Griffith, anak tertua keluarga Karangga, menghela napas panjang setelah akhirnya mampu membebaskan diri dari kesibukan yang mengekang. Belum lewat tengah hari, dia sudah rapat dua kali. Berlanjut membaca sepuluh lebih fail proposal dan mengkaji dengan teliti kebutuhan dana dan pelaksanaan. Begitu malam menjelang, pandangannya mengabur karena kelelahan. Baru tiga bulan lalu dia memperbarui resep kacamatanya. Dia sungguh-sungguh berharap minusnya tidak bertambah, atau dia harus mempertimbangkan operasi lasik. Untung saja, hotel milik ayahnya itu menyediakan satu kamar presidential suite khusus untuknya. Kalau adik-adiknya mau, mereka juga bisa menyusul.
Pemuda itu menutup pintu kamar dan mengendurkan dasinya segera. Di umurnya yang sudah memasuki kepala tiga, pinggang dan lehernya sudah mulai merasakan akibat duduk berkepanjangan di depan laptop.
Listrik di dalam sudah menyala. Seseorang telah menggunakan kamar itu lebih dulu darinya dan masih berada di sana. Pandangannya jatuh pada sosok jangkung, kurus, bakal-bakal jenggot tersebar di sepanjang rahang tirusnya. Kombinasi genetik campuran Asia dan Eropa di wajah itu pasti mengundang lirikan gadis-gadis pada masanya. Mungkin sekarang pun masih, meski rambut di seluruh kepalanya sudah memutih. Hector—ayahnya—duduk tepekur di ujung ranjang. Matanya menerawang ornamen kaca di dinding. Entah apakah pada suatu titik di hari ini dia menganggap ornamen itu menarik atau tidak, sebelum tenggelam dalam lamunan.
Griffith menghela napas lagi. Lebih dalam, kali ini. Sudah lama sekali sejak terakhir dia melihat Papa tersenyum. Kematian Mama mengubahnya jadi laki-laki yang sangat menyedihkan. Bila bukan Griffith yang menyetujui tatanan penampilannya, orang tidak akan tahu dia pemilik hotel tempat mereka bekerja.
“Sekali-sekali, pulanglah, Pa,” Griffith meletakkan tas kerja di meja terdekat. Dahinya berkerut. Belum lama dia membersihkan laki-laki berumur setengah abad lebih itu. Hari ini entitas tak kasat matas yang bergelayut di bahunya lebih banyak dari biasanya. Griffith mendekat, berjongkok di depan lutut laki-laki itu. Satu lutut di lantai. “Papa darimana saja?”
Hector menurunkan pandangannya. Ujung bibirnya terangkat sekadarnya, tak sedikitpun menghapus gurat sendu dari wajahnya. “Ah, Griffith. Akhirnya mereka membiarkanmu pergi." Dia berkata begitu seolah ini pertama kali dia menyadari keberadaan orang lain di ruangan itu. "Aku tidak dari mana-mana—kamu tahu sendiri.” Suaranya serak, pekat oleh lelah. Ya, Griffith tentu tahu kemana saja seorang Presdir melawat. Dia yang mengatur sebagian urusannya. Sedang ayahnya tidak pernah kemana-mana selain memenuhi panggilan kerja. “Apakah mengurusi Papa melelahkan? Maaf ya, Papa hanya bisa merepotkanmu.”
Griffith mendengus. Bagi orang lain, urusan mereka hanya sebatas obrolan ayah dan anak. Namun bagi Griffith, urusan mereka selalu lebih dari itu. Pemandangan sore itu adalah salah satu di antara yang paling tidak ingin dia saksikan: Papa terlihat begitu rapuh, dengan puluhan entitas putih transparan berbagai rupa melayang di atas pundaknya, mata mereka kosong, rahang menggantung—seolah mereka menyedot energi kehidupan Papa. Banyaknya jumlah mereka menyebabkan udara di sekitar mereka terasa gerah dan lembab, menyesakkan.
Griffith sebenarnya sudah sangat ingin istirahat. Tapi dia tidak bisa membiarkan Papa dalam kondisi begini.
Maka dia mengambil napas panjang, menahannya di dada, dan dengan bimbingan kedua tangannya yang terbentang lebar, dia menggelar energinya yang berpendar keperakan di lantai dan mengangkatnya ke langit-langit. Setiap sosok hantu yang tersentuh terbakar tanpa sempat menjerit atau kabur. Baru setelahnya dia mengeluarkan napas. Dia mengulanginya sampai tiga kali. Sampai benar-benar tak bersisa.
Itulah Prana. Sebagian menyebutnya Qi atau Ki. Esensinya sama.
Pendar Prana setiap orang berbeda-beda, tetapi bisa juga sama. Biasanya tergantung pada kepribadian atau pola genetik yang hanya bisa dipahami secara metafisika. Griffith dan Kevin berpendar putih keperakan, sedangkan Damian kuning keemasan.
Griffith beranjak dari lantai dan berpindah ke samping lelaki tua itu. Mengusap lembut area punggungnya. Mama pernah mengajarkan, usapan dari tangan yang hangat dan penuh kasih sayang dapat melancarkan aliran energi yang tersendat.
“Terima kasih, Griffith,” kata Hector, duduknya lebih tegak sekarang. “Mama pasti senang melihat Griffith tumbuh jadi anak pintar dan kuat.”
Griffith mengabaikan pujian klasik untuk anak kecil itu. “Mama mungkin sedih kalau melihat Papa begini.”
“Tak perlu memberitahuku, aku tahu.”
Hening yang sejenak menyela terasa menyesakkan.
Griffith tetap di sana selama beberapa waktu, tidak berhenti mengusap punggung laki-laki uang lebih tua. Butuh waktu, apalagi ketika Papa sudah sampai di kondisi seperti itu. Kesedihan mendalam telah banyak melemahkan Prana Papa.
Untuk kalian yang bertanya: ya, bisa saja itu terjadi—sebab kesedihan adalah emosi yang nilai frekuensinya rendah. Bersama dengan marah, iri dengki, dan keputusasaan. Berada dalam frekuensi rendah seperti itu dalam waktu lama jelas sangat mempengaruhi Prana. Jalur-jalur energi menyempit, kotor. Dan salah satu efek sampingnya bahkan tubuh fisikmu jadi favorit entitas-entitas yang frekuensinya juga sama rendahnya. Baik dari golongan manusia maupun hantu.
Selama ini Griffith membantu Papa merawat jalur energinya. Namun satu, dia tidak bisa selamanya di samping Papa. Dua, kalau bukan Papa yang memulai pemulihan diri, maka sebenarnya apa yang dilakukan Griffith hampir pasti tidak ada artinya.
Langit menampakkan lukisan terindahnya di luar jendela. Perpaduan warna jingga dan merah muda. Bulan separuh mulai mendaki ufuk sambil menyeret kegelapan di kakinya.
Griffith beranjak. “Griffith pulang dulu, Pa.” Niatnya istirahat sebentar batal, menimbang keadaan Papa, yang mungkin membutuhkan kamar ini untuk diri sendiri.
“Bagaimana kabar Kevin? Bisnisnya lancar?”
“Dia sehat, seperti biasa. Kalau bisnisnya, entahlah. Kami jarang mengobrol tentang itu di rumah.” Di rumah, dia adalah wasit bagi adik-adiknya, yang selalu terlibat keributan. Kalau ada pertanyaan untuk Kevin, pasti itu karena Damy baru saja marah-marah.
“Katakan padanya, kalau butuh modal, Papa akan support.”