Libur tengah semester tidak panjang. Jadi keluarga Karangga menjalankan rencana liburan mereka di dalam kota saja. Kak Grif memilih satu di antara hotel yang dia kelola bersama ayahnya, yang dekat dengan alam pegunungan. Hotel mereka bahkan punya fasilitas air panas dari mata air alami.
Setelah kejadian demi kejadian beberapa bulan yang lalu, pemandian air panas adalah pilihan tepat.
Damy mengapung di permukaan kolam, memandangi taburan bintang di langit. Kak Grif di sisinya. Air mencapai dadanya. Dalam balutan kehangatan air, Damy merasakan sensasi listrik lemah, menjalar dari rusuk kirinya hingga ke ketiak.
“Sedikit lagi,” kata Kak Grif, di samping telinganya. “Jangan melamun dulu.”
Damy mengabaikan kekeh tawa Kak Kev di sisi lain kolam dan mengatur napas. Kalau dia memejamkan mata, dia dapat melihat bias keperakan bertahan di sisi kiri tubuhnya. Di tempat Kak Grif berada. Satu tangan menjadi bantal bagi Damy, agar kepalanya terjaga di atas permukaan air. Tangan lainnya mengambang beberapa senti di sisi rusuk kiri Damy, membelah warna air yang kebiruan dengan cahaya perak.
Cahaya perak itu merambat seperti benang-benang halus dari pusat telapak tangan Kak Grif ke dada Damy. Membentuk pola yang terlihatnya seperti akar, karena cahaya itu berjalan bersama aliran darah Damy. Hampir seluruh dadanya terselubungi cahaya, hingga separuh punggung.
“Sebelah mana yang paling terasa?” tanya Kak Grif.
Damy mengarahkan ke titik di bawah jantungnya, sedikit di atas lambung. Ketika Kak Grif membawa energi peraknya ke sana, Damy menarik napas tajam. Ketika taring si Anjing pertama kali menancap di antara rusuknya, Damy sama sekali tak merasa sakit. Memarnya sudah lama hilang. Sebelum ini pun dia tidak merasa ada yang salah dengan tubuhnya. Hanya saja, di waktu-waktu tertentu—seperti saat dia terlalu banyak aktivitas hari itu, rusuknya sering tiba-tiba nyeri. Tidak parah, namun cukup membatasi gerakannya.
Kata Kak Grif, memang begitu. Tidak terasa apa-apa, tidak selalu berarti tubuhnya baik-baik saja. Serangan terakhir si Anjing cukup parah. Tidak mungkin tidak menyisakan efek. Kak Grif mengundang Damy ke sesi penyembuhan ini karena “tidak ingin ada efek yang berkepanjangan” setelah kejadian di kantin sekolah.
Damy mengernyit. Energi keperakan Kak Grif, yang biasanya sehangat pelukan, menyerang tubuhnya seperti sengatan sekawanan lebah. Sensasi itu mengejutkan, sehingga dia hampir tenggelam. Lengan Kak Grif di bawah kepalanya berjaga. Tak lama, sengatan itu menajam. Sekadar bernapas pun sulit baginya.
“Tunggu, Kak,” engah Damy dan menurunkan kaki. Dia mencengkeram siku Kak Grif dan bersandar ke lengannya, sambil menunggu rasa sakit tidak lagi menggedor-gedor rusuk. Pandangannya menggelap. “Aku ... gak bisa ....”
“Mau dibantu?” Air di sisi kanan Damy terusik. Dia mengangkat kepala dan melihat Kak Kev mendekat.
“Gimana, Dek?” tanya Kak Grif.
Damy meraup beberapa napas. Bakal sakit, nih. Dia membulatkan tekad, lalu mengangguk.
Dengan itu, Kak Kev memposisikan diri di belakang Damy. Kedua tangan menyangga bahu Damy, sementara Damy berdiri. Kak Grif berpindah ke sisi agak di depan Damy.
“Jangan tendang Kakak, ya,” kata Kak Grif, setengah bercanda.
Damy merengut, tetapi tak bertahan lama. Kak Grif segera memulai kembali sesi penyembuhan. Damy mengeratkan rahang saat energi Kak Grif menyengat, sekaligus membakarnya. Aliran energi Kak Grif menjelajahi tubuh Damy dari telapak tangan yang menempel di rusuknya. Seperti cahaya matahari memakan bayang-bayang yang ditinggalkan malam. Garis-garis serupa akar kembali terbentuk, memanjang dan berkelok-kelok di dada, sampai ke punggung Damy. Ketika cahaya itu berkumpul di titik yang paling menyakitkan, Damy hampir saja kolaps, kalau saja Kak Kev tidak menahannya dari belakang. Rasanya seperti bagian tubuhnya yang rusak dikuliti dan jaringan-jaringan baru, yang masih sensitif, tumbuh. Sel-sel rusak di tubuhnya memberontak, enggan diusir. Dan sel-sel baru dan sehat menggali jalan keluar dengan cakar-cakar yang tajam. Singkatnya, perih sekaligus panas.
Tak sampai sepuluh menit, sengatan itu berkurang. Pelan-pelan, berubah menjadi semburan hangat yang berdenyut—sentuhan energi Kak Grif yang selama ini diingatnya.
Di ujung sesi penyembuhan itu, mereka senua berkeringat. Damy hampir pingsan saking lemasnya. Dibantu Kak Kev, dia merayap keluar dari kolam dan berbaring sejenak di kursi malas. Kak Grif kembali dengan handuk basah—yang dia lipat dan letakkan di atas dahi Damy—dan sebotol minuman pengganti ion tubuh.
“Bagaimana rasanya sekarang?” tanya Kak Grif, yang berjongkok di sebelah Damy.
Kesejukan handuk di atas matanya hampir membuat Damy terlena. Secara insting, tangannya menekan sisi tubuhnya yang baru saja melewati pengalaman luar biasa itu. Napasnya sudah jauh lebih lega sekarang. “Lebih baik.”
“Baguslah.” Kak Grif mengacak rambutnya yang masih basah, lalu berdiri. “Tiduran saja sampai kamu merasa sudah kuat. Atau mau Kakak bantu pindah ke kamar?”
“Mau Kakak gendong?” Kak Kev menyeringai dari tepian kolam. Tangannya terentang ke arah Damy.
Di depan semua orang? “Gak,” sahut Damy, mengerucutkan bibir. Pipinya memerah. Kalau di rumah, tentu dia mau-mau saja. Namun di tempat umum, meski di hotel ayahnya sendiri, tentu Damy masih punya rasa malu. “Aku mau istirahat di sini saja.”
Kak Kev terbahak, sementara Kak Grif mengambil handuk miliknya sendiri yang tergeletak di suatu tempat di dekat Damy. “Baiklah. Panggil Kakak kalau ada apa-apa, ya.”
“Terima kasih, Kak,” kata Damy.
Ketiga saudara itu pun menjalani kesibukan yang berbeda. Damy berbaring sambil mengumpulkan kekuatan. Kak Grif di ruangan lain, membersihkan diri. Dan Kak Kev berenang-renang dengan kepala tetap di atas permukaan air, sampai seluruh tubuhnya menyerupai kepiting rebus.
Ketika kakinya sudah kuat, Damy meninggalkan pemandian. Sedikit goyah di langkah pertamanya.
“Yakin, mau jalan sendiri?” Kak Kev merangkulnya tiba-tiba. Membasahi sebagian tubuh Damy dengan air yang masih menetes-netes, belum dikeringkan.