"Ow!" Arsa reflek menjatuhkan pisau buahnya.
Di jari telunjuk kirinya, sebuah torehan terbentuk cukup dalam. Merah langsung meleleh dan mewarnai buku tulis di pangkuannya. Sebagian terpercik ke lantai di sekitar kakinya.
“Kenapa Ar—ah, astaga,” seorang wanita duduk bersandar pada kepala tempat tidur di hadapan Arsa. Kepalanya dibalut perban putih bersih. Selimut menutupi rapat tubuhnya dari pinggang sampai ujung kaki. Dia sibuk mengganti-ganti saluran TV dengan remote control di tangan. Sesekali menggumam tentang acara favoritnya yang terlewat saat dia tidur pagi tadi. Dia menoleh begitu mendengar gumam kesakitan Arsa. “Aduh, kamu kurang hati-hati, ya? Pakai tisu, Sayang.”
“Hahaha, gak apa kok, Ma.” Arsa mengambil berlembar-lembar tisu dari lemari nakas di samping tempat tidur ibunya dan membebat luka di jarinya. Gumpalan tisu itu berubah merah dengan cepat. Bagian jarinya yang teriris pisau berdenyut, nyeri. Namun tidak ada yang membuatnya lebih panik daripada melihat reaksi ibunya.
Mama memucat, khawatir. Kerutan di wajahnya seakan mengambil sisa usianya. Entah karena tak siap atau tak kuat menghadapi Mama dalam keadaan demikian, Arsa pun pamit. Dia memakai lukanya sebagai dalih, sekaligus memulangkan kembali pisaunya ke dapur. Buah pir Mama biar dulu tergeletak di nakas.
"Santai, Ma, Arsa yang salah—mengupas buah sambil belajar. Gak fokus dong, hahaha.” Dia tersenyum, meski jantungnya berdebar. Ketika Mama tidak juga tampak lega, Arsa tersenyum lebih lebar dan pergi begitu saja.
Mama selalu jadi yang paling pertama ketakutan bila Arsa terluka. Bahkan, kalau Arsa menilai, sering berlebihan. Mama melarangnya membawa motor sendiri, meski Arsa sudah punya SIM dan meski dia berjanji berhati-hati di jalan. Padahal dia hanya pulang membawa sedikit lecet karena dikejar kalkun. Dia sendiri mengira pengalaman itu lucu. Namun, Mama memiliki pandangan berbeda.
Di dapur berpenerangan remang, karena hanya sebagian lampu yang menyala, Arsa menghela napas panjang. Bahunya melorot.
Mama sudah cukup lelah menahan rasa sakit selama ini. Arsa tidak ingin menambah pikiran Mama dengan luka-lukanya.
Arsa meletakkan jari di bawah air, yang mengalir dari keran berleher panjang dan melengkung. Merah menetes-netes bersama air, melambat perlahan, mengembang di cekungan bak cuci piring, sebelum kemudian terserap oleh lubang pembuangan. Cukup lama Arsa rasanya berdiri, sampai tangan dan kakinya pegal.
Namun, dia tidak juga beranjak.
Arsa tidak bisa melupakan kejadian siang tadi. Dia menyaksikan sendiri bagaimana kaca jendela di sebelah mejanya persis pecah berkeping-keping. Bola voli milik kakak kelasnya memantul dari tepian meja teman di seberang lorong, hampir mengenai Mada—kalau reflek menangkisnya buruk, kemudian menggelinding ke lantai.
Bintang marah-marah. Mada masih syok, tapi pengendalian diri dia memang bagus. Dia memilih mengamankan mereka semua dulu dari menginjak atau tertusuk pecahan kaca. Sementara itu Damian, teman sebangkunya, pucat pasi dan lemas walau, syukurnya, kembali bersemangat di sisa hari itu. Dia tidak marah sama sekali ketika Mian mengomelinya terus-terusan.
Arsa percaya Mian tidak membencinya. Sorot matanya memang tajam, tetapi ada nuansa melankolis yang tidak bisa dijelaskan. Mata seperti itu bukan mata orang jahat. Mungkin memang sifat Mian tidak sabaran begitu. Arsa memang cepat kalau hitung-hitungan, tetapi lamban di mapel bahasa asing. Di kelas, Arsa sering bergantung kepada Mian dalam menghapalkan golongan kata-kata dalam bahasa Jerman, misalnya. Siapa yang tidak kesal kalau berkali-kali ditanya?