Tiga bulan berlalu dan hidup Arsa tak pernah semudah ini.
Arsa keluar dari lab komputer paling akhir. Hari ini, dia piket sebagai wakil ketua eskul programming kelas X. Dengan mengantongi kunci lab, kakinya melangkah ringan ke ruang TU—tempat semua kunci di sekolah itu disimpan. Saat melewati halaman tengah sekolah, langkahnya terhenti.
Jauh di halaman sana, sebuah pemandangan sudah menunggu. Tak mungkin mampu dia lupakan seumur hidupnya.
Ada sebuah pohon tabebuya tua di halaman tengah sekolah mereka. Yang paling tua dari pepohonan lain di sana. Pohon itu berbunga merah muda. Saat itu memang sedang mekar-mekarnya tabebuya. Sekolah diselimuti permadani merah muda dan kuning. Namun yang paling menyita perhatian adalah sesosok anak laki-laki, yang berdiri di depan pohon tua itu.
Sosok yang amat dia kenal—Mian.
Anak itu jangkung, kurus, tasnya diselempangkan hanya di bahu kiri. Dia duduk di pagar pernanen yang melingkari batang pohon tabebuya. Kepala tertunduk, bahu menegang sampai nyaris menjepit telinga. Dia membungkuk dan memeluk tubuhnya sendiri. Napasnya kembang kempis, sehingga dari kejauhan pun Arsa menyadari—ada yang salah dengannya. Apakah Mian menangis? Atau, apakah dia sakit perut?
Pemandangan itu begitu menghianati sosok Mian yang selama ini Arsa kenal, sehingga Arsa tidak langsung yakin dengan apa yang dia lihat. Seingatnya, selama seharian ini, Mian tidak menampakkan gejala sakit sama sekali. Dia ceria, banyak tertawa dengan Bintang.
“Mi—” Arsa melangkah, saat Mian meletakkan satu tangan ke sisi dan membungkuk lebih dalam. Mencengkeram sisi tubuhnya lebih erat.
Namun, langkahnya terhenti. Kekuatannya untuk bicara raib. Angin yang sangat besar dan kuat tiba-tiba menghantamnya. Mengirimkan kelompak-kelopak bunga yang menutupi pandangannya. Dia berniat berjalan maju, namun kakinya seperti tertahan oleh sesuatu.
Apa ini? Kenapa aneh begini?
Sepintas, dari balik kelopak bunga tabebuya yang beterbangan, Arsa menangkap bayangan Mian menoleh ke arahnya dan berteriak, “Tunggu—jangan!” Sosok jangkungnya berdiri, sambil menenteng tas. Satu tangannya terentang ke depan. Namun hanya beberapa detik setelahnya, Mian berjalan mundur dan berputar.
Hal terakhir yang terpatri dalam ingatan Arsa adalah tatapan Mian, sebelum lebih banyak kelopak bunga tabebuya menghambur ke wajahnya.
Angin melembut tak lama kemudian. Ketika pandangan Arsa lega kembali, Mian sudah tidak di sana. Kakinya pun bebas, tidak lagi berat.
Arsa mengerutkan dahi. Logikanya tak mampu mencerna apa yang baru saja terjadi. Apa yang dilakukan Mian? Mengapa dia di sini sendiri?
Kepada siapa Mian bicara? Apakah kepadanya?
Namun kenapa Mian terlihat ... seolah sesuatu yang buruk akan terjadi kepadanya?
Apa yang dia lihat sejatinya?
Apakah Mian menyembunyikan sesuatu darinya? Apakah Bintang dan Mada juga tidak tahu? Semakin merenung, semakin banyak pertanyaan tak terjawab.