KARMIC

raresha
Chapter #10

Taring yang Bersarang dalam Rusuk—2

Tubuh asli Damy di bawah sana roboh. Dan suara Arsa yang memanggil-manggilnya tanpa putus terdengar seolah diteriakkan dari tempat yang jauh.

Di udara, terhalang dari pandangan manusia, si Anjing membawa Damy menembus atap sekolah. Angin menderu kencang di telinganya. Raga halus Damy mencengkeram taring-taring yang menancap di tubuhnya. Tak ada rasa sakit. Tak ada yang dirasakannya. Tidak ada pula yang bisa dia lakukan. Dia mendorong paksa taring yang bersarang dalam rusuknya itu, tetapi semakin dia mengerahkan kekuatan, semakin dia kepayahan.

Sepanjang sejarah dia berkelahi dengan hantu, ini kali pertama makhluk sebesar gunung mampu mengelabui pertahanannya. Bahkan sampai nyaris melumatnya bulat-bulat. Bukan “nyaris” lagi kalau dia diam saja.

Damy mengerling ke kerongkongan si Anjing. Rongga mulut itu sangat besar. Dia terjebak di tepian moncong, dijepit taring yang menembus rusuk. Kakinya menggantung di udara. Jika si Anjing mau, Damy bisa saja tercabik, patah menjadi dua—

Damy menatap horor kedua tangannya. Bulir-bulir keemasan di tubuhnya berarakan gelisah, tertarik ke arah kebocoran di dadanya—dan tumpah, menggenang ke lidah si Anjing, kemudian mengalir ke kerongkongan binatang buas itu—

Dia menyerap energiku, pikir Damy.

Namun Damy tidak akan membiarkannya semudah itu.

Damy memejamkan mata dan berkonsentrasi. Dia mengumpulkan Prana—bulir-bukir emas yang menyelubungi tubuhnya—di jari telunjuk dan tengahnya. Berat, karena dia sekaligus mencegah arus Prana berhamburan meninggalkannya. Dongkol karena taktik licik hantu serigala itu, Damy menguatkan fokus sampai dia berhasil menciptakan aliran Prana panjang seukuran tombak dari kedua jarinya. Ujung jarinya panas. Dengan ujung “tombak” emas itu, Damy menusuk langit-langit mulut si Anjing, menarik tangannya ke samping sehingga terbentuk robekan yang sangat besar di moncong kanan si Anjing—

Lolongan pilu pecah. Bulu kuduk Damy berdiri—

Taring-taring di rusuknya melonggar. Damy mengerahkan seluruh tenaga yang dia punya dan mendorong, sehingga dia terbebas—

Damy, mengambang di udara, menegakkan diri. Empat lubang di dadanya masih menganga. Buliran emas masih mengucur dari dalamnya, meski sudah tidak sederas tadi.

Kalau ini raga aslinya, dia sudah bakal mati.

Ancaman belum berakhir. Dia harus kembali. Secepatnya.

Si Anjing—kini semakin gelap mata—bergulung-gulung di udara, sebelum berputar dan mengejar raga halus Damy—separuh wajah telah koyak, asap hitam meleleh dari rekahan di pipi kanannya.

Kali ini Damy lebih siap. Kedua tangan di depan dada, Damy mengumpulkan bulir-bulir emas dari seluruh tubuhnya. Di ruang kosong di antara kedua telapak tangannya, terbentuk seberkas cahaya, yang semakin kuat—

Hantu serigala itu memacu diri, berenang di udara dan meninggalkan jejak asap di belakangnya—

Bola di dada Damy semakin besar, sehingga memenuhi tangan Damy—

Si Anjing membuka mulut—siap menyambar—

Damy melontarkan bola cahaya di tangannya ke rongga yang menganga—

BLEGAR!

Ledakan yang membutakan mata Damy menghancurkan kepala si Anjing. Daya ledaknya bahkan dirasakan di alam nyata, beberapa meter di bawah mereka. Gempa menggetarkan langit-langit sekolah dan merontokkan debu-debu yang telah nyaman berdiam di ceruk-ceruk yang tak terjangkau—

Asap hitam terpecah dan menguap ke segala arah, meninggalkan Damy yang melayang seorang diri di pusatnya.

Dia harus kembali. Namun, tubuhnya menolak segala perintah. Bahkan untuk menggerakkan jari tangannya saja dia tak mampu. Tarikan napasnya tak sampai memenuhi seluruh rongga dada, seolah ada gajah duduk menimpanya.

Dia harus kembali.

Namun, tidak bisa.

Dadanya ... Apakah dia bakal baik-baik saja andai dia bisa kembali?

Lihat selengkapnya