Tuk.
Bunyi sesuatu dilempar mengenai lantai menghentikan langkah Mada. Segelas coklat panas di tangannya hampir tumpah karena gerakan tiba-tibanya itu. Dia menoleh, penasaran. Apa yang membuat bunyi seperti itu?
Langkah awalnya santai waktu dia menyusuri lorong dalam rumahnya. Santai berubah melambat, waspada saat ruang demi ruang yang dia longok ternyata kosong. Nihil aktivitas. Ruang terakhir yang dia intip adalah ruang belajar ayahnya. Buku-buku memenuhi dinding sampai langit-langit. Ada tangga kurus yang bersandar di dinding—biasa digunakan Ayah untuk menyortir buku.
Tidak ada siapa-siapa di sana. Buku-buku juga tersimpan rapi pada tempatnya. Tidak ada yang berjatuhan ke lantai atau apapun.
Hm? Aneh.
Tumitnya berputar. Dia hendak kembali ke kamar ketika sosok seorang wanita berdiri tepat di hadapannya, memblokir jalannya. Saking kagetnya, sebagian coklat panasnya tumpah, menodai karpet lantai.
Tangan Mada reflek mencengkeram kemeja di depan dadanya.
“Astaga! Bunda!”
Wanita itu terkikik, geli. Namun sesuatu dari kikik tawanya terasa ganjil. Suara tawa Bunda tidak seperti itu.
“Eh?” Mada meneliti lagi. Jantungnya masih berdebar. “Siapa ... kamu?”
Wanita yang mirip Bunda itu melangkah ke dalam, tangannya bersilang di belakang punggung. Rambut hitamnya tergerai lembut sampai pinggang. “Aku? Aku selalu di sini.”
Maksudnya? Ayah mengizinkannya masuk, begitu? Tidak masuk akal.
“Ngapain di sini? Ini bukan rumahmu,” tukas Mada. Tidak peduli lagi pada cokelat hangat di tangannya.
Wanita itu terkikik lagi. Bibirnya merekah lebar—terlalu lebar—sehingga sudut-sudutnya hampir sampai ke mata. “Loh, tapi aku sudah lama di sini,” katanya. “Aku tahu kamu pernah kepentok meja itu waktu kamu kecil.” Wanita itu menunjuk meja kerja Ayah. “Aku juga tahu buku-buku mana yang selalu disentuh ayahmu. Ayahmu suka mengerjakan teka-teki silang di buku itu. Aku juga tahu kamu pernah mencoret-coret buku ayahmu yang mana saja. Tapi aku gak pernah mengadu lho.”
Muka Mada merah waktu masa kecilnya disebut. Siapa wanita itu? Kalau dia tahu masa kecilnya, apakah dia kerabat Bunda? Tapi kok dia tidak dengar ada saudara Bunda main ke rumah?
“Kamu saudara Bunda?”
Wanita itu menelengkan kepala. Matanya terkesan menikmati ketidaktahuan Mada. “Aku selalu di sini kok.”
“Mada? Tolong bantu Bunda, Nak. Bunda minta tolong masukkan benang ke jarum—ngapain kamu di situ?” Suara Bunda menggaung di lorong dan terhenti di pintu ruang belajar Ayah.
“Ah—” Mulutnya mendadak kering. Mada ingin bilang dia sedang berbicara dengan seseorang, yang mirip sekali dengan Bunda. Barangkali Bunda kenal. Namun sosok yang dia maksud itu lenyap.
Mada mencari-cari ke setiap sudut dan lekukan di ruangan itu.
Nihil. Tak ada bekas keberadaan siapapun selain dirinya.
“Aduh, Mada, cepat ambil vacuum cleaner Bunda di bawah,” Bunda menemukan bukti kecerobohan Mada di dekat kakinya, “Kalau segera dibersihkan, karpetnya masih bisa diselamatkan!”
Tidak sempat mencerna lebih jauh kejadian barusan, Mada menurut. Sekonyong-koyong, rumah mereka yang semula tenang jadi berisik sedikit karena derum vacuum cleaner Bunda.
Setelah huru-hara itu, Bunda menyeka keringat di dahi. Lalu memandang anaknya yang masih mematung di sebelahnya. Bunda menepuk pahanya sampai Mada terlonjak. “Melamun saja anak Bunda!”
Mada menggaruk kepalanya, kikuk.
“Tadi Mada ngapain?”
“Oh! Bunda tahu, tadi ada orang masuk ke sini!” Akhirnya dia punya kesempatan bercerita.
“Masa?” Kepanikan Mada tertular ke bundanya. “Apa Bunda lupa mengunci pintu depan? Tapi perasaan sudah. Orangnya ngapain? Dimana dia sekarang? Apa kita panggil sekuriti?”
Mada menoleh ke tempat terakhir dia melihat wanita itu. “Tadi sih di sini, Bunda. Perempuan. Mukanya mirip Bunda. Mada kira tadi Bunda.”