Nyokap kenapa, Sa?” Bintang penasaran.

“Baru kelar operasi tumor otak, Bin.”

“Ohhh?! Tumor o—ow—sori …” Dalam antusiasmenya, Bintang lupa mengecilkan suara. Mada menyodok rusuknya dengan siku dan memberinya tatapan memperingatkan.

Sementara itu Arsa tampak tidak terlalu peduli. Walaupun, ketika Damy melirik ke bawah meja, kaki Arsa tidak berhenti berguncang. “Gak apa-apa, haha.”

Damy ingin memukul kaki Arsa agar dia berhenti, tetapi dia menahan diri.

“Udah pulang apa masih di rumah sakit?”

“Udah pulang kok. Operasinya udah semingguan yang lalu.”

“Operasinya aman?”

“Kata dokter sih aman. Tinggal nunggu biopsi sama kalau lancar, fisioterapi.”

"Motor lo? Kayaknya tadi gak pakai motor, ya?" timpal Mada.

"Hahaha ... aku gak dibolehin bawa motor dulu," Arsa menggaruk alisnya.

"Lah, kenapa?"

"Gak apa-apa sih." Itu yang Arsa katakan. Namun jika melihat keadaannya—digentayangi hantu jahat yang terus-terusan mengiriminya kemalangan—Damy setuju pada siapapun yang melarang Arsa membawa motor.

“Udah!” kata Damy tiba-tiba. Menutup buku Mada dan mengembalikannya pada yang punya.

“Abis ini langsung salin punya Arsa saja, punya dia kan juga rapi,” Mada menyimpan buku tulisnya di laci.

“Kok lo tau?”

“Lah gue nyalin punya dia tadi.”

Jadi selama ini buku tulis mereka cuma berputar-putar.

Damy menggeleng, meraba uang saku dari Kak Grif yang masih tebal di dada. “Yok, kantin.”

"Asyik!" Bintang melompat berdiri. Punggung kursinya menabrak meja Damy. "Aku penasaran sama bakso yang katanya enak itu!"

Mada dan Arsa beranjak bersamaan. Waktu yang belakangan berdiri, Damy menghela napas. Bukan, dia bukan kesal pada Arsa. Tapi pada si anjing yang harus mengikuti mereka, bagaimanapun juga. Apa yang direncanakan hantu itu? Apa dia mau berulah lagi dan mencelakai dia dan teman-temannya barunya? Apa yang bisa dia lakukan?

Rasanya bukan dia yang dihantui. Kenapa jadi dia yang repot?!

***

Damy memerhatikan, sosok-sosok tak kasat mata, yang biasanya ramai membaur di antara anak-anak yang berlalu lalang, mendadak menyibak waktu mereka berempat lewat tanpa Damy melakukan apa-apa. Bisa jadi karena aura si Anjing yang lebih mendominasi sehingga mereka semua takut.

Ada untungnya juga sih Arsa ikut bersama mereka. Damy jadi tidak perlu bersinggungan dengan hantu-hantu lemah yang berniat mendekat dan mengganggu. Namun di lain sisi, kalau si Anjing memutuskan untuk berulah saat itu juga, Damy bakal menghadapi kekuatan yang cukup besar.

Yang manapun sama-sama membuat Damy sakit kepala.

Lihat selengkapnya