KARMIC

raresha
Chapter #13

Interlude: Kehidupan yang Seharusnya

Hari itu untuk pertama kalinya, sekolah berlalu tanpa drama. Benar-benar hanya belajar dan bercanda dengan teman-teman. Dan juga, kelas mulai terlihat ramai dengan kemunculan entitas-entitas “lain”. Mereka berseliweran, terkadang hanya diam, atau muncul tiba-tiba. Bukan untuk mengagetkan, tapi memang kebiasaan mereka begitu.

Seperti sosok perempuan yang berpakaian seperti siswi sekolah. Ternyata dia memang suka menduduki kursi-kursi kosong. Tapi kalau empunya sudah datang, dia pergi dan mematung di sudut belakang kelas. Biasanya di belakang kursi Arsa. Rambutnya selalu menjuntai menutupi wajahnya.

Ada juga di koridor sekolah. Anak-anak kecil berkejaran. Mereka tidak hanya berlari di lantai, tapi juga di dinding, sampai langit-langit.

Yang paling kocak itu si gendut di dekat toilet sekolah. Damy tak pernah melihat wujud utuhnya. Dia memasukkan setengah badannya di bekas toilet yang sudah rusak. Hanya bagian bokongnya yang tampak di luar. Kalau dari posisinya, terlihatnya sih seperti sedang rebahan telungkup. Nah, Pak Kebon suka lewat sambil mendorong troli berisikan peralatan kebersihan. Trolinya terus-terusan menabrak bokongnya yang bulat dan besar. Efeknya, roda troli sering berbelok sendiri. Tapi ya mungkin hanya dikira efek kurang pelumas, jadi kejadian begitu terulang terus berkali-kali tanpa ada yang pernah merasa aneh.

Waktu istirahat pagi, Damy duduk di kursi Bintang. Melipat tangan dan menopang dagu, dia tertawa-tawa sendiri melihat kakak kelas berlatih bulu tangkis di lapangan. Ada makhluk kecil putih tersangkut di koknya, dan dia terpantul-pantul pasrah.

Beginilah seharusnya sekolah. Penuh dengan kehidupan.

Maksudnya tentu, “kehidupan”.

Selama ini mereka hilang karena sembunyi dari si Anjing yang mengikuti Arsa.

“Ngetawain apa si Sinting?” Bintang bersuara dari atas kepala Damy.

Damy buru-buru merapatkan mulutnya lagi. Teman-temannya tidak bisa Melihat apa yang bisa dia Lihat. Dia sering kelepasan kalau memang terlihat sesuatu.

“Liatin pohon,” jawab Damy asal, meski jantungnya berdegup agak kencang.

Bintang menyebutnya “sinting”. Apakah Bintang akan menganggapnya begitu kalau tahu apa yang sesungguhnya Damy lihat?

Ketiga temannya menoleh ke arah pohon tabebuya di halaman sekolah. Satu dari dua pohon besar di halaman tengah sekolah. Pohon itu anggun berdirinya, menghujani murid-murid yang berlarian di bawahnya dengan dedaunan dan kelopak bunganya.

“Ah aneh lo, Dam,” gerutu Bintang.

Damy mengangkat bahu. Lagi.

“Udah pada kerjain PR belum?” celetuk Mada.

“Sudaaah,” sambut Damy dan Arsa bersamaan. Membuat keduanya menoleh. Arsa tersenyum, sementara alis Damy menukik.

“GUE BELUM!” seru Bintang, lalu gelagapan mencari-cari bukunya.

Mada menggeleng.

“Hari ini cerah, ya,” kata Mada.

Damy tidak menyangkal. Hari ini memang terasa sangat ringan, dibanding hari-hari yang biasanya dia pakai untuk berseteru dengan setan anjing biadab tak masuk logika. Beginilah harusnya awal masuk sekolah tuh. Santai, damai. Kecuali PR-PR yang mulai menggunung.

Lihat selengkapnya