KARMIC

raresha
Chapter #9

Taring yang Bersarang dalam Rusuk—1

"Gue gak pernah nemu orang sesial lo seumur hidup," kata Bintang.

"Hahahaha..."

"Malah ketawa." Mada menggeleng.

Tiga temannya tiba bersamaan di kelas pagi itu. Membuat Damy, yang asik menggulirkan layar ponsel langsung menengadah, heran sekaligus penasaran.

Bintang menjatuhkan tas di kursinya dengan bunyi "bruk" yang membuat Damy mengernyit. Daftar pelajaran mereka tidak banyak hari itu. Apa yang membuat tas Bintang seberat itu? Dari mulut tas yang tidak terkunci rapat, Damy mengenali tepian jilid komik.

Bukan hanya Damy yang kaget dengan bunyi itu. Di sebelahnya, sejak awal kedatangan Damy di kelas, telah lebih dulu duduk sesosok perempuan. Luput dari pandangan semua orang, kecuali Damy. Perempuan yang sama, yang di hari pertama Damy sekolah menduduki kursi yang akan dia duduki. Masih dengan seragam sekolah yang sama, kulit pucat, dan rambut yang menutupi wajahnya. Hantu itu meninggalkan sisinya sebelum Bintang sampai—melayang perlahan, lurus ke atas dan entah kemana, Damy tak memperhatikan.

Tekanan halus di sisi kepala Damy hilang, menyusul kepergian hantu itu. Digantikan oleh keberadaan yang jauh menyesakkan. Seluruh kepala Damy berdenyut.

Lagi-lagi, batin Damy pasrah. Sampai kapan aku harus bertemu makhluk ini?

Damy melirik sepintas keberadaan sosok hitam di balik punggung Arsa. Begitu pekat, sampai-sampai Damy merasa dia memerlukan lampu tambahan. Kepala serigala menggantung di puncak tubuh asap itu. Dalam benaknya, sepasang mata merah menatap tepat ke arahnya, tak berkedip. Angkara murka yang bersemayam di balik sepasang mata yang membara itu membuat sarapan Damy merayap naik ke kerongkongan. Damy menyebut makhluk itu "si Anjing".

Damy mengeluarkan serdawa, sebelum menyeletuk. "Kenapa kalian barengan?"

"Bocah ini," Bintang mengedikkan kepala ke arah Arsa, yang tersenyum tanpa dosa. "Kami ketemu di depan, dia hampir saja tertabrak mobil. Tahunya lagi menyelamatkan anak kucing. Bah!"

"Terus kami bawa ke UKS karena katanya tangannya sakit," lanjut Mada, menyelip ke kursinya lewat kursi Bintang. "Tapi guru jaga belum datang."

"Iyalah, masih pagi!" Bintang bersungut-sungut.

Damy meneliti Arsa dari atas sampai bawah, sebelum pandangannya berhenti di tangan kiri Arsa, yang digenggam erat dekat dada. "Kenapa tangan lo?" Si Anjing berhasil mencelakainya lagi?

"Mungkin terkilir," Arsa mengangkat bahu. "Tapi gak apa-apa kok."

Kalau Damy tidak tahu keberadaan si Anjing, dia mungkin setuju dengan Bintang dan menyuruh Arsa ke UKS. Namun karena dia Melihat sosok itu menyeringai puas di belakang Arsa, Damy tidak berkomentar apa-apa. Hanya menghela napas panjang dan menggeleng. Anjing gila—sayang sekali gak ada vaksin rabies untuk hantu anjing.

Bel pagi berdering, menandakan pelajaran segera dimulai. Damy mengirim lirikan tak suka pada si Anjing, sebelum bergeser dan mempersilakan Arsa masuk ke tempat duduknya.

"Udah ngerjain PR belum?" Dan suasana pun kembali, seperti tak ada sesuatu yang besar pernah terjadi.

Di jam istirahat, mereka mendapat formulir eskul. Ada banyak pilihan eskul di sekolah. Daftarnya saja dua halaman sendiri. Damy tidak langsung mengerjakan. Kakak OSIS yang membagikan bilang, mereka bisa mengumpulkan formulir eskul minggu depan. Damy bakal pikir-pikir dulu sebelum memilih esksul yang akan diikutinya selama setahun.

"Ada taekwondo." Mada membaca formulir miliknya. Mereka berempat beriringan menuju UKS lagi, barang kali guru jaga sudah ada.

Lihat selengkapnya