KARMIC

raresha
Chapter #12

Taring yang Bersarang dalam Rusuk—4

Di waktu-waktu seperti ini, Kevin merasa Griffith lebih menyayangi Damy daripada dirinya. Wajahnya gelap setibanya di rumah sakit, menyusul Kevin dan Damy. Lantai yang diinjaknya pun bakal gemetar melihat aura yang dipancarkan sulung keluarga Karangga itu. Kevin agak takut juga sebetulnya waktu dia harus berdiri dan menyambut kedatangan abangnya.

“Dimana Damy?” Langsung ke pertanyaan pamungkas.

Kevin menunjuk ranjang pasien yang tertutup tirai, beberapa meter di depannya. “Di sana, sedang diperiksa.”

Kalau Damy memar-memar saja begini responnya, bagaimana jika dia tahu apa yang terjadi sebenarnya?

Tanpa meminta penjelasan, Griffith berputar ke arah yang ditunjuk Kevin dan bergegas. Kevin mengikuti di belakang. Griffith menyibak tirai lebar-lebar, menampakkan Damy yang tengah duduk di atas ranjang pasien, kakinya menggantung di tepi. Seorang dokter muda meletakkan stetoskop di dadanya. Keduanya menoleh bersamaan ke arah Griffith. Damy, seluruh kancing kemejanya terbuka, tercengang. Dokter muda di sebelahnya bengong. Griffith meletakkan tangan di bahu Damy, mengamati pola memar yang membentang di dada Damy, kemudian menghadapi dokter di sebelahnya.

“Adik saya bagaimana, Dok?”

Sepuluh menit setelahnya, Griffith bersikap ketus kepada dokter yang terbata-bata menjawab pertanyaannya. Dia juga mengomeli Kevin karena tidak peka dengan keadaan adiknya. Kevin hanya bisa menunduk dan mengakui kesalahan. Damy sendiri tampak seperti anak kecil tersesat.

“Da-dari pemeriksaan sekilas, tidak ada tanda-tanda kegawatdaruratan,” dokter muda itu menyimpulkan, gugup, pada Griffith dari balik meja. Griffith baru saja memarahinya gara-gara sempat menggunakan kata “alasan estetika” pada adiknya. “Tapi kalau Bapak khawatir, kami menyarankan pemeriksaan lewat rontgen.”

Griffith mengetukkan jari di atas lengannya yang tersilang di depan dada. “Ya, secepatnya ya, Dok.” Sepanjang waktu memberikan tatapan tak sabar pada dokter malang itu.

Kevin cuma bisa pasrah, sambil menonton adiknya terkatung-katung mengikuti kemauan kakak mereka. Kevin bahkan tidak berani meninggalkan lokasi meskipun hanya untuk ke toilet. Tatapan Griffith setiap kali dia memberikan instruksi pada Kevin terssa menyengat sekaligus membekukan.

Mereka berada di rumah sakit sampai pukul sebelas malam. Hanya agar Damy bisa di-rontgen dan mendengar hasilnya bahwa dia memang baik-baik saja. Tidak ada bekas kekerasan selain dari memarnya—memang hanya perkara estetika. Mereka pulang dalam keadaan lelah bertumpuk stres. Damy memilih ikut mobil Griffith dan tertidur sepanjang perjalanan.

Kelegaan membanjir begitu Kevin melewati ambang pintu rumah. Dia membantu Griffith melepaskan sepatu Damy—yang masih pulas tertidur di punggung Griffith.

“Badannya agak hangat,” ungkap Griffith, menunggu Kevin melepaskan sepatu Damy yang tersisa.

“Yakin gak apa-apa kita bawa dia pulang?” tanya Kevin, menjaga pintu terbuka agak lebih lama.

“Tidak apa-apa. Ada aku,” kata Griffith, dan Kevin menutup pintu. Demam adalah efek yang umum dirasakan usai interaksi dengan hantu. Atau, penggunaan tenaga dalam—Prana—terlalu besar. Sejak kecil, Damy sering mengalami demam karena sebab yang pertama maupun kedua. Griffith yang selalu membantu. Entah menetralkan energi Damy akibat interaksi atau—kalau karena sebab yang kedua—sekadar menemani.

“Memarnya itu—dari hantu yang mengikuti temannya terus,” kata Kevin, kemudian. “Tapi Damy sudah meleburnya.”

Tatapan Griffith mengeras, tetapi bukan ke arah Kevin. Bersama, mereka mendaki tangga menuju lantai dua. Kevin selangkah di belakang, menjaga kedua saudaranya. “Tidak bisa disimpulkan secepat itu,” kata Griffith.

“Makhluk seperti mereka punya seribu cara untuk mengelabui kita—aku sudah bilang begitu ke Damy,” kata Kevin, melewati anak tangga terakhir dan mengikuti kedua saudaranya ke kamar si bungsu. Pintu paling jauh dari tangga.

“Dia cukup licik menunggu kita tidak ada, baru mencelakai Damy,” imbuh Griffith, menunggu di depan pintu sementara Kevin memutar kenop dari samping. “Kalau besok dia masih berani muncul—”

“—akan kuhabisi,” pungkas Kevin.

Mereka berdua menurunkan Damy hati-hati di atas ranjang. Griffith membujuk adiknya agar bangun sebentar. “Mandi, ganti pakaian, baru tidur lagi,” katanya dengan kelembutan yang hanya dia simpan untuk si bungsu. Untuk Kevin? Boro-boro.

***

Pukul satu pagi, Griffith masih terjaga di ruang depan, ditemani segelas susu hangat. Lampu-lampu sudah diredupkan. Menyisakan cahaya paling terang dari tablet di pangkuan. Setelah mengurusi adik kecil mereka, kini saatnya menyentuh pekerjaan. Sedikit saja, sebelum tidur. Namun, pikirannya terbagi.

Wajahnya serius.

Sesosok bayangan muncul dari bagian tengah rumah, menampakkan diri sebagai putera kedua keluarga Karangga. Dia duduk di seberang. Rautnya sama serius.

“Damy?” tanya si sulung.

“Tidur seperti bayi,” jawab Kevin, mengacungkan dua ibu jari. “Demamnya sudah turun.”

Keduanya bertemu pandang sesaat, kemudian Griffith menghela napas. “Kakak minta maaf—” katanya kemudian, memijit pelipisnya, “—Kakak tidak marah kepadamu.”

“Gak apa-apa, aku memang pantas dimarahi,” sambut Kevin, seraya menenggelamkan diri lebih jauh ke dalam sofa. “Mulai hari ini aku akan lebih cermat menjaga Damy.”

Griffith mengangguk. “Kakak juga.” Saking wajarnya adik mereka itu berinteraksi dengan makhluk alam lain, Griffith pun terlena. Dia mengira hantu yang ditemui adiknya setiap hari di sekolah itu bakal menurut dengan gertakan—sebagaimana hantu-hantu lain selama ini. “Hantu serigala ini—apa kata Damy?”

Lihat selengkapnya