Kalau kemarin Damy pulang sekolah dalam keadaan lapar, kali ini Damy hampir salah masuk mobil orang. Kevin, yang menyaksikan dari dalam mobil, menghela napas dan menggeleng. Padahal mobilnya dan mobil yang didatangi Damy jelas perbedaannya—satu hitam, satu silver.
“Sebelah sini, Deeek!” Kevin memutuskan mengeluarkan kepala dari jendela mobil karena Damy mematung terlalu lama di depan mobil yang salah. Dia menunggu sampai Damy tersadar dan melontarkan komentar lain, “Kenapa otakmu tuh?”
“Ah, um…” Minimnya respon itu membuat dahi Kevin berkerut.
Ada apa ini? Matanya tak lepas dari adiknya, yang berjalan menghampiri mobil mereka dan masuk. Ada yang gak beres. Begitu Damy duduk dan memasang sabuk pengaman, Kevin meneliti adiknya lekat-lekat. Dia memegang dagu adiknya dan menoleh-nolehkan kepala Damy, mencari-cari sesuatu yang membuat hatinya tak tenang. Dia kenal adiknya. Yang duduk di kursi penumpang jelas Damian, meski wajahnya terlihat kebih konyol sepuluh kali lipat. Apa yang terjadi selama di sekolah? Apa pelajaran di sekolah sudah mulai tinggi tingkat kesulitannya? Haruskah dia memprotes sekolah karena adiknya pulang-pulang tidak bersemangat begini?
Setelah tak menemukan apa-apa, dia menempeleng sisi kepala Damy walau tidak terlalu keras. Tes terakhir.
Damy mengerjap. Dan tidak melakukan apa-apa.
Sekali lagi. Damy tidak melakukan apa-apa.
Padahal Kevin sudah mengangkat tangan, siap menangkis serangan balik si bungsu.
Kerutan di dahi Kevin semakin dalam. Gak biasanya.
“Hm, fix adek gue error,” Kevin menyimpulkan, kemudian mengambil kemudi. Isi kepalanya riuh. “Tapi kayaknya sih bisa betul sendiri nanti.” Semoga saja. Harapannya sih begitu. Adiknya tidak pernah terjebak dalam kegalauan remaja—atau sudah waktunya kah ini? Kevin tidak siap mendengar ada nama gadis keluar dari mulut adiknya. Dia membawa mobil keluar dari keramaian para penjemput. “Mampir dulu, yuk. Kemana gitu.”
Biarpun tangannya ringan sekali menempeleng kepala Damy barusan, Kevin masih punya rasa kasihan kepada si bungsu. Siapa tahu, adiknya memang butuh meluapkan emosi. Belakangan ini hidupnya susah. Malamnya mimpi buruk, siangnya berhadapan dengan hantu jahat dan kuat. Baru hari pertama sekolah dia sudah pingsan. Belum ditambah pelajaran sekolah yang tentu semakin tinggi tingkat kesulitannya. Belum kalau dia ada masalah dengan teman-teman seusianya. Pergaulan anak-anak zaman sekarang, jujur, agak mengerikan kalau Kevin membaca-baca di media sosial.
Rasa kasihannya hilang dalam sekejap ketika Damy bilang ingin mampir ke minimarket yang posisinya berlawanan dengan arah ke rumah. Meskipun sambil menggerundel, Kevin tetap menurut. Semua demi adiknya. Jangan ada yang bilang setelah ini kalau dia tidak sayang kepada Damian Anggaraksa Karangga, ya.
Di minimarket, Kevin membeli odeng untuk mereka berdua. Kevin duduk di meja yang tersedia di pelataran minimarket. Sedangkan adiknya menduduki odong-odong ulat yang bernyanyi “Dua mata saya… hidung saya satu…” Wajah kosong Damy menambah nilai pemandangan itu, sehingga Kevin mengeluarkan ponsel dan merekam. Papa dan Bang Grif harus banget lihat ini.
Rekaman video itu baru setengah jalan dia unggah ke layar percakapan dengan Bang Grif ketika kursi di seberang meja melesak. Damy duduk di atasnya, memilin jari di atas pangkuan. Wajahnya tidak lagi kosong, tetapi juga tidak melegakan hati Kevin.
“Udah?” Kevin meletakkan ponsel di meja dan menyeringai agar mendung kelam di hadapan cair.
Tidak ada reaksi dari adiknya.
Cih.
Kevin bersandar sepenuhnya ke kursi dan menyilangkan kaki, “Ada apa nih, adikku? Mau cerita sama Kakak?” Dia bukan Grif. Lembut dan perhatian bukan gayanya. Terus terang dan langsung masuk ke inti adalah jalan ninjanya.
Damy mengusap lengannya sendiri dan membungkuk lebih dalam. Entah konflik apa yang sedang dia hadapi diam-diam. Kevin memutuskan untuk menunggu sambil berdoa dalam hati. Jangan tentang cewek, jangan tentang cewek ....
Semenit berlalu penuh ketegangan. Damy akhirnya menegakkan punggung dan bertanya, lirih dan takut-takut. “Kakak pernah berantem sama hantu, kan?”
Bukan cewek. Hore! Kevin mengangkat alis, menjaga euforia tidak sampai merusak air mukanya. Dia memangku satu tangan di atas lutut. “Akhir-akhir ini sudah enggak. Malah kayaknya, kamu lebih sering daripada aku.” Dia memperhatikan adiknya lebih seksama, berharap pertanyaan yang akan dia ajukan tidak membuat Damy malah menutup diri. “Memang kenapa? Ada yang membuatmu penasaran?”
Yang dia kira kegalauan remaja biasa, rupanya lebih runyam.
Damy membuktikan dengan kalimatnya kemudian, “Aku ... sepertinya ... tidak sengaja ... umm ... itu—hantu.”
Kevin mengerjap. “Adek diganggu hantu?”
Damy mengangguk.
“Hantu yang dari kemarin mengganggu adek itu?”
Damy mengangguk lebih kuat dan menggigit bibir.